Kamis, 31 Oktober 2019

Anak Pesisir

Bab 3
Kenalkan Diriku


Kejadian kemarin saat Arif pulang dengan kondisi mabuk memang menjadi tamparan keras bagi rumah tangga Arif dan Sundari. Mereka memang sudah lama membangun maligai rumah tangga. Tetapi sifat masa lalu Arif semasa ia muda tetap saja melekat. Meskipun Lastri, anak mereka sudah berusia 13 tahun pasangan ini masih saja berusia muda. Maklum saja Arif menikahi Sundari saat itu masih berusia 20 tahun. Sedangkan Sundari berusia 18 tahun yang baru saja lulus dari bangku sekolah menengah atas.

Mereka menikah lantaran kondisi lingkungan di desa Arif dan Sundari tinggal, banyak remaja yang sudah pada menikah. Pendidikan bagi masyarakat di desa mereka memang tidak begitu dipentingkan alias dikesampingkan. Banyak anak tamat sekolah sampai smp saja. Bahkan banyak juga hanya sampai di bangku sekolah dasar. Begitu pun dengan Arif yang berpendidikan hanya sampai di bangku sekolah menengah pertama saja. Setelah diusia 15 tahun memutuskan untuk putus sekolah, Arif mulai bekerja layaknya orang-orang di desa dengan mencari ikan.

Perjalanan Arif selama 5 tahun usai putus sekolah dan sebelum ia menikah ini yang menyebabkan sikap Arif berubah pesat. Di usia yang bisa dikatakan masih belia dirinya sudah memegang banyak uang dari hasil kerjanya. Karena melihat para nelayan di desanya yang sering mabuk-mabukan usia melaut, bocah tamatan smp ini akhirnya terbawa oleh faktor lingkungan.

Hal ini cukup disayangkan, padahal masa kecil Arif ketika masih sekolah dikenal dengan pribadi pendiam, tidak banyak tingkah dan dikenal sebagai remaja yang taat terhadap agamanya. Hal ini dibuktikan dengan masuknya Arif di organisasi Remas  di salah satu Masjid desa pesisir itu.

Namun sikap Arif masa remaja berubah saat dirinya kelas 2 smp. Dimana kedua orang tuanya secara bersamaan memutuskan pergi ke Negeri Jiran demi mencari kehidupan yang lebih layak. Arif yang kala itu di titipkan ke pamannya, hal ini ya memicu Arif berubah seperti orang-orang di desa pada umumnya.

Sementara Sundari istrinya, jatuh cinta pada Arif sejak ia masih kecil. Saat Arif masih jadi anak pendiam, perubahan pada diri Arif tak meredupkan benih-benih cinta Sundari. Mereka adalah teman masa kecil juga teman sekaligus pendamping hidup.

Kondisi lingkungan di desa pesisir tempat tinggal mereka memang seperti itu. Masih kental dengan tradisi anak putus sekolah di usia muda, setelah putus sekolah mereka memilih bekerja menjadi nelayan. Dan di usia muda banyak anak yang baru memasuki kepala dua bahkan masih belasan tahun sudah menikah.

Kondisi ini yang melatar belakangi orang-orang di desa pesisir itu jadi suka mabuk-mabukan. Di tambah lagi kegiatan keagamaan di desa itu cukup minim. Tempat peribadatan seperti musala biasanya hanya ramai di waktu malam saja, itu pun yang memadati adalah anak-anak dan para remaja desa yang masih sekolah, siangnya mereka pasti tidak ikut salah jamaah di musala karena masih dalam waktu pembelajaran di sekolah. Sementara para orang dewasa siangnya pada sibuk dengan aktivisnya di laut. Di Masjid pun juga sama, tetapi kondisi Masjid desa pesisir itu bila hari jumat tiba terlihat ramai penuh sesak saat akan menggelar salat jumat. Hari jumat merupakan hari libur untuk para nelayan di desa.

Di hari jumat ini seakan menjadi nilai plus untuk desa itu. Selain kegiatan melaut para nelayan libur, warung-warung yang berjualan minuman keras juga ikut tutup bila hari jumat tiba. Meski hanya tutup sepanjang pagi hingga sore saja. Hal ini juga sudah menjadi tradisi secara turun temurun untuk masyarakat desa pesisir.
***

Meskipun kondisi di desa pesisir itu bisa dikata punya kebiasaan yang kurang baik. Tetapi hal ini sama sekali tidak memancing Andre untuk ikut terbawa arus kondisi desa.

Andre adalah anak yang ramah dengan tetangga rumah dan masyarakat desa. Selain itu ia juga adalah anak yang pintar saat masih sekolah. Terbukti dengan torehannya di sekolah cukup berkesan dengan sering menjadi jawara rangking satu di kelasnya.

Menjadi seorang nelayan memang bukan cita-cita Andre dari kecil. Meskipun kini ia menjadi juragan yang mengelola perahu miliknya sendiri untuk berlayar. Tetapi pilihan itu seakan menjadi harga mati untuk Andre. Perahu itu adalah warisan dari almarhum ayahnya pergi menyusul almarhum ibunya, meninggalkan Andre beserta adiknya yang masih duduk di bangku smp. Saat itu Andre baru saja lulus dari sekolah menengah atas.

Andre yang saat itu menjadi tulang punggung keluarga untuk adiknya. Terpaksa harus mengubur dalam-dalam mimipinya yang ingin melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Ia ingin menjadi sarjana karena melihat pendidikan terakhir di desanya terbanyak hanya berhenti di sekolah menengah saja. Untuk lulusan sarjana sangatlah minim, bahkan bisa terhitung dengan jari jemari.

Selain ingin menambah lulusan sarjana di desanya, Andre juga berniat merubah tatanan sdm di desanya. Bagaimana caranya masyarakat desannya yang setiap siang atau sore punya kebiasaan mabuk-mabukan itu sirna. Hal itu menjadi penghias mimpi indahnya di masa depan.

Mimpi Andre menjadi sarjana telah tenggelam, alternatif Andre untuk mewujudkan hal itu tentu dilimpahkan kepada adik semata wayangnya untuk mewujudkan mimpi membawa desanya kearah yang lebih baik. Hasil melaut Andre sering kali ia alihkan untuk kebutuhan adiknya bersekolah. Ia mengesamping kebutuhan sampingannya sendiri.

Kalau waktu libur melaut Andre juga sering mengajak adiknya untuk ikut berdiskusi dengan para aktifis yang sering mengkritisi kondisi sosial. Hal ini ia lakukan agar adiknya mengerti akan kondisi desanya. Seperti kemarin saat ia libur melaut dan mengajak adiknya ikut grup diskusi yang ada di pusat kota. Meski jaraknya lumayan jauh dari desa tetapi hal ini bagi Andre sangat penting untuk menambah ilmu pengetahuan. Hitung-hitung setalah gagal jadi mahasiswa setidaknya Andre punya kawan berkumpul para mahasiswa yang hakikatnya para mahasiswa itu berperan sebagai Agent Of Change And Agent Sosial Control.
***

"Nak Andre...." Terdengar suara Mbok Darmi berdiri di depan pintu.

Andre yang mengetahui kedatangan wanita berusia senja itu langsung menghampirinya.

"Ada apa Mbok? Silakan duduk dahulu Mbok!" Tangan Andre menunjuk arah dua buah kursi yang terpampang di teras rumahnya.

Mbok Darmi yang persilakan Andre untuk duduk di kursi akhirnya duduk di kursi. Disusul dengan Andre yang duduk setelahnya.

"Kemarin Sundari istri Arif datang kemari. Saat kamu tidak di rumah."

"Iya Mbok, Sundari ada perlu apa datang kemari?"

"Mbok kurang paham nak, apa yang sebenarnya terjadi dengan Sundari dan suaminya. Yang jelas kemarin ia menangis datang kemari. Ia bilang suaminya habis mabuk. Kemarin kan kamu libur melaut."

"Si Arif... Perasaan kemarin itu Arif baru saja pinjam uang Mbok, katanya mau dibuat biaya Lastri anaknya yang baru mau masuk smp."

"Mbok tidak paham nak, apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas kemarinsetelah magrib Sundari berkata seperti itu. Dan ia pesan juga untuk Mbok agar hal itu sampaikan pada Nak Andre."

"Ohh ya sudah kalo gitu Mbok, nanti si Arif biar Andre yang mengurusnya."

"Iya nak, cuma itu yang ingin Mbok sampaikan pada nak Andre. Mbok pamit dulu ya, mau pulang. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat nak Andre."

"Tidak mengapa kok Mbok. Terimaksih juga sudah menyampaikan pesan dari Sundari."

Mbok Darmi yang sudah kehabisan topik pembahasan dalam sesi bincangnya dengan Andre, akhirnya berdiri dari kursi dan perlahan berjalan menuju rumahnya yang memang bersebelahan dengan rumah Andre. Andre hanya menyambut dengan senyuman saat Mbok Darmi pamit kembali. Setelah Mbok Darmi kembali Andre juga masuk kedalam rumah untuk beristirahat.

Sesudahnya mengdengar kabar dari Mbok Darmi tentang Sundari yang kemarin datang kerumahnya.  Malam itu di atas ranjang. Kepala Andre dihujani beragam pertanyaan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Arif? [.]

Rabu, 30 Oktober 2019

Anak Pesisir

Bab 2
Aku dan Kawanku


Kemarin hasil tangkapan ikan di perahu Andre dan kawan-kawannya memang sangat melimpah, hasil itu membuat tubuh para nelayan muda itu mengalami kelelahan. Andre selaku juragan memutuskan untuk beristirahat sehari untuk memulihkan kembali tenaganya yang kemarin banyak terkuras. Kabar yang disampaikan Andre pada kawan-kawannya tentang libur berlayar dapat diterima dengan baik. Hitung-hitung menjadi waktu bersantai di rumah.

Waktu itu dimanfaatkan Andre merebahkan tubuhnya di atas ranjang lebih lama. Begitu pun dengan keempat kawannya juga memanfaatkan waktu libur berlayar sama seperti Andre.
***

Raja siang membakar membara di langit desa pesisir itu. Tiba-tiba Mbok Darmi salah seorang tetangga Andre melihat Arif yang sedang berjalan sendirian dengan tubuh sempoyongan dan mata memerah. Langkahnya terseok-seok. Mbok Darmi yang mengetahui Arif adalah salah satu anak buah Andre berlayar langsung mengintrogasinya.

"Habis dari mana dek Arif? Kok berjalan sendirian." Tanya Mbok Darmi saat berpapasan dengan Arif.

