Bab 3
Kenalkan Diriku
Kejadian kemarin saat Arif pulang dengan kondisi mabuk memang menjadi tamparan keras bagi rumah tangga Arif dan Sundari. Mereka memang sudah lama membangun maligai rumah tangga. Tetapi sifat masa lalu Arif semasa ia muda tetap saja melekat. Meskipun Lastri, anak mereka sudah berusia 13 tahun pasangan ini masih saja berusia muda. Maklum saja Arif menikahi Sundari saat itu masih berusia 20 tahun. Sedangkan Sundari berusia 18 tahun yang baru saja lulus dari bangku sekolah menengah atas.
Mereka menikah lantaran kondisi lingkungan di desa Arif dan Sundari tinggal, banyak remaja yang sudah pada menikah. Pendidikan bagi masyarakat di desa mereka memang tidak begitu dipentingkan alias dikesampingkan. Banyak anak tamat sekolah sampai smp saja. Bahkan banyak juga hanya sampai di bangku sekolah dasar. Begitu pun dengan Arif yang berpendidikan hanya sampai di bangku sekolah menengah pertama saja. Setelah diusia 15 tahun memutuskan untuk putus sekolah, Arif mulai bekerja layaknya orang-orang di desa dengan mencari ikan.
Perjalanan Arif selama 5 tahun usai putus sekolah dan sebelum ia menikah ini yang menyebabkan sikap Arif berubah pesat. Di usia yang bisa dikatakan masih belia dirinya sudah memegang banyak uang dari hasil kerjanya. Karena melihat para nelayan di desanya yang sering mabuk-mabukan usia melaut, bocah tamatan smp ini akhirnya terbawa oleh faktor lingkungan.
Hal ini cukup disayangkan, padahal masa kecil Arif ketika masih sekolah dikenal dengan pribadi pendiam, tidak banyak tingkah dan dikenal sebagai remaja yang taat terhadap agamanya. Hal ini dibuktikan dengan masuknya Arif di organisasi Remas di salah satu Masjid desa pesisir itu.
Namun sikap Arif masa remaja berubah saat dirinya kelas 2 smp. Dimana kedua orang tuanya secara bersamaan memutuskan pergi ke Negeri Jiran demi mencari kehidupan yang lebih layak. Arif yang kala itu di titipkan ke pamannya, hal ini ya memicu Arif berubah seperti orang-orang di desa pada umumnya.
Sementara Sundari istrinya, jatuh cinta pada Arif sejak ia masih kecil. Saat Arif masih jadi anak pendiam, perubahan pada diri Arif tak meredupkan benih-benih cinta Sundari. Mereka adalah teman masa kecil juga teman sekaligus pendamping hidup.
Kondisi lingkungan di desa pesisir tempat tinggal mereka memang seperti itu. Masih kental dengan tradisi anak putus sekolah di usia muda, setelah putus sekolah mereka memilih bekerja menjadi nelayan. Dan di usia muda banyak anak yang baru memasuki kepala dua bahkan masih belasan tahun sudah menikah.
Kondisi ini yang melatar belakangi orang-orang di desa pesisir itu jadi suka mabuk-mabukan. Di tambah lagi kegiatan keagamaan di desa itu cukup minim. Tempat peribadatan seperti musala biasanya hanya ramai di waktu malam saja, itu pun yang memadati adalah anak-anak dan para remaja desa yang masih sekolah, siangnya mereka pasti tidak ikut salah jamaah di musala karena masih dalam waktu pembelajaran di sekolah. Sementara para orang dewasa siangnya pada sibuk dengan aktivisnya di laut. Di Masjid pun juga sama, tetapi kondisi Masjid desa pesisir itu bila hari jumat tiba terlihat ramai penuh sesak saat akan menggelar salat jumat. Hari jumat merupakan hari libur untuk para nelayan di desa.
Di hari jumat ini seakan menjadi nilai plus untuk desa itu. Selain kegiatan melaut para nelayan libur, warung-warung yang berjualan minuman keras juga ikut tutup bila hari jumat tiba. Meski hanya tutup sepanjang pagi hingga sore saja. Hal ini juga sudah menjadi tradisi secara turun temurun untuk masyarakat desa pesisir.
Meskipun kondisi di desa pesisir itu bisa dikata punya kebiasaan yang kurang baik. Tetapi hal ini sama sekali tidak memancing Andre untuk ikut terbawa arus kondisi desa.
Andre adalah anak yang ramah dengan tetangga rumah dan masyarakat desa. Selain itu ia juga adalah anak yang pintar saat masih sekolah. Terbukti dengan torehannya di sekolah cukup berkesan dengan sering menjadi jawara rangking satu di kelasnya.
