Rabu, 09 Oktober 2019

Eurifaessa

Eurifaessa

Di pandang mentari pagi; Menendang mataku
Di paksa terbuka. Sebelum mengerlip; —
Aku masih asik! Nikmati alam; serasa malam.

Embun pagi yang melambai; Terberai begitu santun
Setekun udara. Yang berhimpun; —
membentuk debus angin; Berhembus di angan.

Kau tiba! Rongga muka mengecup dengan mesra
Meletup membentuk lingkar ujar; —
Cinta kita di hari tua; semoga tuba tak pernah tiba.

Mentari senja kini depan mata; masih adakah cinta?
Di tengah sinar temaram bergelut; —
Senda; yang tak ingin menjadi sendu.

Kita: sepasang rindu yang setia menyusuri waktu.
Bersama waktu terus melaju. Menuju; —
Haribaa'an hangat. Yang melekat seluruh badan.

Semoga itu selalu ku ingat; 
tentangmu; tentang kisah kita.

---
Tuban,2019
Yogi Riyansyah

9 komentar:

  1. Balasan
    1. Kemaren sampian bikin puisi hujan ya uabstrak banget gitu kok mbak

      Hapus
  2. MantullπŸ‘πŸ˜†

    Tunggu Duryudana-nya, ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukannya sampian to kak. Yang mau buat tentang Duryudana. πŸ˜‚

      Hapus
  3. asikk diksi dan penggunaan titi mangsanya. Kalau udah diguyur intonasi, pecah deh.

    BalasHapus
  4. Gimana bisa nulis kya gitu πŸ˜πŸ–’

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nulis tinggal nulis kak. Apanya yang susah?? 😁

      Hapus