"Ndak habis dari mana-mana kok Mbok. Ini tadi habis jalan-jalan menghibur diri. Hari ini Andre kan sudah bilang kalau kegiatan melautnya libur dulu setelah kemarin perahu kami bongkar banyak ikan." Arif menata gaya bicaranya agar tidak terlihat bahwasannya tubuh sempoyongan, mata memerah dan langkah terseok-seok adalah efek dari minuman yang memabukan.

Andai saja Mbok Darmi mengetahui kalau Arif sedang dalam kondisi mabuk. Maka akan sangat berbahaya jika ia menyampaikan hal ini pada Andre yang semalam baru saja uangnya dipinjam dengan alasan untuk biaya anaknya masuk sekolah. Padahal uang tersebut sebagian digunakan Arif untuk mabuk-mabukan.

Mbok Darmi yang telah berusia senja itu setelah mendengar jawaban Arif yang nampak normal pun tidak lagi melanjutkan introgasinya. Arif pun kembali berjalan dengan langkah yang terlihat lebih pelan. Semua itu ia lakukan untuk mengatur kondisi tubuhnya agar terlihat tetap normal.

Setibanya di rumah. Arif yang masih dalam kondisi mabuk mendapati sebuah pertentangan dari istrinya. Bau minuman itu masih sangat melekat dari mulut Arif, apalagi saat ia berdekatan dengan istrinya. Kali ini jaraknya lebih dekat dan aromanya tercium. Berbeda saat dengan berpapasan dengan Mbok Darmi tadi yang berbicara menjaga jarak. Agar baunya tak teridentifikasi.

"Mas Arif...! Kamu ini mas... baru saja kemarin dapat uang lebih dari hasil tangkapan ikan, sekarang sudah mulai mabuk lagi. Bagaimana dengan biaya masuk sekolah anak kita mas? Padahal baru semalam kamu pinjam uang ke Andre juraganmu itu. Kalau saja Andre tahu bahwa uang yang Mas pinjam separuhnya adalah untuk mabuk-mabukan. Mungkin ia akan sangat marah mas." Terdengar sebuah pembicaraan yang cukup keras dari Sundari istri dari Arif yang merasa kesal dengan kelakuan suaminya.

"Ah tenang saja dik, mas pasti membayar hutang itu kok. Lagian Andre juga tidak bermasalah saat uangnya kupinjam." Arif mencoba memegang tangan istrinya yang terlihat sudah memasang emosi kekesalan.

"Bagaimana kalau Andre mengetahui hal ini mas? Bagaimana kalau dia meminta mas langsung mengembalikan uangnya sekarang? Lalu kemungkinan terburuk bagaimana kalau Andre memecat Mas Arif dari tempat kerja. Kamu ini kan lebih senior mas dibandingkan kawan-kawanmu dalam perahu itu." Nafas Sundari mulai terbata-bata dan melepaskan tangan Andre yang memegang tangannya.

"Dik, sudah aku bilang tenang dulu. Mas juga lelah. Lagian ini minuman selain untuk mabuk juga untuk jamu memulihkan stamina. Sayangnya mas tadi minum berlebihan, efeknya kini sampai mabuk." Sambil berbisik mesra, membujuk rayu istrinya agar ia menerima perbuatannya.

Namun Sundari tetap saja bersikukuh. Ia tak tahan menahan luapan air yang ingin keluar dari bola matanya. Akhirnya Sundari membalikan badan dari suami dan menuju pintu rumah. Arif yang dalam kondisi mabuk tak sempat mengejar istrinya yang perlahan berjalan keluar rumah dengan ekspresi mata semu merah menahan tangis.

Sundari berjalan keluar. Dan menuju rumah Andre selaku juragan suaminya. Di hari yang baru saja gelap itu juga, Sundari memutuskan berjalan sendirian menuju rumah Andre. Sedangkan suaminya membaringkan tubuh di atas ranjang untuk tidur.
***

Malam hari, mentari baru saja tenggelam di ufuk barat. Angin laut yang sepoi menyambut hangat kedatangan Sundari di rumah Andre.

Malam itu rumah Andre sedang terkunci karena penghuninya sedang keluar rumah. Kabar itu Sundari dapatkan dari tetangga depan rumah Andre yang melihat sore tadi Andre keluar rumah. Sundari yang masih memeluk wajah kesedihan hanya duduk berdiam diri kursi teras rumah Andre.

Tiba-tiba Mbok Darmi yang rumahnya di samping rumah Andre datang menghampiri Sundari yang termenung berdiam diri di teras rumah.

"Kau sedang apa nak, kenapa raut wajahmu bersedih?" Mbok Darmi yang baru datang langsung duduk di kursi sebelah sundari yang kosong.

"Tidak ada apa-apa Mbok, aku hanya ingin berbicara dengan Andre selaku juragan dari suamiku. Aku kesal dengan tingkahnya setelah sore tadi ia pulang dengan sempoyongan." Meskipun sedikir terpatah-patah Sundari akhirnya mencurahkan isi hatinya pada Mbok Darmi.

"Oalah... Iya nak, siang tadi Mbok juga lihat suamimu jalan sempoyongan di dekat tempat pelelangan ikan. Lalu mbok darmi tanyai, katanya lagi ingin menghibur diri. Berhubung tadi bicaranya terlihat lancar tak layaknya orang yang sedang mabuk, mbok biarkan saja ia berjalan."

"Iya mbok, Sore tadi Mas Arif pulang dengan kondisi mabuk. Berati siangnya ia habis minum di dekat tempat pelelangan ikan. Disana kan banyak warung berjualan toak untuk para nelayan. Lagian siang tadi ngapain Mas Arif kesana. Hari ini kan ia libur berlayar..."

Belum sempat selesai penjelasan Sundari, tiba-tiba air di pipinya mengucur. Padahal ia juga ingin menjelaskan sebuah hal, kalau semalam suaminya meminjam uang Andre separuhnya untuk mabuk-mabukan. Tetapi kata-kata itu dihentikan oleh luapan air mata yang tak mampu untuk ditahan.

"Sudahlah nak, sekarang hari sudah malam. Lagian Andre juga lagi tidak di rumah. Sebaiknya nak pulang saja kerumah. Soal keluhanmu tadi biar mbok sampaikan pada Andre kalau ia sudah pulang." Mbok Darmi mencoba menenangkan dan mendekap tubuh Sundari lalu mengelus elus pundaknya.

Sundari tetap termenung. Ia hanya berdiam diri dan terseguk-seguk karena menangis.

"Ayo nak, silakan pulang. Bersabarlah. Suamimu suatu saat pasti kan berbuah kok. Yakini saja. Dan doakan dia untuk berubah."

Bisikan lembut dari Mbok Darmi itu akhirnya dapat menenangkan Sundari. Perlahan Sundari mulai berdiri dari kursinya. Dan berpamitan pada Mbok Darmi untuk kembali pulang ke rumah.

Malam yang cerah. Bintang gumintang dan bulan purnama bertaburan di atap cakrawala. Malam ini adalah bulan purnama. Biasanya kalau bulan purnama begini ikan-ikan di laut pada bersembunyi. Andre selaku juragan memang sangat tepat memutuskan untuk libur berlayar. Sundari menitihkan langkah kembali pulang. Sembari berharap esok Mbok Darmi menyampaikan keluh kesahnya tadi pada Andre. Ia menginginkan perubahan untuk suaminya agar tidak selalu begitu.

Di tengah perjalanan Sundari juga mengingat sebuah hal untuk Lastri anaknya. Ia akan menunggu ibunya pulang. Jika malam begini dirinya belum juga pulang.

Anak Pesisir

Bab 1
Lautku


Gelombang laut nampak tenang sore ini. Itu tandanya hasil tangkapan ikan berpeluang akan lebih melimpah, jika dibandingkan kemarin di mana saat gelombang laut kurang bersahabat dan sukses mengombang ambingkan perahu kecil yang dinaiki Andre dan kawan-kawanya. Akhirnya hasil tangkapan ikan pun menurun dari biasanya. Akan tetapi mau bagaimana lagi ketika gelombang laut meningkat amplitudonya Andre hanya pasrah pada keadaan alam.

Sore itu perahu kecil andre penuh sesak oleh ikan-ikan dari laut. Setibanya di pelabuhan tempat pelelangan ikan, para pembeli ikan sudah menunggu. Wajah dari pembeli yang sebagian besar adalah pengepul ikan nampak sumringah, setelah melihat wajah Andre dan kawan-kawannya menampilkan wajah ceria penuh bahagia. Sore itu juga dewi fortuna sedang memihak pada perahu Andre, bertepatan dengan harga ikan yang sedang naik karena sepinya hasil tangkapan dari nelayan lainnya dan Andre membawa banyak ikan dari laut. Uang yang diterimanya pun bisa dikatakan tiga kali lipat dari kemarin.

Wajah Andre setelah bernegosiasi dengan para pembeli ikan nampak penuh semangat. uang yanh dibawa pulang pun lebih banyak. Begitu pun kawan-kawannya juga pulang dengan penuh semangat dan percaya diri. Meskipun mereka belum mengetahui pasti berapa bagian untuk mereka yang menjadi rekan Andre dalam menangkap ikan. Uang hasil penjualan itu masih dibawa oleh Andre selaku pemilik perahu.

Senja pun tenggelam di ufuk barat cakrawala. Bulan bintang bergantungan dengan indah. Andre telah tiba di rumah dan bersantai, sambil menghitung uang hasil penjualan yang seluruhnya masih dibawa. Malam ini Andre menunggu kawan-kawan melautnya datang untuk membagikan uang hasil tangkapan.

Tokk... Tokk... Terdengar bunyi ketukan pintu dari seorang kawan Andre.
"Silakan masuk." Andre pun membukakan pintu dan mempersilakannya masuk.

Ternyata ada 2 orang kawannya yang datang Ilham dan Arif yang datang bersamaan. Sembari menunggu 2 orang kawannya lagi, Ilham dan Arif duduk bersantai di rumah Andre.

Selang tak lama kemudian dua kawannya datang lagi secara bersamaan juga. Duduklah mereka dengan wajah semu merah muda di ruang tamu rumah Andre.

Melihat kawan-kawan sudah siap untuk menerima pembagian hasil penjualan ikan. Andre pun mengambil uang itu dan membagikan kepada mereka. Terlihat ada pembatas di antara 5 lembar uang warna merah dengan gambar presiden dan wakil presiden Indonesia yang pertama. Itu artinya satu orang dari mereka akan mendapat bagian 5 lembar.

