Tak Ada Waktu Membicarakan Rindu 2
Waktu terus berdetak. Detik demi detik. Memercik. Dikekang rindu. Ini diri berhias rias duri (rindu). Bayangmu masih indah, singgah menghuni dada. Sementara retina tak berhasil menangkap wujudmu yang nyata.
Maya, hanya maya. Berjalan terus melangkah, menengok seonggok kenangan butir rindu, yang sempat terperegok. "aku sedang Rindu!" . Apa yang hendak ku kata? Semantara kau jauh, tak mungkin ini kau dengar. Bisik suara kalbu.
Tak ada waktu yang bicara mengenai rindu.
Tak ada waktu untuk rindu mencari titik temu.
Kuda besi jadi saksi. Pernah kita melaju. Menuju satu tujuan sama. Hanya jadi cerita yang diucapkan pena.
......
Aku dan kau. Yang kini tinggal bersama dalam rumah puisi.
Dan puisi ini sajak-sajaknya berbicara tentang sejarah yang telah reda. Di sapu hujan. Hanyut. Menggelayut. Dendam rindu terbawa arus. Masuk dalam larik sajak ini.
Tak seindah karya para pujangga yang telah bertahta. Tapi puisiku, dari ucapan rasa. Lalu bermetamorfosis menjadi kata-kata. Lalu pena menguangkan kata-kata itu, agar bisa kau baca. Meski berpisah.
Puisi ini adalah wakil dari untaian rindu, dari mulutku yang tak sampai menuju telingamu.
........
Tuban, 2019
Y R S
Waktu terus berdetak. Detik demi detik. Memercik. Dikekang rindu. Ini diri berhias rias duri (rindu). Bayangmu masih indah, singgah menghuni dada. Sementara retina tak berhasil menangkap wujudmu yang nyata.
Maya, hanya maya. Berjalan terus melangkah, menengok seonggok kenangan butir rindu, yang sempat terperegok. "aku sedang Rindu!" . Apa yang hendak ku kata? Semantara kau jauh, tak mungkin ini kau dengar. Bisik suara kalbu.
Tak ada waktu yang bicara mengenai rindu.
Tak ada waktu untuk rindu mencari titik temu.
Kuda besi jadi saksi. Pernah kita melaju. Menuju satu tujuan sama. Hanya jadi cerita yang diucapkan pena.
......
Aku dan kau. Yang kini tinggal bersama dalam rumah puisi.
Dan puisi ini sajak-sajaknya berbicara tentang sejarah yang telah reda. Di sapu hujan. Hanyut. Menggelayut. Dendam rindu terbawa arus. Masuk dalam larik sajak ini.
Tak seindah karya para pujangga yang telah bertahta. Tapi puisiku, dari ucapan rasa. Lalu bermetamorfosis menjadi kata-kata. Lalu pena menguangkan kata-kata itu, agar bisa kau baca. Meski berpisah.
Puisi ini adalah wakil dari untaian rindu, dari mulutku yang tak sampai menuju telingamu.
........
Tuban, 2019
Y R S
Masih tentang rindu yang tak kunjung temu
BalasHapusRindunya masih panjang kok. Dan jalannya masih berliku... Hehehe
Hapussemoga rinda segera berlabuh..
BalasHapustanpa harus berlama-lama mengapung...
mantap bang
Pilu kalau bicara tentang rindu
BalasHapusNikmat memang meneguk secangkir rindu 😢
BalasHapusSecangkir rindu yang di suguhkan dihadapan puisi. Hehehe
HapusNikmat memang meneguk secangkir rindu 😢
BalasHapusMerindu takkan berakhir hingga pertemuan😔
BalasHapusDuuh..yang sedang merindu...
BalasHapus😂💪lekas2lah bertemu
BalasHapusRindu ini terasa indahnya, andai kau adaaa di sinii...
BalasHapusBersamaku, berbagi rasa...
Ini kan lagunya Warna kak, judulnya rindu ini 😅
Hapus