Menjadi seorang nelayan memang bukan cita-cita Andre dari kecil. Meskipun kini ia menjadi juragan yang mengelola perahu miliknya sendiri untuk berlayar. Tetapi pilihan itu seakan menjadi harga mati untuk Andre. Perahu itu adalah warisan dari almarhum ayahnya pergi menyusul almarhum ibunya, meninggalkan Andre beserta adiknya yang masih duduk di bangku smp. Saat itu Andre baru saja lulus dari sekolah menengah atas.
Andre yang saat itu menjadi tulang punggung keluarga untuk adiknya. Terpaksa harus mengubur dalam-dalam mimipinya yang ingin melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Ia ingin menjadi sarjana karena melihat pendidikan terakhir di desanya terbanyak hanya berhenti di sekolah menengah saja. Untuk lulusan sarjana sangatlah minim, bahkan bisa terhitung dengan jari jemari.
Selain ingin menambah lulusan sarjana di desanya, Andre juga berniat merubah tatanan sdm di desanya. Bagaimana caranya masyarakat desannya yang setiap siang atau sore punya kebiasaan mabuk-mabukan itu sirna. Hal itu menjadi penghias mimpi indahnya di masa depan.
Mimpi Andre menjadi sarjana telah tenggelam, alternatif Andre untuk mewujudkan hal itu tentu dilimpahkan kepada adik semata wayangnya untuk mewujudkan mimpi membawa desanya kearah yang lebih baik. Hasil melaut Andre sering kali ia alihkan untuk kebutuhan adiknya bersekolah. Ia mengesamping kebutuhan sampingannya sendiri.
Kalau waktu libur melaut Andre juga sering mengajak adiknya untuk ikut berdiskusi dengan para aktifis yang sering mengkritisi kondisi sosial. Hal ini ia lakukan agar adiknya mengerti akan kondisi desanya. Seperti kemarin saat ia libur melaut dan mengajak adiknya ikut grup diskusi yang ada di pusat kota. Meski jaraknya lumayan jauh dari desa tetapi hal ini bagi Andre sangat penting untuk menambah ilmu pengetahuan. Hitung-hitung setalah gagal jadi mahasiswa setidaknya Andre punya kawan berkumpul para mahasiswa yang hakikatnya para mahasiswa itu berperan sebagai Agent Of Change And Agent Sosial Control.
"Nak Andre...." Terdengar suara Mbok Darmi berdiri di depan pintu.
Andre yang mengetahui kedatangan wanita berusia senja itu langsung menghampirinya.
"Ada apa Mbok? Silakan duduk dahulu Mbok!" Tangan Andre menunjuk arah dua buah kursi yang terpampang di teras rumahnya.
Mbok Darmi yang persilakan Andre untuk duduk di kursi akhirnya duduk di kursi. Disusul dengan Andre yang duduk setelahnya.
"Kemarin Sundari istri Arif datang kemari. Saat kamu tidak di rumah."
"Iya Mbok, Sundari ada perlu apa datang kemari?"
"Mbok kurang paham nak, apa yang sebenarnya terjadi dengan Sundari dan suaminya. Yang jelas kemarin ia menangis datang kemari. Ia bilang suaminya habis mabuk. Kemarin kan kamu libur melaut."
"Si Arif... Perasaan kemarin itu Arif baru saja pinjam uang Mbok, katanya mau dibuat biaya Lastri anaknya yang baru mau masuk smp."
"Mbok tidak paham nak, apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas kemarinsetelah magrib Sundari berkata seperti itu. Dan ia pesan juga untuk Mbok agar hal itu sampaikan pada Nak Andre."
"Ohh ya sudah kalo gitu Mbok, nanti si Arif biar Andre yang mengurusnya."
"Iya nak, cuma itu yang ingin Mbok sampaikan pada nak Andre. Mbok pamit dulu ya, mau pulang. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat nak Andre."
"Tidak mengapa kok Mbok. Terimaksih juga sudah menyampaikan pesan dari Sundari."
Mbok Darmi yang sudah kehabisan topik pembahasan dalam sesi bincangnya dengan Andre, akhirnya berdiri dari kursi dan perlahan berjalan menuju rumahnya yang memang bersebelahan dengan rumah Andre. Andre hanya menyambut dengan senyuman saat Mbok Darmi pamit kembali. Setelah Mbok Darmi kembali Andre juga masuk kedalam rumah untuk beristirahat.
Sesudahnya mengdengar kabar dari Mbok Darmi tentang Sundari yang kemarin datang kerumahnya. Malam itu di atas ranjang. Kepala Andre dihujani beragam pertanyaan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Arif? [.]