"Baik man teman, karena tadi hasil tangkapan ikan di perahu kita lumayan melimpah, jadi bisa dilihat kan dalam tumpukan uang ini tiap pembatasnya ada 5 lembar, artinya kalian perorangan akan menerima 500 ribu perorangnya." Andre membuka pembahasan dalam perkumpulan itu.

Sementara empat kawanya tak ada yang bersuara, tetapi raut wajah bersemu merah itu sudah mewakili atas menyambung pembahasan dari Andre.

Andre yang tanpa berkata panjang lebar lagi langsung membagikan uang itu kepada kawannya. Kawan-kawannya pun menerima dengan senang hati. Seperti adat biasanya yang berlangsung di desa ini. Yaitu tiap kali usai membagikan uang hasil tangkapan. Sang juragan selaku tuan rumah memberikan hidangan makan malam setelah itu baru anak buahnya kembali kerumah masing-masing. Atau kalau tidak langsung pulang, pihak tuan rumah akan tetap membiarkannya dan tidak mengusirnya.

Malam itu seusai menerima bagian masing masing dan selesai makan malam bersama. Kawan Andre pun pamit satu per satu. Tetapi tidak semua dari mereka langsung pamit pulang. Masih tersisa Arif yang masih betah singgah di rumah Andre. Dan Andre pun tidak mengusirnya, justru malah mengajaknya membicarakan suatu hal hingga panjang lebar.

Tak terasa malam berlalu begitu saja dan kini telah memasuki waktu dini hari. Arif tak kunjung pamit pulang. Sebenarnya waktu ini adalah waktu yang di tunggu Arif. Sebenarnya ia ingin berbicara pada Andre selaku jugaran perahu tempatnya bekerja.

"Nree, kau masih punya banyak tabungan apa ndak." Tanya Arif dengan wajah serius.

"Ada apa emangnya Rif, ada perlu apa?" Sejebak Andre mengela napas setelah tadi juga ikut terbawa pertanyaan Arif seperti orang menegangkan.

"Tidak Ndre, sebenarnya aku ingin pinjam uangmu dulu. Buat biaya sekolah Lastri, anakku yang baru saja lulus SD dan mau melanjutkan ke SMP." Arif pun menurunkam volume pembicaraan. Sebab hal itu baginya cukup tidak lazim untuk dikata.

"Ada kok Rif, kamu butuh berapa? Kalo buat biaya sekolah putrimu itu. Dengan senang hati aku mau membantu Rif." Andre mencoba menenangkan Arif dengan menepuk pundaknya.

"Ohh ya sudah Ndre, Terimakasih. Aku cuma butuh uang 700 ribu kok. Buat daftar ulang sekolah Lastri, membeli seragam baru, dan lainnya. Na uangku ini besok rencannya mau tak pakai membayar hutangku pada warung sebelah rumahku" kepala Arif tertinduk selepas berkata itu.

"Iya Rif, aku tak mengapa. Silakan pinjam saja jika itu untuk keperluan anakmu bersekolah." Andre melemparkan senyum pada Arif yang wajahnya terlihat lesu.

Andre pun mengambil uang di laci lemarinya untuk diberikan pada Arif yang berniat meminjamnya.

Larut malam, suara malam ramai dengan suara jangkrik bercampur debur ombak di desa tepi pantai itu. Arif pulang dengan uang hasil pembagian juga pinjaman. Andre memang cukup baik orangnya tanpa mengetahui seluk-beluk Arif sebenarnya ia langsung saja meminjamkan uangnya dan percaya dengan alasan Arif begitu saja.

Senin, 28 Oktober 2019

Wanita Dengan Secangkir Kopi 2

Wanita Dengan Secangkir Kopi 2

Wanita dengan hobi menyeruput kopi
Dimana pun jasadnya berada
Kopi tetaplah menjadi favoritnya.

Seringkali wanita itu datang di kedai kopi
Ia memesan secangkir kopi
Kopi dengan level pahit tingkat tinggi
Lengkap dengan bubuk sepi
Layaknya kopi tanpa gula
Manis yang sering di rasa seakan tiada
***

Wanita yang telah lama berteman sepi
Tiba-tiba memutuskan ingin mengakhiri
Sebuah kutukan berselimut sepi
Pergilah di kediaman kerabatnya

Sesampainya di sana
Disuguhkanlah segelas susu
Lengkap dengan rasa manis
Tanda sebuah harmonis
Isi kedalaman rumah

Tentu saja rasa tak nyaman menghampiri
Dengan rasa di luar kebiasaannya
wanita tetap berusaha menikmati suguhan

Rasa manis terus dinikmati
Sembari berharap:
Pergilah kau (rasa pahit)
Yang telah lama melilit.

Sepulangnya dari kediaman kerabatnya
Wanita mengerti sebuah hal
Bahwa pahit dan manis
Adalah seni dari semesta
Yang membuat warna makin indah.


-----
Tuban, 28 Oktober 2019
Yogi Riyansyah

Wanita Dengan Secangkir Kopi

Wanita Dengan Secangkir Kopi

Bibir wanita nampak lebih seksi
Saat mengecup secangkir kopi
Ia nampak lebih berani. Lebih percaya diri
Padahal hatinya berteman sepi.

Matanya melayang mencari pandangan
Dimana lelaki di sana ia jatuhkan angannya
Dimana lelaki melangkah
Disana pandangannya berpindah.

Pandangan wanita semakin nyaman
Lelaki mulai tak nyaman

Lelaki menghilang kemudian
Wanita tak lagi menemukannya.

Tangann wanita usil mencari pelampiasan
Sayang ia tak punya pilihan lain
Kembali berteman sepi kesekian kali.

----
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah

Sugondo Djojopuspito

Tulisan spesial hari sumpah pemuda.

Sugondo Djojopuspito

Tahu tidak dengan tokoh satu ini?
Lahir di Tuban Jawa Timur pada tanggal 22 Februari 1904. Dan wafat di Yogyakarta pada tanggal 23 April 1978. Beliau adalah salah satu tokoh pecetus sumpah pemuda juga pemimpin berjalannya kongres sumpah pemuda di Jakarta tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928. Dari hasil kongres pimpinannya menghasil sebuah ikrar teks sumpah pemuda yang kita kenal hingga kini.

Berikut adalah teks sumpah pemuda:

Kami Putra dan Putri Indonesia, 
mengaku bertumpah darah yang satu, 
tanah air Indonesia.

Kami Putra dan Putri Indonesia, 
mengaku berbangsa yang satu, 
bangsa Indonesia.

Kami Putra dan Putri Indonesia, 
menjunjung bahasa persatuan, 
bahasa Indonesia.

Teks sumpah pemuda ini pertama kali dibacakan oleh Sugondo Djojopuspito selaku pimpinan sidang dalam kongres sumpah pemuda.

Sugondo Djojopuspito termasuk satu dari 13 orang pelopor terciptanya sumpah pemuda. Ke tiga belas orang tersebut diantaranya: Sugondo Djojopuspito, Muhammad Yamin, Soenario, Leimena, Djoko Marsaid, Amir Syarifuddin Harahap, WR Supratman, Mangoensarkoro, Kartosoewirjo, Kasman Singodimedjo, Mohammad Roem, K. Gani, Sie Kong Liong

Kalau kita browsing di internet tentang siapa pecetus sumpah pemuda maka yang akan keluar teratas adalah nama Muhammad Yamin. Maklum saja, Muhammad Yamin merupakan tokoh yang paling tenar saat kongres sumpah pemuda, hal ini tak luput karena kemampuannya dalam hal sastra, sejarah, politik, Ilmu hukum, dll. Namun saat akan diadakan kongres sumpah pemuda Muhammad Yamin tidak memimpin kongres hal ini dikarenakan pemimpin kongres harus dari pihak yang netral. Terpilihlah Sugondo Djojopuspito sebagai pemimpin kongres. Dan Muhammad Yamin menjadi sekertaris kongres karena kemapuannya dalam segi bahasa. Muhammad Yamin juga di kenal sebagai pencipta imaji keIndonesiaan, juga memberi pengaruh pada sejarah persatuan Indonesia.

Lantas Bagaimana dengan Sugondo Djojopuspito? Tokoh yang berasal dari organisasi PPI (Persatuan Pemuda Indonesia) dan tidak masuk dalam Jong Java. Hal ini membuat Sugondo bisa memimpin Kongres. Karena Muhammad Yamin di anggap kurang netr sebab masuk dalam lingkup Jong sumatra (kesukuan).

Tidak banyak yang tahu dengan tokoh satu ini. Termasuk di daerah beliau berasal yaitu di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Siapa sangka bahwa tokoh fenomenal dalam pemersatu pemuda di tanah air itu berasal dari Kabupaten Tuban. Hal ini jarang di sadari oleh pemuda di Kabupaten Tuban termasuk saya sendiri selaku penulis yang asli dari Kabupaten Tuban tetapi baru mengetahui hal ini dari sebuah mural yang terletak di area Tuban kota, tepatnya di perempatan gedung tri darma, Tuban. Keterbatasab hal ini yang membuat saya minim pengetahuan tentang Sugondo Djojopuspito. Mungkin cukup ini yang dapat saya sajikan dalam tulisan spesial hari sumpah pemuda.

Mural art Sugondo Djojopuspito yang terletak di Kabupaten Tuban, Jawa Timur


----
Tuban, 28 Oktober 2019
Yogi Riyansyah

Minggu, 27 Oktober 2019

Pasca Hilang

Pasca Hilang

Kau yang pernah mengisi
Warna-warni hari
Juga warna hati

Kau kemarin ramai
Sempat hilang
Walau sesaat
Di waktu yang singkat

Sepi merasukki
Mengaobrak-abrik
Aneka pelangi

Awan berabu
Kuat mengurung
Di kala murung
Hanya mendung!
Tak berati hujan

Beruntungnya aku
Hujan menunda datanya
Jejakmu tak tersapu
Dan aku kembali
Mengais kenangan
Yang sempat kuduga hilang.

---
Tuban, 27 Oktober 2019
Yogi Riyansyah

Melukis Senyum


Melukis Senyum


Hey cantik, kemari !
parasmu anggun, senyummu ramah
ingin kucoret manismu di atas kanvas

~hendak menggambar kerangka~

Baru aku mencari tinta ;
pena lebih dulu diisi darah merah muda
         mengalir dari alam nadi.
         
ketika baru mengangkat pena
berat pena sudah jauh lebih berat
diisi hadir cintamu.

bagaimana bisa aku bersahabat
penaku menyatu dengan cinta yang lebat

di hati :
denyut jantungku ; 
menyebut
namamu, kekasih.....

----
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah

Tak Ada Senyummu Hari Ini

Tak Ada Senyummu Hari Ini

Tanpa senyummu di sini
--masih seperti kemarin
terpisah diantara dua berbeda
kota tua berjuluk nira segar
dan tauladan suluk para leluhur

mawar merekah, darah mengalir
para pendoa dan pendosa rukun berjamaah
pendoa menaburi bunga bahasa,
buku-buku dalam kalimat disemat.
; duduk di tengah, ; tepi itu banjir
nira mengalir menjadi puisi.

Latar belakang bintang-bintang bertabur
menjadi cerita sebelum aku tidur
mana senyummu hari ini tak kutemu.
tak ada nyata yang ditangkap mata.
;
Perihal baru menyapa sapu
seluruh kata yang hinggap di kepala
lebih dulu dihisap lupa ;
sebelum aku menuliskannya

tanpa senyum, tak ada puisi untuk kau
hanya terpukau menatap bayang manismu
menanti aku menanti, dimana aku
termanggu di ruang rindu.

----
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah

Kamis, 24 Oktober 2019

Gerimis Indah Di Stasiun Kereta


Sial! Hari itu menjadi hari tersial bagiku.

Hari dimana aku harus memberikan kenyaman sebagai tuan rumah untuk menjamu tamu yang datang dari kota berbeda. Dimana di hari itu dompetku sedang dilanda kanker (kantong kering).

Saat aku sedang asiknya berkencan dengan seseorang. Membeli ini itu. Sebuah jajannan di pasar. Untuk ia bawa pulang, dijadikan oleh-oleh. Maklum saja, yang ia cari adalah makanan khas di daerah sini, dan disana tidak ada. Itu adalah salah satu alasan yang mengobsesi dirinya untuk membeli.

Tibalah waktu dia selesai belanja. Dan kami harus segera bergegas menuju stasiun menyesuaikan jadwal keberangkatan kereta yang akan membawanya pulang. Saat itu adalah saat dompetku sudah benar-benar terkuras.

Terbanglah lamunan dalam benakku sepanjang perjalanan mengantar perempuan itu menuju stasiun. Bagaimana tidak!, Aku sudah tidak punya uang sama sekali, aku juga belum mengajaknya makan siang, sebelum prempuan itu pamit pergi. Selain itu hal-hal negatif mulai bertebaran menghiasi pikirku. Bagaimana nanti di saat perjalanan pulang banku bocor atau perutku harus menahan hawa lapar yang, seharian kan hanya makan sarapan nasi di pagi hari saja. Aku pun hanya bisa banyak berdoa dan menguatkan mentalku. Semoga hal negatif itu tidak terjadi padaku.

Setiba di stasiun kereta. Kami sejenak duduk bersanding di ruang tunggu. Karena kami tiba lebih cepat sekitar dua jam dari jadwal keberangkatan kereta dan kita menunggu kereta tiba.

Krikk.... Krikk.... Kami berdua hanya duduk saja dan saling berdiam diri. Aku yang kedinginan tertimpa guyuran hujan saat dijalan. Akhirnya tak tau harus bagaimana untuk menghidupkan suasana ditengah grimis kecil-kecil yang jatuh menghiasi cakrawala stasiun kereta.

Aku yang membawa tas kecil berisi dua buku kumpulan cerpen dari rumah. Akhirnya aku buka saja buku itu dan membacanya di sisi prempuan itu. Judul  buku yang aku baca Ada Hantu Di Hatimu. buku kumcer bertema horor, seseram dag dig dug perasaanku yang sedang dilanda terlena keanggunan rupa, gigil tubuhku sedikit sakit dan panik.

Perempuan itu tetap saja berdiam diri. Sambil sesekali molehkan arah pandangnya menujuku. Aku abaikan dia karena asik menikmati bacaan cerpen. Aku yang berhasil menangkap senyummu, berpura-pura jadi cowok sok cuek yang kutu buku. Padahal aku nggak kutu-kutu buku amat sih. Kuanggap Itu adalah cara cowok menarik perhatian.

Sejanak aku yang membiarkannya duduk di sampingku. Aku memberikan satu bukuku lagi yang sudah hampir tamat aku baca. Dalam buku kumpulan cerpen yang satunya itu ada cerita  yang cocok untuk kami yang sedang duduk menunggu kereta di stasiun. Cerpen berjudul Kereta Yang Mengabaikan Stasiun. Aku menyarankan prempuan itu untuk membacanya dan memahami isi dalam cerita.

Perempuan itu mulai membaca buku, aku di samping yang juga membaca buku, sesekali aku menghentikannya dan menatap wajah perempuan itu. Terkagum aku terpesona, wajah yang indah. Kata yang meloncat keluar dari bilik hatiku. Kutunggu saja sampai dia selesai membaca kemudian mengajaknya berbincang dan memberikan sedikit gombalan.

"Kau sudah selesai membaca?" Tanyaku di samping prempuan itu setelah buku yang berikan telah ditutupnya.

"Sudah. Ceritanya menjengkelkan. Aku tak suka dengan drama ini" Jawab dari prempuan itu.

Buku itu memang sangat cocok dengan kondisi aku dan perempuan itu yang sedang asiknya bersanding di ruang tunggu stasiun. Tentang kereta yang mengabaikan stasiun yang menyebabkan dua pasang sejoli harus berpisah lantaran kondisi prempuan harus kembali ke kota awal. Dan stasiun menjadi tempat perpisahan hubungan mereka. Sang cowok menunggu di stasiun. Tetapi kereta yang membawa pasangannya tak kunjung kembali.

Selepas dengan drama singkat tadi antara aku dan perempuan itu dengan buku. Tiba-tiba kami saling berdiam diri meresapi pertemuan. Dan tak terasa jarum jam seakan berputar cepat. Panggilan di stasiun yang mengarah pada tujuan wanita tersebut telah datang.

"Aku pamit dulu ya, aku harus kembali ke kotaku. Dan terimakasih sudah meluangkan waktu untuk menemaniku" perempuan tersebut mulai berdiri mengangkat tas dan bersiap menuju gerbong kereta.

"Iya sama-sama. Terimaksih juga sudah berkunjung ke kota ini. Dan jangan lupa katakan terimaksih pada semesta yang telah mempertemukan kita lengkap dengan suguhan dramanya." Sedikit senyum tak luput ku lemparkan pada pandangan perempuan itu.

Perempuan itu sama sekali tak menjawab kata-kata terakhirku tadi. Tetapi ia memberikan sepotong senyumnya yang sudah mewakili semua. Hari ini semesta bekerja sangat mesra. Perempuan itu membalikan tubuh dan berjalan kedalam sambil melambaikan tangan tanda perpisahan.

Aku akhirnya harus kembali pulanh ke rumah beriring dengan rasa suka dan duka. Tentang kemesraan semesta di hari ini. Dan isiden isi dompetku yang mengering. Hanya doa yang aku tujukan pada semesta agar hingga pulang hal tak kuinginkan tadi tidak terjadi. Terimaksih semesta atas suguhannya.

- - - - -
Tuban, 24 Oktober 2019
Yogi Riyansyah

Bagaikan langit di kala senja

Bagaikan langit di kala senja

Dengar lagu "bagaiakan langit"
Mengkait hati, menjular tinggi
Tembus atap cakrawala
Biru (sebiru hatiku)
Cinta yang indah
singgah di dalamnya

Melayang ini bayang-bayang
Mabuk kepayang. Senyumanmu!
Mungkin semestra beri jawaban.

Menggusah tanyaku :
Dewi cinta menunjuk lengkung cakrawala
Layaknya jingga ;
warna hadir saat senja
Lalu terbias kerlip gemerlap malam.

Senja merekah
Semakin indah
Di ujung hari akanan gelap

Tenggelam!
Kini kurasa.
Larut aku
Dalam perut malam
Senyummu hilang
Buram!
Suram.
Kutatap tak nyata.
Semakin malam
Semakin tenggelam

----
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah

Rabu, 23 Oktober 2019

Bertemu Senyummu 2

Bertemu Senyummu 2

Bumi pandhalungan. Adalah tempat yang menarik. Tempat yang selama ini menampung rinduku. Akan mata yang ingin betah manatap senyummu. Dan akanan sebagian dariku yang ingin tinggal abadi di sembir bibirmu.

Bumi pandhalungan juga menjadi tempat jujukan untuk hati bila ingin melampiaskan rindu. Kau tinggal di bumi itu (manisku) sementara keberadaanku di Kota Bumi Wali yang terbentang sejauh sekitar 220 kilometer dari keberadaanmu.

Entah sudah berapa kali aku datang kesana demi pelampiasan rindu. Demi bertemu senyummu. Misiku sering kali berhasil. Terhitung sudah ketiga kalinya misiku clear sudah.

Setelah misiku terwujud biasanya rasa yang ada di dalam dada tentu saja cukup bahagia. Tetapi ada kabar duka untuk dada selepas pertemuan kita. Dimana rindu semakin menjadi setelahnya.

Bertemu dengan senyummu juga menyadarkanku bahwasanya pertemuan bukannya fase untuk menuntaskan rindu. Tetapi pertemuan adalah fase mengembangkan rindu. Agar tercipta rindu yang lebih besar lagi di lain hari.

Tetapi visi. Visi yang baru saja aku susun sepeortinya butuh waktu yang lumayan lama untuk terwujud. Sebab usia adalah perjalan untuk mewujudkan itu.

Semoga kau juga merasa betah. Bersandar di ruang rindu yang visinya masih dalam perjalanan bersama setiap detiknya untuk menghitung titik terang visi cinta kita.

- - - - -
Tuban, 23 Oktober 2019
Y R S

Bertemu Senyummu

Bertemu senyummu

Pagi yang cerah aku siapkan langkah beserta harapan. Lengkap dengan semangat yang akan menyusuri jalan jauh berliku. Demi bertemu dengan senyummu.

Dari pagi yang cerah hingga senja tiba. Aku masih duduk manis di kursi itu. Kursi ruang tunggu juga kursi ruang rindu yang berjalan perlahan menuju haribaanmu.

Hingga sejauh itu semangatku belum juga patah. Semangat masih membara tak urung reda tak kenal padam. Senyummu sebentar lagi juga tiba. Aku yakin itu.

Di hari yang baru saja gelap, lengkap dengan sebuah gemerlap di kota itu. Aku tiba. Senyummu ternyata sudah menanti. Alhasil aku putuskan berhenti dari perjalanan.

Senyummu telah merekah lebih dulu di tempat itu. Tak lupa aku siapkan tangan untuk membungkus senyummu, dan aku nikmati selama aku berkunjung demi misi menangkap senyummu.