Kenalkan Diriku
Kejadian kemarin saat Arif pulang dengan kondisi mabuk memang menjadi tamparan keras bagi rumah tangga Arif dan Sundari. Mereka memang sudah lama membangun maligai rumah tangga. Tetapi sifat masa lalu Arif semasa ia muda tetap saja melekat. Meskipun Lastri, anak mereka sudah berusia 13 tahun pasangan ini masih saja berusia muda. Maklum saja Arif menikahi Sundari saat itu masih berusia 20 tahun. Sedangkan Sundari berusia 18 tahun yang baru saja lulus dari bangku sekolah menengah atas.
Mereka menikah lantaran kondisi lingkungan di desa Arif dan Sundari tinggal, banyak remaja yang sudah pada menikah. Pendidikan bagi masyarakat di desa mereka memang tidak begitu dipentingkan alias dikesampingkan. Banyak anak tamat sekolah sampai smp saja. Bahkan banyak juga hanya sampai di bangku sekolah dasar. Begitu pun dengan Arif yang berpendidikan hanya sampai di bangku sekolah menengah pertama saja. Setelah diusia 15 tahun memutuskan untuk putus sekolah, Arif mulai bekerja layaknya orang-orang di desa dengan mencari ikan.
Perjalanan Arif selama 5 tahun usai putus sekolah dan sebelum ia menikah ini yang menyebabkan sikap Arif berubah pesat. Di usia yang bisa dikatakan masih belia dirinya sudah memegang banyak uang dari hasil kerjanya. Karena melihat para nelayan di desanya yang sering mabuk-mabukan usia melaut, bocah tamatan smp ini akhirnya terbawa oleh faktor lingkungan.
Hal ini cukup disayangkan, padahal masa kecil Arif ketika masih sekolah dikenal dengan pribadi pendiam, tidak banyak tingkah dan dikenal sebagai remaja yang taat terhadap agamanya. Hal ini dibuktikan dengan masuknya Arif di organisasi Remas di salah satu Masjid desa pesisir itu.
Namun sikap Arif masa remaja berubah saat dirinya kelas 2 smp. Dimana kedua orang tuanya secara bersamaan memutuskan pergi ke Negeri Jiran demi mencari kehidupan yang lebih layak. Arif yang kala itu di titipkan ke pamannya, hal ini ya memicu Arif berubah seperti orang-orang di desa pada umumnya.
Sementara Sundari istrinya, jatuh cinta pada Arif sejak ia masih kecil. Saat Arif masih jadi anak pendiam, perubahan pada diri Arif tak meredupkan benih-benih cinta Sundari. Mereka adalah teman masa kecil juga teman sekaligus pendamping hidup.
Kondisi lingkungan di desa pesisir tempat tinggal mereka memang seperti itu. Masih kental dengan tradisi anak putus sekolah di usia muda, setelah putus sekolah mereka memilih bekerja menjadi nelayan. Dan di usia muda banyak anak yang baru memasuki kepala dua bahkan masih belasan tahun sudah menikah.
Kondisi ini yang melatar belakangi orang-orang di desa pesisir itu jadi suka mabuk-mabukan. Di tambah lagi kegiatan keagamaan di desa itu cukup minim. Tempat peribadatan seperti musala biasanya hanya ramai di waktu malam saja, itu pun yang memadati adalah anak-anak dan para remaja desa yang masih sekolah, siangnya mereka pasti tidak ikut salah jamaah di musala karena masih dalam waktu pembelajaran di sekolah. Sementara para orang dewasa siangnya pada sibuk dengan aktivisnya di laut. Di Masjid pun juga sama, tetapi kondisi Masjid desa pesisir itu bila hari jumat tiba terlihat ramai penuh sesak saat akan menggelar salat jumat. Hari jumat merupakan hari libur untuk para nelayan di desa.
Di hari jumat ini seakan menjadi nilai plus untuk desa itu. Selain kegiatan melaut para nelayan libur, warung-warung yang berjualan minuman keras juga ikut tutup bila hari jumat tiba. Meski hanya tutup sepanjang pagi hingga sore saja. Hal ini juga sudah menjadi tradisi secara turun temurun untuk masyarakat desa pesisir.
***
Meskipun kondisi di desa pesisir itu bisa dikata punya kebiasaan yang kurang baik. Tetapi hal ini sama sekali tidak memancing Andre untuk ikut terbawa arus kondisi desa.
Andre adalah anak yang ramah dengan tetangga rumah dan masyarakat desa. Selain itu ia juga adalah anak yang pintar saat masih sekolah. Terbukti dengan torehannya di sekolah cukup berkesan dengan sering menjadi jawara rangking satu di kelasnya.