Misiku kini berhasil. Aku berhasil singgah di haribaanmu. Menetap di sembir bibirmu. Dan katamu. Kedatanganku adalah bagian dari separuh senyummu untuk merekah. Tak ada kata lain selain bahagia. Selepas rindu menemu titik terang.

Tak lupa juga selepas misiku berhasil aku siapkan sebuah visi di jangka panjang. Bagaimana bisa aku menetap selamanya di senyummu tak hanya sementara. Agar abadi. Agar nyata tak hanya sebagian besarnya. terlalui di maya.

- - - - -
Tuban, 23 Oktober 2019
Y R S

Minggu, 20 Oktober 2019

Finance remainsa

Finance remainsa

Sisa kenangan yang pernah membayang
Singgasana cinta dulu pernah bersenandung di sana.
Berubah kini berbeda. Beraut wajah murung.

Kau jauh rupanya. sudah tak lagi senyawa
Bukit rindu menjulang tinggi perlahan runtuh
Dikikis guntur berwajah manis.

Tetaplah tenang, kekasih! Kau harus tegar
Saat petir menantang datang menyambar.

Atau kau undang tukang kebun tuk membangun
Agar cinta mengembang bersemi kembali.

Ahh....! Tak usah.
Aku sudah nyaman sendiri.

-----
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah

Jumat, 18 Oktober 2019

Kotaku 2

Kotaku 2

Tulisan ini adalah kelanjutan dari sebelumnya. Masih tentang kotaku. Dan ini adalah bagian kedua yang akan mendeskripsikan tentang aneka warna kota ini. Setelah yang pertama membahas tentang wisata kotaku.

Tak hanya kaya akan wisatanya secara geografis. Tetapi di kota ini juga ada aneka makanan dan minuman khas kota ini. Juga tradisi yang masih terjaga di kota ini.

Langsung saja kita bahas tentang makanan khas kotaku terlebih dulu.

1. Kare Rajungan

Karena letaknya yang berada di pantai utara pulau jawa dan memiliki daerah pesisir. Maka kurang rasanya jika kita tidak membicarakan tentang makanan khas dari daerah pesisir. Kare Rajungan punya daya tarik tersendiri soal ini. Selain rasanya yang mantap dan nikmat, untuk membeli kare rajungan di kota tergolong lebih murah sebab banyak nelayan yg mencari ikan di kota ini. Harganya pun kurang dari 100 rb untuk satu porsinya.

2. Sayur Penget

Masih sama dengan kare rajungan yang diperubtungkan karena letaknya memiliki luas laut. Sayur penget juga bisa di katakan khas daerah pesisir. Dimana sayur bening ini di campur dengan asam, garam, trasi dan cabai. Sayur penget biasanya terdapat ikan tongkol atau bisa juga dengan ikan layang. Di camour dengan bihun dan tahu putih sebagai pelengkapnya. Rasanya pun tergolong asam-asam kecut rada asin.

3. Nasi Becek.


Siapa yang sudah mengenal menu makanan ini? Yaa... Dari namanya saja kita sudah bisa memikirkan bagaimana itu nasi becek. Yaitu nasi lawuh kare bercampur semu lodeh yang rasanya tergolong lumayan pedas. Maklum saja lidah orang kota ini kebanyakan lebih suka masakan asin pedas dari makanan berasa manis. berisi daging sapi atau bisa juga dengan daging bebek/mentok. Nama nasi becek ini pun mengikuti nama lawuhnya ada nasi becek sapi ada juga nasi becek mentok.

4. Siwalan


Buah Siwalan, memang ada di tempat lain selain kota ini. Tetapi untuk daerah sekutar kota ini buah siwalan bisa menjadi oleh oleh khas kota ini. Buah berasa seperti kelapa tetapi tidak keras layaknya kelapa seperti ada perpaduan coconutnya. Selain untuk jajanan. Hasil dari pohon bogor yang bisa menghasilkan buah siwalan. Selain itu juga bisa menghasilkan minuman yang juga bisa menjadi sangat khas dari kota ini.

Selain beberapa menu makanan tadi, ada juga minuman yang khas dari kota ini. Bahkan sangat melegenda.

Pohon Bogor yang sangat marak di kotaku. Pohon yang dapat menghasilkan buah siwalan. Dan bisa menghasilkan air legen dan tuwak.


1. Es Siwalan



Es siwalan ini adalah es variasi yang dikreasikan dari buah siwalan. Biasanya es siwalan yang bisa ditemukan daerah pusat kota. Es siwalan ini biasanya dikembangkan dengan campuran larutan gula jawa atau (juroh) istilah yang terkenal di kota ini. Tak hanya itu jarang juga es siwalan ini di campur dengan cincau atau pun dawet. Tak heran jika namanya pun bertambah menjadi es cincau siwalan, atau dawet siwalan.

2. Legen


Legen adalah air yang dihasilkan dari pohon bogor, sebenarnya air yang dibhasilakan dari pohon bogor ini tergolong menjadi dua : ada yang memabukan dan ada yang tidak. Tetapi legen termasuk minuman yang tergolong tidak memabukan. Dan sangat banyak dibtemukan di pinggiran jalan menuju pusat kota ini.

3. Tuwak

Tuwak ini adalah minuman yang sangat tenar dari kota ini. Tuwak yang di hasilakan pun sangat khas dari pohon bogor. Dan tuwak ini adalah ninuman yang tergolong dapat memabukan jika diminum berlebihan. Meskipun tuwak dapat ditemui di lain tempat kota ini. Tetapi tuwak yang dihasilkan kota ini pun berbeda. Biasanya tuwak di kota lain di produksi dari pohon aren, atau pun pohon juwet, dan di kota ini di produksi dari pohon bogor. Meskipun warnanya sama-sama putih kusam. Tetapi rasanya jelas ada perbedaan. Harganya pun sangat terjangkau hanya sekitar 20 rb rupiah saja satu botol besar.

Tergolong cukup khas sebab salain dari luar wilayah kota ini, tuwak dari pohon bogor yang ingin menyerupai dari kota ini tidak pernah berhasil untuk di produksi lain tempat. Pernah ada cerita seseorang dari pribumi kota ini yang mencoba menanam pohon bogor di kota tetangga kota ini. Meskipun seseorang tersebut sudah mengetahui resep pembuatan tuwak berlebel kota ini. Tetapi seseorang tersebut gagal membuat tuwak dengan resep yang sama persis dari kotaku ini.

Meski tegolong minuman memabukan tuwak bagi di kota ini juga membawa dampak positif dan negatif. Jadi jangan kaget juga jika tuwak di kota ini di legalkan oleh pemerintahan kota.

Untuk dapat mabuk dengan minuman tuwak ini pun biasanya harus diminum lebih banyak sampai bisa berliter liter. Dan sudah menjadi tradisi kota ini jika masyarakatnya minum tuwak. terlihat kerukunan masyarakatnya. Sebab biasanya diminum secara berjamaah dengan memutar minuman dengan kawan-kawan peminumnya. Dan jarang bahkan hampir tidak pernah ada peminum tuwak dari kota ini yang saling berkelahi akibat efek mabuk minum-minuman. (Itu tadi adalah sebagian dampak positif dari budaya minum tuwak kota ini) selain itu juga nampak positif lainnya tuwak dapat digunakan mengobati penyakit kencing batu dan batu ginjal. Hal ini tak luput dari kondisi kota ini yang di kelilingi pegunungan kapur. Jadi air bersih yang dihasilkan kota ini terdapat banyak endapan kapurnya, yang dapat memicu penyakit kencing batu dan batu ginjal, sehingga tuwak dianggap jamu yang mujarab bagi masyarakat kota ini. Na untuk dampak negatifnya bisa kalian simpulkan sendiri. Tuwak juga kurang baik jika di konsumsi berlebihan, karena bisa menyebabkan pemyakit liver dan perut membasar.

Tuwak di kota ini biasanya paling enak dimunum dengan gelas yang terbuat dari bambu atau yang lenih di kenal dengan centak, istilah dari kota ini. Tak jarang jika centak atau gelas yang pakai untuk minum tuwak biasa di buat logo dari beberapa komunitas kota ini. Sebab tuwak beserta centaknya seakan melekat kuat di kota ini. Dan bila berlogo centak seakan menunjukan asal usul mereka dari kotaku ini.

Budaya meminum tuwak masyarkat kotaku.





***
Itu tadi gaes, sedikit pemeparan yang tergolong lumayan panjang dari pada yang lainnya 😁 tentang tuwak di kota ini.

Sekian pemaparan makanan dan minum khas dari kota ya gaes... Gimana minat berkunjung kemari kah kamu?

(Y R S)

Kotaku 1

Kotaku 1


KOTAKU. Kota kecil yang terletak di ujung barat laut Jawa Timur. Ya. Kota ini adalah kota kelahiranku. Juga kota yg saat ini sedang aku singgahi. Meskipun sebagian masa kecilku terlewatkan di ibu kota. Tapi saat remaja aku kembali pulang pada kota kelahiran tercinta ini.

Ada bermacam kisah terlewatkan di sini. Ada suka bercampur duka. Begitu pun sebaliknya.

Sebenarnya Kotaku ini adalah kota yang kaya. Banyak melahirkan tokoh-tokoh bangsa dan negara. Kota yang rimbun akan sejarah, ladang pangan yang melimpah. Dan hasil laut yang beraneka rupa.

Tentang hasil lautnya maklum saja hasil lautnya beraneka rupa, kota ini memiliki bibir pantai sepanjang 63 km sekaligus pemilik bibir pantai terpanjang kedua di provinsinya setelah inisial kota B di ujung timur provinsi jatim. Jadi tak heran jika berkunjung kemari suguhan wisata alamnya kebanyakan adalah aneka pantai, ada pantai dengan ribuan pohon cemara, ada pantai dengan ratusan pohon kelapa, ada pantai dengan keindahan pasir putih. Dan masih banyak lagi aneka pantai disini bahkan ada pantai dengan timbunan tumpukan sampahnya. Sampai pantai dengan pelabuhan megah milik kaum borjuis yaitu dua pelabuhan perusahaan semen ternama di negeri ini.

Soal wisata di kotaku selain ada aneka pantainya. Juga ada wisata religi ziarah wali. Dari beberapa wali yang ada di kota ini. Temukan saja di dekat pusat kota ini juga ramai berlalu lalang peziarah dari berbagai kota.

Selain itu kota ini juga terkenal dengan kota seribu 1000 goa. Dimana lokasinya banyak perbukitan kapur. Entahlah apa yang menyebabkan di zaman dahulu di kota ini banyak tercipta lubang-lubang di perbukitannya.