Menjadi seorang nelayan memang bukan cita-cita Andre dari kecil. Meskipun kini ia menjadi juragan yang mengelola perahu miliknya sendiri untuk berlayar. Tetapi pilihan itu seakan menjadi harga mati untuk Andre. Perahu itu adalah warisan dari almarhum ayahnya pergi menyusul almarhum ibunya, meninggalkan Andre beserta adiknya yang masih duduk di bangku smp. Saat itu Andre baru saja lulus dari sekolah menengah atas.
Andre yang saat itu menjadi tulang punggung keluarga untuk adiknya. Terpaksa harus mengubur dalam-dalam mimipinya yang ingin melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Ia ingin menjadi sarjana karena melihat pendidikan terakhir di desanya terbanyak hanya berhenti di sekolah menengah saja. Untuk lulusan sarjana sangatlah minim, bahkan bisa terhitung dengan jari jemari.
Selain ingin menambah lulusan sarjana di desanya, Andre juga berniat merubah tatanan sdm di desanya. Bagaimana caranya masyarakat desannya yang setiap siang atau sore punya kebiasaan mabuk-mabukan itu sirna. Hal itu menjadi penghias mimpi indahnya di masa depan.
Mimpi Andre menjadi sarjana telah tenggelam, alternatif Andre untuk mewujudkan hal itu tentu dilimpahkan kepada adik semata wayangnya untuk mewujudkan mimpi membawa desanya kearah yang lebih baik. Hasil melaut Andre sering kali ia alihkan untuk kebutuhan adiknya bersekolah. Ia mengesamping kebutuhan sampingannya sendiri.
Kalau waktu libur melaut Andre juga sering mengajak adiknya untuk ikut berdiskusi dengan para aktifis yang sering mengkritisi kondisi sosial. Hal ini ia lakukan agar adiknya mengerti akan kondisi desanya. Seperti kemarin saat ia libur melaut dan mengajak adiknya ikut grup diskusi yang ada di pusat kota. Meski jaraknya lumayan jauh dari desa tetapi hal ini bagi Andre sangat penting untuk menambah ilmu pengetahuan. Hitung-hitung setalah gagal jadi mahasiswa setidaknya Andre punya kawan berkumpul para mahasiswa yang hakikatnya para mahasiswa itu berperan sebagai Agent Of Change And Agent Sosial Control.
***
"Nak Andre...." Terdengar suara Mbok Darmi berdiri di depan pintu.
Andre yang mengetahui kedatangan wanita berusia senja itu langsung menghampirinya.
"Ada apa Mbok? Silakan duduk dahulu Mbok!" Tangan Andre menunjuk arah dua buah kursi yang terpampang di teras rumahnya.
Mbok Darmi yang persilakan Andre untuk duduk di kursi akhirnya duduk di kursi. Disusul dengan Andre yang duduk setelahnya.
"Kemarin Sundari istri Arif datang kemari. Saat kamu tidak di rumah."
"Iya Mbok, Sundari ada perlu apa datang kemari?"
"Mbok kurang paham nak, apa yang sebenarnya terjadi dengan Sundari dan suaminya. Yang jelas kemarin ia menangis datang kemari. Ia bilang suaminya habis mabuk. Kemarin kan kamu libur melaut."
"Si Arif... Perasaan kemarin itu Arif baru saja pinjam uang Mbok, katanya mau dibuat biaya Lastri anaknya yang baru mau masuk smp."
"Mbok tidak paham nak, apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas kemarinsetelah magrib Sundari berkata seperti itu. Dan ia pesan juga untuk Mbok agar hal itu sampaikan pada Nak Andre."
"Ohh ya sudah kalo gitu Mbok, nanti si Arif biar Andre yang mengurusnya."
"Iya nak, cuma itu yang ingin Mbok sampaikan pada nak Andre. Mbok pamit dulu ya, mau pulang. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat nak Andre."
"Tidak mengapa kok Mbok. Terimaksih juga sudah menyampaikan pesan dari Sundari."
Mbok Darmi yang sudah kehabisan topik pembahasan dalam sesi bincangnya dengan Andre, akhirnya berdiri dari kursi dan perlahan berjalan menuju rumahnya yang memang bersebelahan dengan rumah Andre. Andre hanya menyambut dengan senyuman saat Mbok Darmi pamit kembali. Setelah Mbok Darmi kembali Andre juga masuk kedalam rumah untuk beristirahat.
Sesudahnya mengdengar kabar dari Mbok Darmi tentang Sundari yang kemarin datang kerumahnya. Malam itu di atas ranjang. Kepala Andre dihujani beragam pertanyaan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Arif? [.]





