Ada banyak gua di kota ini. Yang populer dan banyak disinggahi wisatawan salah satunya Gua Akbar. Goa yang terletak di dekat parkiran bus Sunan Bonang. Sehingga tak jarang para peziarah juga mampir kesana. Selain ke makam Sunan Bonang. Ada masjid perut bumi, yaitu masjid di bawah tanah yang juga termasuk wisata religi kota ini.

Ada Goa Ngerong, goa yang terkenal dengan goa perairan. Pintu masuk gua ngerong akan disuguhkan dengan sungai di dalam goa, goa ini mempunyai aliran yang panjang. Entah sajuh mana panjangnya goa Ngerong, sebab dulu tim jejak petualang dari salah satu stasiun tv ini menelusinya sejauh mana Goa Ngerong ini. Alhasil mereka tak kuat di tengah jalan akibat panjangnya dalam goa. Oksigen pun semakin menipis. Sehingga tim jejak petualang keluar kembali dan gagal menuntaskan panjangnya Goa Ngerong.

Selain Goa ngerong yang terkenal dengan panjang sungainya dalam goa. Ada juga Goa Lowo. Berbeda dengan Goa Ngerong yang terkenal panjang. Goa Lowo mempunyai ruangan yang sangat luas di dalamnya. Dimana luas ruangannya di dalamnya termasuk dalam kategori 5 ruangan terluas dalam goa se Asia Tenggara. Selain Goa Akbar, Masjid Perut Bumi, Goa Ngerong, Goa Lowo. Sebenarnya masih banyak lagi goa di kota ini yang kurang terpublikasi. Juga menyuguhkan keindahan ornamen dalam goa.

Gimana gaes? Itu tadi seputar kotaku. Ada aneka pantai. Aneka wisata religi ziarah wali. Aneka goa di bumi kotaku. Juga ada Klenteng Kwan Sing Bio, rumah beribadatan umat Kong Hu Cu ini juga termasuk klenteng terbesar se Asia Tenggara. Klenteng yang menghadap laut di pusat kota ini juga bisa di jadikan sebagai wisata. Sebab di buka untuk umum meskipun itu adalah tempat ibadah umat Kong Hu Cu.

Aneh bukan kota ini. Dijuluki dengan Kota Bumi Wali. Sebab banyak makam wali di makamkan di kota ini. Tetapi memiliki klenteng terbesar se Asia Tenggara. Masih banyak keunikan lainnya ya gaes. Nantikan next tulisan di blog ini ya...

Wasalam....

Rabu, 16 Oktober 2019

Tak Ada Waktu Membicarakan Rindu 2

Tak Ada Waktu Membicarakan Rindu 2

Waktu terus berdetak. Detik demi detik. Memercik. Dikekang rindu. Ini diri berhias rias duri (rindu). Bayangmu masih indah, singgah menghuni dada. Sementara retina tak berhasil menangkap wujudmu yang nyata.

Maya, hanya maya. Berjalan terus melangkah, menengok seonggok kenangan butir rindu, yang sempat terperegok. "aku sedang Rindu!" . Apa yang hendak ku kata? Semantara kau jauh, tak mungkin ini kau dengar. Bisik suara kalbu.

Tak ada waktu yang bicara mengenai rindu. 

Tak ada waktu untuk rindu mencari titik temu.

Kuda besi jadi saksi. Pernah kita melaju. Menuju satu tujuan sama. Hanya jadi cerita yang diucapkan pena.
......

Aku dan kau. Yang kini tinggal bersama dalam rumah puisi.

Dan puisi ini sajak-sajaknya berbicara tentang sejarah yang telah reda. Di sapu hujan. Hanyut. Menggelayut. Dendam rindu terbawa arus. Masuk dalam larik sajak ini.

Tak seindah karya para pujangga yang telah bertahta. Tapi puisiku, dari ucapan rasa. Lalu bermetamorfosis menjadi kata-kata. Lalu pena menguangkan kata-kata itu, agar bisa kau baca. Meski berpisah.

Puisi ini adalah wakil dari untaian rindu, dari mulutku yang tak sampai menuju telingamu.
........

Tuban, 2019
Y R S

Selasa, 15 Oktober 2019

Tak Ada Waktu Membicarakan Rindu

Tak Ada Waktu Membicarakan Rindu

Malam ini kata hati membicarakan sunyi, semenjak hadirmu benar-benar berniat memutuskan pergi. Aku sendiri. Berdiam diri.

Di tengah malam diiringi hilir udara dan suara, dari megahnya cakrawala. Bergemuruh. Riuh. Tanda cinta kita telah runtuh.

Sunyi itu. Genang kenangan. Hadir dari luka senja. Menyita waktu semasa bedua bercumbu. Dan sayap-sayap asmara terbang, tak tau menau kemana ia akan mendarat. Kemana lagi ia akan ku cari. Kekasih!

Mega-mega masih tak lelah jua. Mengitari luasnya kolam jiwa. Bergelut senda-- nuansa romansa, terapung diatas samudra asmara. Mencari jiwa yang senyap, teredap sunyi melilit hati.

Laut dan langit. Terpisah antara jarak membelah kita. Bentang. Jauh disana (cinta). Karsa mesra. Masihkah kau tersisa? Sementara puing-puing tercecer membelenggu aku dan kau.

........

Tuban, 2019
Y R S

Senin, 14 Oktober 2019

Memandangmu 3 (Lintas Waktu)

Memandangmu 3 (Lintas Waktu)

---
Udara riuh memecah hening
Lamunku pecah.
Ada yang manis disesap mata

Kemarin aku menemukan sesuatu
Saat sepi berlama menghuni hati
Senyummu pemantik dari sekian sepi.

---
Kelip mataku baru saja terbuka
Bibirku langsung mengucap harap
Ada rindu yang muncul tak tau diri

Pagi yang buta menyapa. 
dimana senyummu?
Aku ingin bertemu kembali.

---
Langkah kaki melangkah seperti biasa
Diantara rimbun kerumunan
Ada kesepian hati yang perlahan hilang

Raja siang menyengat dengan semangat
Perjuanganku belum di ujung
Tiada lelah yang singgah.

---
Sekian menelisik jejak kemarin
Sejenak beristirah sembari meneguk sesuatu
Ada yang lebih manis dari susu

Di waktu senja fana, mentari merah
Hatiku turut memerah. Senyummu tiba
Beriring laksamana senja akanan sirna
Senyummu tak kalah indahnya.

---

Mataku masih kuat teringat kau
Legah sudah rasanya
Kini tiba pergi melintasi waktu

Malam yang tenang. 

Diantara bunga bertabur 
Senyummu belum juga kabur.

***

Kau hadir di indah mimipiku
Hanya di mimpi aku berharap lebih
Aku mengharap suatu tak pasti
Senyummu tetaplah indah 
Biarkan takdir yang mengurus sisanya.

---

Tuban, 14 Oktober 2019
Yogi Riyansyah

Minggu, 13 Oktober 2019

Memandangmu 2 (dengan secangkir kopi)

Memandangmu 2 (dengan secangkir kopi)

--- . ---
Memandangmu, kusiapkan secangkir kopi.
Kopi yang berwarna hitam. Berwajah kelam
Berharap pekat senyummu tiba melekat --

Semakin mantap ini rasa kopi
Saat senyum khusyukmu mulai masuk
Mendekat. Merapat dalam cangikir yang erat.

Menambah rasa hikmat saat disemat.
Menambah rasa nikmat saat diaduk.
Sebelum aku menegguk.
--- . ---
Memandangmu, kusiapkan secangkir kopi.
Yang berasal dari petikan kenangan.
Yang di tumbuk dengan ceruk kerinduan.
Yang di rebus dengan airmata tangis masalalu.
Agar lebih sahdu saat diseduh.
--- . ---
Memandangmu, kusiapkan secangkir kopi.

Sebuah kopi yang bernama sepi
Sebuah kopi yang hanya sendiri.

Tanpa gula yang aku sengaja —
Berharap apabila senyummu tiba
Senyummu singgah di dalamnya

Agar lebih dinamis —
saat ditambah aroma manis senyummu.
--- . ---
Memandangmu, kusiapkan secangkir kopi.

Kopi yang akan diserahkan lidah
Kopi yang akan dititipkan mata
Kopi yang akan merasuk ke kepala.

Agar dada merasa tengadah;

Saat rasa pahit mulai melilit lidah
Saat hitam mulai dipandang mata.
Saat kelam mulai hadir di kepala.

Agar dada dapat menyingkap tabir:

Ada manis di balik pahit
Ada putih di tengah hitam
Ada cerah menyatu dengan kelam.
--- . ---

Sambil memandang senyummu;
Ditemani secangkir kopi; yang airnya—
Perlahan mulai menepi mendekati sepi.

***

Sayang! Kopiku sudah habis.
Kini kau masuk dalam baris.
Desir syair yang ku ukir.

---
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah

Memandangmu 1

Memandangmu 1

Kusiapkan mata: —
Yang setia berjaga. Senantiasa terbuka;
Untuk menatap senyummu tanpa rasa kantuk.

Kusiapkan kopi: —
Yang sepenuh hati. Setia menemani;
Menyerahkan tatapannya pada sang pecinta.

Kusiapkan kaki: —
Yang senantiasa berdiri. Didepan kau;
Tanpa ada rasa ingin pergi; senyummu singgahi.

Kusiapkan tangan: —
Yang berkolaborasi dengan angan menulis puisi.
Senyummu mempercantik barisan larik puisi.

Kusiapkan nafas: —
Yang teratur mengulur udara;
Agar cinta tak terhempas;
ku tahan dalam paru-paru yang berbau haru.

-----
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah

Sabtu, 12 Oktober 2019

Untuk Kata Rela

Untuk Kata Rela

Teruntuk kau; yang pernah singgah
Menjadi bagian indah dari semestaku

Kau yang pernah di jantungku
Dimana setiap detaknya adalah gemah
Kau serasa menyatu di setiap detik kehidupan.

Wajahmu pernah mengalir dalam darahku
Di setiap sel adalah lesung pipimu
Di setiap aliran adalah bibirmu
Senyummu ada di setiap jengkal dariku.

Namamu selalu menghuni paru-paru
Hembusan itu adalah rangkaian doa
Membawaku tuk selalu mengecupmu dari jauh

Dari rasa, yang sebagian besar tak terkata
Hatimu adalah menara yang pernah kupanjat
Untuk menggapai puncaknya.

Kau adalah serangkaian kisah
Yang indah di masa lalu
Juga perjuangan untuk masa depan.

---
Tuban, 2019
Y R S

Terimakasih Masa Lalu

Terimakasih Masa Lalu

Terimakasih kenangan :
Telah berkenan kutuang dalam buku.

Terimakasih kehadiran :
Telah memanjakan mata. Dalam bentuk indah.

Terimakasih rasa :
Berdua. Pernah kita merasa sama. Sebelum sirna.

Terimasih rindu :
Yang pernah berjalan menyusuri waktu. Di kehidupanku.

Terimakasih cinta :
Pernah berbagi. Lalu pergi;
Dan aku menyalinnya dalam puisi.

---
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah

Perjalanan di masa lalu.

Jumat, 11 Oktober 2019

Rintik Senja




Rintik Senja

Picisan menghias awang. Cemberut
Muram berwajah kabut, ingin tenggelam
Kekanan-kekiri, mencari pelangi.

Yang hinggap memberi warna.
Masih jauh tak nampak jua.

Semburat mentari senja tua
Di langit yang semakin redup
Semakin lembab saja ini udara.

Rintik senja berjatuhan
Ricikanmu jatuh dengan ramah
Membasahi tanah yang sedang menengadah
Asal jangan pada pipimu, kekasih...

Kau masih sanggup tersenyum?
Atau tak kuasa menahan semua guratan
Saat ribuan rindu asik bersembunyi
Perlahan kau juga ikut menepi.

Tersenyumlah kekasih...
Lekaslah merekah di singgasana tahta.
Agar kawan bidadarimu tiada gundah
Bermandikan cahaya pelangi.
Dari wajahmu (Wajah semesta)

---
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah

Rabu, 09 Oktober 2019

Eurifaessa

Eurifaessa

Di pandang mentari pagi; Menendang mataku
Di paksa terbuka. Sebelum mengerlip; —
Aku masih asik! Nikmati alam; serasa malam.

Embun pagi yang melambai; Terberai begitu santun
Setekun udara. Yang berhimpun; —
membentuk debus angin; Berhembus di angan.

Kau tiba! Rongga muka mengecup dengan mesra
Meletup membentuk lingkar ujar; —
Cinta kita di hari tua; semoga tuba tak pernah tiba.

Mentari senja kini depan mata; masih adakah cinta?
Di tengah sinar temaram bergelut; —
Senda; yang tak ingin menjadi sendu.

Kita: sepasang rindu yang setia menyusuri waktu.
Bersama waktu terus melaju. Menuju; —
Haribaa'an hangat. Yang melekat seluruh badan.

Semoga itu selalu ku ingat; 
tentangmu; tentang kisah kita.

---
Tuban,2019
Yogi Riyansyah

Selasa, 08 Oktober 2019

Usaha Melupakanmu

Usaha Melupakanmu

--- . ---
Bagaimana bisa aku melupakanmu:

Saat langkah sudah berpindah ke lain tanah
Saat mata sudah susah menjamah wajah
Cintamu di hatiku masih terejawantah.
--- . ---

Bagaimana bisa aku melupakanmu:

Saat ucap harap dari sembir bibirmu
Masih terrekam dalam telingaku.

Saat senyum manis dari pipimu
Masih tergambar jelas retina mataku.

Saat tangan halusmu masih menempel
Pada luas telapak tangaku.

Saat lincah manja lakumu
Masih tergambar dalam benakku.

--- . ---

Bagaimana bisa aku melupakanmu:

Saat detik waktu terus berlalu
dan aku berusaha melupakanmu —
Terasa sisa-sia jua ujungnya —
Bayangmu melekat dalam bayang angan.

; Sekujur masalalu; yang telah layu.

--- . ---

Lantas bagaimana untuk melupakanmu:

Sementara kau sering melintas
Menindas kepalaku paling atas.

Atau,

Kubiarkan kau mengalir;
Dalam sajak hilir syair
Berisi rindu dari kenangan
Yang terus berdesir.

--- . ---

Tuban, 2019
Yogi Riyansyah

Minggu, 06 Oktober 2019

Jaka Tarub Datang Lagi dan Gagal Mencuri selendang

Jaka Tarub Datang Lagi dan Gagal Mencuri selendang


JAKA TARUB, siapa yang tak kenal dengan kisah Jaka Tarub, yang hidup pada masa jaman dinasti mataram , yang mencuri selendang Nawangwulan, seorang bidadari dari khayangan yang mandi di sungai bersama 7 temannya. Hal ini menyebabkan Nawangwulan dikutuk dari khayangan. Dan tidak dapat kembali lagi. Alhasil Nawangwulan diperistri oleh Jaka Tarub.

Kisah ini akan menceritakan seorang Jaka Tarub pemuda dari suku jawa yang ingin mengulangi kisah mencuri selendang untuk kedua kalinya. Namun usaha dari Jaka Tarub menemui jalan buntu.

Kehidupan Jaka Tarub memandu cinta dengan Nawangwulan berjalan sangat mesra kehidupan mereka dikaruniai orang 3 anak laki-laki. Raut wajah Nawangwulan masih terjaga kecantikannya meskipun sudah menjadi ibu rumah tangga dengan 3 orang anaknya. Jaka Tarub sebagai seorang ayah pun giat bekerja sehari-harinya untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Dalam kisah ini Jaka Tarub pun di kenal sebagai pribadi penyayang dalam keluarganya.

Nawangwulan yang pernah menjadi bunga desa saat diperistri pertama kali oleh Jaka Tarub memang banyak menyita perhatian warga desa ketika itu. Bagaimana tidak Nawangwulan adalah bidadari dari khayangan. Bahkan sampai dirinya sudah beranak 3 masih banyak pria di desa yang bereneka usia mulai dari pemuda hingga paruh baya menaruh harapan pada Nawangwulan. Alasan mereka semua sama. Terpesona karena kecantikan Nawangwulan. Namun hal ini tak menggoyahkan sedikitpun ikrar kesetiaan Nawangwulan pada Jaka Tarub.

Kehidupan Nawangwulan setalah menikah lalu melahirkan anak lebih sering menghabiskan waktu dengan suami dan buah hatinya.

Nawangwulan juga sering mengabaikan setiap lelaki yang pernah datang dan bilang mencintainya dan mengingkan Nawangwulan dijadikan istrinya. Mereka datang bertamu rumah saat Jaka Tarub sedang bekerja mencari nafkah. Hal ini ia abaikan karena Nawangwulan menghargai Jaka Tarub sebagai suaminya. Tak ingin menghianati saat Jaka Tarub sedang bekerja untuk dirinya.

Begitu pun dengan Jaka Tarub yang mulanya masih menjaga kesetiaanya kepada Nawangwulan. Namun, semua itu berbubah setalah Jaka Tarub mengalami masa puber keduanya. Jaka Tarub yang mulanya tidak tertarik melihat wanita mana pun kesetiaannya mulai goyah dan ingin menikah lagi dengan wanita lain.

Tetapi dalam  pemikiran panjang Jaka Tarub, dirinya masih memilah wanita yang kecantikannya melebihi Nawangwulan atau setidaknya setara dengan kecantikan Nawangwulan. Hal tersebut sepertinya teramat mustahil bagi Jaka Tarub untuk mendapatkan wanita lain yang kecantikannya melebihi Nawangwulan atau setidaknya setara.

Demi menuruti ambisi Jaka Tarub yang ingin menikah lagi. Akhirnya Jaka melanjutkan kebiasaanya dulu yang sering bertapa dan mermeditasi. Tetapi kegiatan seperti itu. Sering kali dilakukan pada malam hari saat beristirahat. Sebab saat pagi atau siang Jaka Tarub harus bekerja.

Kegiatan pertapaan Jaka Tarub mendapat cukup banyak halang rintang. Sebab pertapannya terlihat berlebihan dari hari-hari sebelumnya. Hal itu memancing tanda tanya dari keluarga kecil Jaka Tarub. Termasuk istri Jaka Tarub yang mulai curiga.

Tiba saat keluarga kecil tersebut berkumpul di ruang tamu dan terjadi pembicaraan ringan.

"Ada perlu apa mas, kok meditasinya tak ssperti biasanya?" Tanya Nawangwulan saat duduk bersantai di ruang tamu dengan keluarga.

"Tidak ada apa-apa, hanya saja aku ingin mengulang masa-masa dulu, seperti sebelum menikah. Buah hasil dari pertapaanku adalah mendapatkan istri canti seperti dirimu."  Sembari meminum teh hangat di depannya.

Selain dari istri Jaka Tarub, pertanyaan curiga juga muncul dari putra sulung Jaka Tarub.

"Iya, ayah kok tumben meditasinya kok sekarang setiap hari?" Pertanyaan lugu muncul dari putra sulungnya.

Jawaban sang ayah juga sama seperti jawabannya pada istrinya
"Tidak apa-apa nak, cuma ayah hanya ingin mengasah kemampuan ayah yang seperti dulu." Sambil melemparkan senyum kepada anaknya.

Belum tambah lagi. Putra bungsunya yang masih kecil juga sering menangis saat tengah malam. Saat Jaka Tarub sedang bertapa.
***

Di bulan pertama dan bulan kedua pertapaan Jaka Tarub seperti pohon yang besar dan tak berbuah. Namun hasil dari pertapaannya mulai nampak pada bulan ke tiga.

Sinyal-sinyal kecil yang datang dari khayangan tempat asal Nawangwulan berhasil ditangkap oleh Jaka Tarub dalam pertapaannya. Sinyal kecil ini serupa dengan apa yang ia dapati saat pertama kali berjumpa dengan Nawangwulan.

Sinyal kecil itu adalah sebuah kabar dari khayangan. Bawasannya adik dari Nawangwulan yaitu Nawanglintang akan datang ke bumi, untuk menjenguk mbaknya.

Tentu saja Jaka Tarub ingin memanfaatkan momentum ini. Dengan siapa Nawanglintang akan datang? Apa seperti kedatangan Nawangwulan dahulu yang bertujuh dengan teman-temannya atau Nawanglintang datang seorang diri. Sayang, semesta sepertinya tak memberi jawaban atas pertanyaan itu.

Kabar sejuk dari khayangan juga diberitahukan pada Nawangwulan melalui mimpinya.
***

Tiba saat yang ditunggu-tunggu Jaka Tarub, adik dari Nawangwulan telah tiba di bumi. Daratan pertama yang dipijaki di depan rumah dari Nawangwulan. Nawanglintang pun mengetuk pintu rumah tanda kedatangan seorang tamu. Nawangwulan yang membukakan pintu pertama langsung terkejut melihat kedatangan Nawanglintang ke rumahnya. Alhasil mereka saling melepas rindu dan berpelukan hingga cukup lama.

Jaka Tarub yang sore itu masih belum pulang dari tempat kerjanya, belum mengetahui secara langsung bagaimana pesona kecantikan Nawanglintang.

Tiba di waktu senja. Ada wajah yang bersemu merah, mata melongoh, bibir bergetar dan jantung berdegub lebih kencang. Saat Jaka Tarub yang baru pulang dari tempat kerjanya melihat secara langsung kecantikan Nawanglintang.

"Kau siapa?" Tanya singkat Jaka Tarub sambil bergetar.

"Ohh ini. Kenalin mas, ini adikku Nawanglintang dari khayangan yang datang kemari untuk menjengukku." Tersenyum bahagia dengan hati yang lantang istri Jaka Tarub menjawab.

"Haa... Dari khayangan? Kok bisa, apa ini tak salah, dik?" Semakin gemetar saja Jaka Tarub menghadapi situasi ini.

"Tidak mas, iya benar ini adikku. Semalam lewat mimpi aku dapat kabar dari khayangan tentang kedatangan adikku. Dan ternyata benar, Nawanglintang tiba kemari. Sambil memeluk Tubuh Nawanglintang

Jaka Tarub pun masuk ke dalam rumah untuk merebahkan tubuhnya. Sementara Nawanglintang malah ketakutakan melihat kedatangan Jaka Tarub. Ia Takut seperti mbaknya yang tidak bisa kembali ke khayangan akibat lelaki.

Malam hari tiba. Langit berbintang serta rembulan bersinar terang menghiasi atap rumah mereka. Malam Nawangwulan tidak tidur dengan Jaka Tarub, melainkan menemani kehadiran sang adik tidur di kamar lain. Sementara Jaka Tarub yang malam itu tak bisa tidur menguping pembicaraan Nawangwulan dengan sang adik.

"Adik, besok ayo aku ajak jalan-jalan, mumpung kamu masih berada disini."

"Jalan-jalan kemana mbak?"

Kebantaran sungai, sekalian mandi disana ya nanti. Aku ingin mengenang masa-masa saat datang kemari dengan teman-teman dari khayangan."

"Tapi mbak...."

Nawangwulan langsung memotong pembicaraan sang adik.

"Ah, tak mengapa kok. Tenang saja. Dan ada mbak disini. Lagian besok kamu kan sudah kembali ke khayangan. Nanti sampaikan salam pada raja, bawasanya mbak disini hidup bahagia"

"Iya dah mbak, baiklah."
***

Pagi yang sejuk. Embun pagi menyapa mereka yang sedang berjalan menuju sungai, tempat nawang wulan kehilangan selendangnya dulu. Tak lupa slendang Nawangwulan dan Nawanglintang juga ikut dibawa kesungai. Mereka berdua mencuci pakaian dan slendang.

Jaka Tarub yang mengetahui hal ini. Langsung menyiapkan strategi demi menginginkan kehadiran adik iparnya agar menetap tinggal di bumi. Siasat pun di siapkan oleh Jaka Tarub. Selepas mengetahui kepergian mereka berdua. Jaka Tarub menyiapkan penutup wajah untuk menyembunyikan identitasnya.

Mereka berdua sedang asik mencuci pakaian dan slendangnya di sungai. Kondisi sekitar sungai saat ini berbeda dengan dulu yang masih sepi dari penduduk. Buktinya saja. Mereka tak hanya berdua, tetapi ada orang lain sekitar bantaran sungai yang ikut mandi dan mencuci pakaian di sungai.

Selesai mencuci pakaian. Mereka berdua menyiapkan diri untuk mandi. Dengan cara sama yang di lakukan Nawangwulan dulu saat pertama kali datang. Pakaian kotor dan selendangnya yang habis di cuci diletakan di atas bongkahan batu di pinggiran sungai setelah itu mereka berdua mandi agak jauh, tepatnya di bagian tengah sungai.

Melihat pakaian dan slendang mereka berdua yang tergeletak. Jaka Tarub mulai mengintai dari balik pohon jati. Kali ini ada dua selendang yang berwujud sama persis. Berbeda dengan dulu saat Nawangwulan dengan tujuh temannya. Selendangnya beraneka warna.

Mereka berdua telah meninggalkan batu dan berada di tengah sungai. Arah pandang mereka berdua juga sudah menyingkuri batu tempat selendang di letakan. Itu tandanya misi Jaka Tarub untuk mencuri selendang kali dua siap untuk dilakukan.

Langkah demi langkah secara pelan-pelan dilangkahkan oleh Jaka Tarub, lengkap dengan penampilan penutup wajah menghiasi wajah Jaka Tarub.

Setibanya di bongkahan batu besar. Jaka Tarub sedikit kebingungan. Kenapa selangnya sama persis? Mana milik Nawanglintang. Jaka Tarub tak punya banyak waktu, takut mereka berbalik badan. Tanpa berpikir panjang lebar Jaka Tarub menggunakan teknik pilihan *sira siru* layaknya permainan anak kecil di suku jawa untuk memilih salah satu selendang. Setelah mendapati salah satu selendang. Jaka Tarub langsung melarikan diri. Usahanya seakan mulus tanpa rintangan untuk mencuri selendang bidadari yang kedua kalinya.

Nawangwulan dan Nawanglintang yang telah  selesai mandi. Melihat salah satu selendang itu hilang. Nawanglintang gugup tak karuan. Pasalnya ia takut tidak dapat kembali ke khayangan. Namun Nawangwulan sebagai saudara tua mampu mencairkan suasana.

"Tenang saja. Selendang kita kan sama adik, kau juga bisa pakai punyaku untuk kembali. Kalau punyaku hilang ya suadah. Biarin aja. Lagian aku sudah tidak lagi kembali ke khayangan." Nasihat Nawangwulan dengan santainya.

"Mbak nggak papa to kehilangan selendangnya lagi?" Sambil mengatur nafas, setelah nafas Nawanglintang tadi sempat tersegal.

"Sudah tidak papa adik, yang penting kamu bisa kembali dulu ke khayangan." Nawangwulan Sembari memberi senyum untuk adiknya.

"Hemm. Iya deh mbak kalo gitu." Nawanglintang menundukan kepala tanda mengiyakan.

"Ya sudah ayo kembali ke rumah. Setelah ini kamu kan persiapan untuk kembali ke khayangan. Jangan lupa pesanan mbak kemarin sampaikan pada raja khayangan ya."

Mereka berjalan bersama kembali untuk pulang ke rumah. Setidaknya keputusan Nawangwulan tadi menenangkan hati sang adik.

Sampailah mereka di rumah. Nawanglintang mulai mempersiapkan berpamitan dengan keluarga Nawangwulan di bumi. Sementara Jaka Tarub yang telah berhasil mencuri salah satu selendang dari mereka sedang tertidur puas. Karena Nawanglintang hendak berpamitan meninggalkan bumi. Jaka Tarub pun dibangunkan oleh istrinya.

Terkejutlah Jaka Tarub mengetahui hal ini. "Bagaimana bisa kembali, selendangnya kan aku curi satu?" Hati Jaka Tarub di hujanni pertanyaannya sendiri.

Pamitlah Nawanglintang untuk kembali ke khayangan. Tepat di halaman rumah Tubuh Nawanglintang yang membawa selendang di pundaknya perlahan naik ke atas. Jaka Tarub dengan keluarga kecilnya dari bawah melambaikan tangan tanda salam perpisahan. Naiklah Nawanglintang dan perlahan menghilang tak terjamah mata.

Nawangwulan langsung kembali masuk  kerumahnya. Kali ini Jaka Tarub sedang libur bekerja. Nawangwulan melanjutkan aktivitas seperti biasanya sebagai ibu rumah tangga. Kali ini pekerjaan Nawangwulan adalah merapikan baju yang telah usaindi cuci untuk diletakan di dalam lemari.

"Astaga.. apa ini? Ahh Mas Jaka rupanya tadi sampian to yang mencuri selendang." Nawangwulan terkejut.

Jaka Tarub yang mendengar hal itu mulai ketakutan. Takut mengetahui apa maksud pertapaannya selama ini untuk apa.

"Ah Mas Jaka bisa saja... Ciyee yang mau flasback mengenang jaman dulu ya. Sayangnya aku sudah tak lagi kembali ke khanyangan. Jadi aku sudah lebih bahagia hidup bersama sampian dan anak anak, mas." Nawangwulan terkekeh melihat tingkah suaminya itu.

Sementara degub ketakutan Jaka Tarub berubah menjadi canda tawa dengan istrinya. Hal ini juga membuat Jaka Tarub sadar. Bawasannya tidak akan ada habisnya jika hidup kita menuruti nafsu semata.

Sekian....
****

Hanya cerita Fiktif untuk memenuhi tantangan odop 7.

(Yogi Riyansyah)

Sabtu, 05 Oktober 2019

Mentari Berseri Di Hati Yang Murung

Mentari berseri di hati yang murung

Bersinar mentari di pagi hari. Panas berkekuatan tinggi menghujanpanaskan langit. Membiarkan yang bermain tetap tenang menikmati hadir sinar mentari, yang hadir menyinari pelita. _"Agar aku dapat menatap senyummu dengan jelas"_. Dan aku menangkap wajahmu yang indah kusalin didada.

Betapa bahagianya ini mata. Dimanjakan aroma manis dari tubir bibirmu. Kau tarik pipimu lebih simetris. Lebih dinamis. Menambah indah kearah yang lebih indah. Lebih manja teruntuk mata, agar senantiasa terbuka saat kita bermuwajahah.

Kutarik dikau. Kugandeng lenganmu. Nimamati cuaca hari. Sedang cerah. Juga ini hati yang sedang berbunga. Dan ada cinta yang mekar di tengah-tengahnya. Pongah aku. Ia merekah. Cinta....

Bagaimana bisa aku berpaling. Semantara wajahmu yang indah, selalu melayang membayang di kepala. Kau lirih. Kasih!. Untuk berpaling sungguh aku tak ingin.

Akupun ingin mengkayuh bersama empat dayung satu bahtera. Bersamamu!. Menjadi pelayar ulung mencoba betahan diterpa deras aliran yang nuju kebahagiaan.

Ini kali mengalir deras menyeret pada sinar-sinar yang redub.
Semula terang berubah remang
Semula tenang berubah bimbang.

Dihati yang murung. Selepas cintamu bergemuruh. Riuh-riuh itu. _ternyata_ hanya kunikmati seorang diri. Baru tersadar aku. Semula berlalu begitu indah. Seindah wajah saat aku bermuwajahah.

----
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah