Senin, 18 November 2019

Kerinduan Terakhir

Assalamu'alaikum....
Jumpa lagi di postingan one day one post. Setelah sebelumnya mengalami musim salju di Negara Odop yang membuat para member di Odop batch 7 malas melakukan aktifitas seperti biasanya.

Mereka hanya menghabiskan waktu dengan bersantai dan menikmati datangnya musim salju, yang membuat aktivitas di negara Odop bagian 7 di liburkan. Dan pada tulisan kali ini sudah berbeda ya gaes. Karena sudah di bagi kelas fiksi dan non fiksi. Saya selaku presiden di akun blok ini masuk dalam kelas fiksi. Dimana dalam kelas ini saya ingin meningkatkan imajinasi agar bisa terbang layaknya garuda yang terbang dengan gagah.

Oke langsung saja. Tulisan kali adalah tugas membuat ulasan dari salah satu cerpen dari ngodop.com dan saya akan mengambil cerpen yang berjudul kerinduan terakhir.
***
Gambar di ambil dari link di bawah ini :


Unsur intrinsik

Tema
Cerpen yang beraroma teenlit dari Winarto Sabdo satu ini memang diatur dengan alur yang luar biasa. Dikisahkan seorang Arimbi seorang gadis yatim-piatu dan hidup sebatang kara yang menjalin hubungan dengan Yatijo seorang buruk rupa dam mempunyai kekurangan fisik di kaki kirinya. Arimbi yang memutuskan pergi ke kota meninggalkan sebuah janji pada Yatijo bila dirinya nanti kembali akan menikah dengan Yatijo. Kesetiaan Yatijo cukup besar. Bahkan kesetiaan Yatijo dianggap gila oleh lingkungannya. Karena kesetiaan Yajito menunggu Arimbi untuk pulang harus menempuh perjalanan menyusuri waktu yang cukup panjang. Tetapi di ujung rindu dari Yatijo pada Arimbi telah mencapai titik temu kerinduan itu berakhir dengan tragis dan mengharukan.

Alur
Alur yang digunakan adalah alur maju. Arimbi sebagai pelaku utama sempat terlena dengan kehidupan yang ia jalani di kota. Ketenaran gadis desa ini mulai naik daun saat di kota. Tetapi sepuluh tahun berselang di tengah ketenaran Arimbi, tamparan datang dari semesta saat dirinya jatuh sakit. Yang membuatnya mengingat janji manisnya pada kekasihnya yang menunggu di desa. Arimbi pun memutuskan untuk pulang ke kampung halaman bertemu dengan Yatijo.

Latar
Karena cerpen ini berkisah tentang sebuah perjalanan latarnya pun mengalami perpindahan. Bermula dan terminal bus saat Yatijo mengantar Arimbi naik bus yang membawanya menuju kota perantauannya. Sesampai Arimbi tiba di kota ia sempat bekerja di sebuah tempat lokalisasi. Dan sampai di paragraf akhir cerita Arimbi kembali lagi dari kota ke desa asalnya untuk memenuhi janji dari kekasihnya.

Tokoh dan perwatakan
Terdapat 2 tokoh utama dan satu tokoh selingan yang hadir dalam cerita ini. Yatijo yang bersifat baik dengan memegang janji kesetiaan Arimbi yang sempat terlena dengan kehidupan di kota yang ia jalani. Sementara Narni, sebagai tokoh selingan mempunyai pengaruh besar pada perubahan diri Arimbi saat di kota. Narni adalah teman Arimbi yang menjebaknya untuk menjual keperawanan pada seorang anggota dewan dengan harga melangit.

POV
Point Of Viewnya terletak pada diri Arimbi yang menyesali perbuatannya saat meninggalkan Yajito mengalami masa haru di ujung hidup Yajito yang mendadak menjadi gila karena dibutakan janji manis Arimbi. Ketika Arimbi datang memenuhi janji manisnya dirinya seakan dibuat tak berdaya dengan takdir semesta. Sebagian ingatan akal sehat Yatijo menghilang, akhirnya ia melupakan Arimbi. Namun saat ingatan Yatijo kembali sayangnya padangan mata normal Yatijo sudah pergi. Dan ia menghembuskan nafas terakhir dengan kata "A..ku... Se.. tia.. padamu, Ar... rimbi..."

EBI
Secara keseluruhan penulis sangat memahami teknik penulisan. Tetapi masih ada setitik kata yang typo. Seperti nama tokoh Yatijo. Di bagian paragraf mendekati akhir ada yang typo dengan penulis nama ini yang ditulis Yatijob. Ada yaitu kata luar biasa yang juga typo dengan kata kuar biasa. Tetapi setitik kesalahan menulis abjad ini bagi saya tidak begitu masalah. So pasti pembaca sudah paham ada yang di maksud penulis dengan setitik typo ini. Memang benar kata orang jawa "Becik ketitik ala ketara" sepercik itu seakan menodai ribuan abjad yang telah tertata rapi.

Unsur Ekstrinsik
Cerita ini membawa pesan moral yang cukup besar untuk pembaca selain memahami alurnya yang mudah penulis menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca.

(17 November 2019, YRS)

Minggu, 03 November 2019

Manisnya Sukabumi

Tantangan ini adalah tantangan pekan terakhir, sebelum resmi diterima menjadi member di ODOP batch 7.

Berbeda dengan postingan sebelumnya. Kalo kemaren adalah cerita bersambung. Kali ini postingannya akan mengupas sebuah biografi dari seorang perempuan yang statusnya masih sama seperti saya, calon anggota odop batch 7. Tetapi bukan dari Grup Tokyo (grup maya, juga tempat jari jemari ini bermukim selama kurang lebih dua bulan berproses di odop) si perempuan manis satu ini dari pemukiman Grup Valleta.

Langsung saja ya gaes, gak usah pake prolog panjang lebar. Kalo kepo silakan selami deret aksara bawah ini.
***

MANISNYA SUKABUMI
Foto Yulia dari Akun Facebook miliknya.

SUKABUMI, sebuah kota di provinsi Jawa Barat ini jika kita tinjau dari namanya, sepertinya orang sana sangat mencintai buminya. Begitu pun dengan Yulia, salah satu calon anggota odop batch 7 dari Kabupaten Sukabumi ini sangat mencintai nama Sukabumi, hal ini ditunjukan dengan keberadaannya yang tak pernah boyong meninggalkan alamat Sukabumi di statusnya.

Yuli. Panggilan akrab Yulia. Gadis manis yang Lahir di Kabupaten Sukabumi tepatnya pada tanggal 16 April 1999. Hingga kini nama Sukabumi masih melekat di alamatnya. Meskipun mengalami perubahan pada kata depan, dari Kabupaten Sukabumi ke Kota Sukabumi. Perubahan tempat tinggalnya tergolong masih baru, semenjak dirinya kuliah di STAI Al Masthuriyah.

Masa Kecil Yuli di habiskan di kota Kelahirannya. Begitu juga dengan masa sekolahnya. Yaitu SDN Minajaya, Madrasah Tsanawiyah Pasiripis, dan jenjang SMA di Madrasah Aliyah Negeri Surade. Sebuah Madrasah Aliyah Negeri di Kabupaten Sukabumi.

Di masa saat Yuli Aliyah dirinya juga menjadi santri yang mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Ulul Albab selama 3 tahun. Sebuah pondok yang sangat berjasa besar dalam hidupnya. Sebuah pondok yang mengenalkan nahwu sorof atau yang dikenal sebagai kunci untuk membaca kitab kuning. Bagi kalangan awam nahwu sorof adalah pelajaran sangat susah, bahkan terkadang ada juga santri yang bertahun tahun di ponpes tetapi tidak menguasai kitab kuning. Oleh karena itu pendidikan di ponpes Ulul Albab baginya membawa penggaruh besar.

Selain pernah menjalani kehidupan di Ponpes Ulul Albab, Yuli kini juga masih aktif mengabdi di dunia pesantren. Kesibukannya selain sebagai mahasiswi STAI Al Masthuriyah, dirinya kini juga abdi ndalem di Pondok Pesantren Al Masthuriyah Sukabumi.

Kehidupan pesantren seakan melekat kuat dalam dirinya. Sudah lima tahun lebih semenjak lulus SMP kehidupannya berlalu di pondok pesantren. Yuli juga sempat menunda kuliahnya setelah lulus aliyah selama satu tahun. Masa tunda itu dimanfaatkan oleh Yuli dengan tetap belajar di pondok.

Nah sobat. Mbak Yuli ini mbak santri yang menawan loh. Haa.. kok bisa saya bilang begitu? Untuk lebih lanjutnya. Jari jemari kalian jangan lelah untuk menggeser bagian bawahnya lagi ya. Untuk mengenal Mbak Yuli, yang juga mbak santri satu ini lebih dalam.

Dari mana datangnya lintah,
dari sawah turun ke kali.
Dari mana datangnya cinta,
dari mata turun ke hati.

Ciyee penulis blog ini terpesona dengan kecantikan mbak Yuli ya? Hehe.... Soal terpesona dengan kecantikan Mbak Yuli sih tentu saja bukan. Karena saya dengan Mbak Yuli bermuwajahah baru nol kali. Loh kok nol kali? Iya. Saya selaku penulis dari biografi Mbak Yuli, mata saya belum pernah satu kali pun menangkap senyum manis dari Mbak Yuli secara nyata.

Nah, kalo belum pernah menatapnya langsung. Kenapa di atasnya ada kata-kata Dari mana datangnya Cinta, dari mata turun ke hati. Iya benar kok saya selaku penulis dari biografi Mbak Yuli. Memang terpesona dengan mbak yuli. Bukan kecantikannya, tetapi terpesona pertama kali setelah membaca tulisannya yang membahas seputar tentang dirinya sendiri di akun blog milik Mbak Yuli. Tulisan itu dikemas dengan bahasa sederhana yang menjadikannya terlihat WAH. Tulisannya saja bagiku WAH, apalagi orangnya? Sebuah hal yang melatari saya di tantangan terakhir ODOP memilih Mbak Yuli untuk di kupas biografinya.

Cukup mengagumi saja ya sobat. Karena orangnya si dia bilang sudah punya calon. Duar auto ambyar. Tenang. Saya menyukainya lantaran-ketika tongkat sastra dipegang seorang santri. Maka akan terciptalah sebuah karya yang indah. Sebagain besar penyair idola saya adalah beraliran sufi. Oleh karena itu saya tak bisa membayangkan bila si manisnya Sukabumi ini menyelami lautan sastra lebih dalam hingga ke palung lautnya.

Mengetahui sepercik kisah hidup Mbak Yuli lebih dalam dari sesi tanya jawab melalui via Wa. Membuat jemari ini rasanya lebih semangat untuk menuliskan tentangnya. Tentang Mbak Yuli. Meski hubungannya hanya lewat maya.
***
Aku hanya pernah
menangkap senyummu lewat maya.
Semua itu terlalu indah.
Terlalu indah tuk di bayangkan
Juga terlalu indah untuk dijadikan nyata.
---
Padahal sekali saja mataku belum pernah menangkap manisnya bulan sabit yang terbit di sembir bibirmu. Tetapi menatapmu lewat maya, mengetahui sejengkal tentangmu,  dan membaca tarian jemarimu di atas keyboard. Semuanya seperti pelangi berlapis 8 warna. Padahal pelangi hanya 7 lapisan warna. Kau sudah lebih dari lebihnya semesta dalam diriku.
***

Sedikit pemanis dari arah pandang saya mengenai Yulia ya gaes. Jangan banyak-banyak. Nanti muak bacanya.

kalo tadi kita membahas seputar kehudupan Mbak Yuli. Kali ini kita masuk dalam bahasan dunia menulis dari Mbak Yuli ya.

Mbak Yuli saat ini mempunyai hobi menulis. Hobi menulis ia temukan setelah mendapat pelita ketika ribuan kata-kata yang tersusun dalam sebuah buku pernah dinikmati otaknya dengan asik.

Hobi mulanya adalah membaca. Ia gemar membaca novel. Dalam satu harinya bisa mengkhatamkan satu novel. Hehe... Hebat bukan? Hobi membacanya ini mengalami perubahan menjadi menulis, setelah dirinya merasa mengapa harus menikmati karya orang lain saja. Suatu saat karya dari tangannya sendiri ingin ia baca sendiri dengan asik. Ataupun di baca orang lain, atau bisa di baca banyak orang. Nah dari sana lah debut hobi menulis Yulia dimulai.

Yulia tentu saja tidak berdiam diri untuk mewujudkan mimpinya menjadi penulis. Agar karyanya bisa dibaca banyak orang. Dan langkah saat ini yang Yulia ambil adalah bergabung ke komunitas One Day One Post. Sebuah komunitas yang mengharuskan calon anggotanya mengepost tulisannya setiap hari sepanjang hari yang telah ditentukan. Hal ini agar calon anggota ODOP (One Day One Post) bisa memproduksi tulisan lebih produktif. Disini tidak hanya yulia yang belajar saya pun belajar agar kita ulet dengan tetap menulis.
***

Sukabumi, sebuah kota Yulia berasal. Digadang Akan punya Penulis Fenomenal di masa depan. Ah iya. Ah masak. Benar nggak sih.? Menjadi seorang penulis adalah sebuah mimpi yang di cita-citakan Yuli. Soal kedepannya berhasil atau tidak sebaiknya pasrahkan pada Yang Maha Kuasa. Yang terpenting Yuli sudah melakoni usaha untuk mewujudkan mimpinya.

-----
Lasem, 3 November 2019
Yogi Riyansyah


Anak Pesisir

Bab 5
Renunganku

Malam terlalu larut. Sementara pagi masih terlalu dini untuk diakui. Arif menapaki jalanan desa setalah dari rumah Andre untuk pulang dengan rimbun tanda tanya. Ia khawatir istrinya masih ramah, ia khawatir Andre memecat dirinya dari perahu tempatnya berlayar. Yang lebih ditakuti lagi ia takut rumah tangga yang telah lama tertata jadi berantakan. Bagaimana dengan uang pinjaman kemarin itu? Tetapi pertanyaannya terakhir itu ia tak begitu mempermasalahkannya. "Ah tenang hari ini kan hasilnya lumayan. Lumayan juga lah untuk mengembalikan uang kemaren yang telah di buatnya mabuk." Begitulah kata dalam hati Arif yang dihantui dengan segala ketakutan.

Ia mengetuk pintu rumahnya. Tak ada suara jawaban dari dalam rumah dan rumahnya pun tak terkunci. Arif langsung membuka pintu dan masuk. Terlihat Sundari dan Anaknya sudah tertidur lelap. Arif tidur di samping istrinya sambil mengecup keningnya dan mengelus dahi istrinya sambil berkata dalam hati: semoga semuanya baik-baik saja untuk kedepannya.

Malam yang larut itu dimanfaatkan Arif memejamkan matanya sejenak meski sebentar lagi bila fajar tiba Andre akan datang untuk mengajaknya melaut kembali.
***

Burung pipit terdengar berkicau riang. Fajar mulai nampak jelas dari ufuk timur cakrawala. Arif sudah mulai terbangun dari tidurnya. Tetapi suara Andre tidak muncul untuk mengajaknya melaut.

"Mengapa Andre tidak datang kemari untuk ngajak melaut?" Tanya Arif pada Sundari yang hendak masak menyiapkan sarapan pagi.

"Aku tak tau Mas, dari tadi Andre belum datang kemari."

"Masak iya hari ini ia libur melaut? Padahal aku lagi butuh uang untuk membayar kelakuanku kemarin."

"Aku tak paham Mas. Mas Arif habis mimpi apa kok bilang gitu?"

"Ahh kamu bisa saja. Padahal kamu sendiri yang melaporkan ke Andre  kemaren waktu aku mabuk"

Arif berusaha mengajak bergurau istrinya di pagi yang cerah itu. Setelah dari kejadian kemarin istrinya membisu karena geram dengan tingkahnya.

"Oh iya mas, hari ini Lastri awal masuk sekolah smp. Bagaimana uangnya untuk daftar ulang? Kan kemarin jatah uang itu sebagian Mas Arif pakai untuk berfoya-foya." Sundari mendekati Arif yang kini sedang duduk di atas tempat tidurnya.

"Soal itu biar tutupi dulu dengan uang hasil kemarin, Dik. Kemarin Mas dapat bagian 450. Kan lumayan bisa dipakai untuk biaya masuk sekolah Lastri"

"Terus besoknya uang buat belanja mana mas? Tabungan kita kan sudah habis." Dahi Sundari mulai mengerut.

"Gampang soal itu. Soal besok dipikir besok. Lagian kalo kita tidak punya uang kan bisa hutang ke warung tetangga dulu. Bukannya kita juga sering berhutang dulu kalo belanja kesana." Senyum Arif terpampang. Senyum untuk menenangkan.

"Baiklah mas, aku manut saja. Ayo Mas Arif kamu tidak mau ikut mengantarkan Lastri hari awal masuk sekolah?"

"Tidak dik, Mas tunggu di rumah saja. Di sekolah itu kan yang banyak ibu" untuk mengantar anaknya. Mas malu dik bila datang kesana."

"Tapi Mas Arif kalau di rumah saja, jangan mengulangi tingkah kemarin ya!"

"Tidak dik, tenang saja. Sambil menunggu Andre, mungkin hari ini tidak melaut karena alat peralatan di perahunya yang rusak. Sebab kemarin hasil pembagiannya dikurangi 50 ribu perorangnya. Padahal hasil tangkapan ikan sama seperti dua hari yang lalu. Tetapi jika benar ada alat yang rusak kenapa tidak bilang ya semalam. Atau barangkali nanti datang kesini untuk mengajak kerja bakti membenahi alat yang rusak.

Sundari yang telah usai masak mempersiapkan sarapan. Akhirnya menunggu Lastri yang sedang mandi untuk diantarkan di hari pertama masuk sekolah. Dan untuk mengurusi pendaftarannya masuk sekolah.

Setelah Sundari dan anaknya pergi ke sekolah. Tinggallah Arif seorang diri di rumah. Arif menunggu kabar dari Andre selaku juragannya, namun tak nampak jua.

Bosan dengan aktifitas kosongnya akhirnya Arif memutuskan pergi ke rumah Andre untuk menanyai kabar melautnya hari ini. Keluarnya ia dari rumah dan menuju rumah Andre.

Setibanya di kediaman Andre. Rumahnya nampak kosong, seperti tak ada orang sama sekali. Ia menanyai tetangga Andre untuk mengetahui kemana keberadaan Andre sekarang. Jawaban dari tetangga mengatakan hari ini ia libur melaut untuk membenahi sedikit kendala di mesin domfeng perahunya.

Setelah mengetahui informasi itu. Akhirnya Arif pergi ke tempat parkir perahu yang kebetulan di sekitar pelelangan ikan. Di sana ia melihat Andre sedang membenahi mesin perahunya berduaan dengan Jarwo salah seorang kawan melautnya. Arif pun menghampiri yang menanyai sebuah hal "kau hari ini libur melaut, karena ada kendala di mesin ya. Kenapa tidak memberitahuku. Kalau tahu kan mungkin bisa kubantu."

"Ah tidak usah Rif, ini cuma masalah kecil kok, sebentar lagi juga rampung. Lagian hari ini. Hari pertama Lastri masuk sekolah. Kau tak ikut mendampingi di hari awal putrimu masuk sekolah?" Sambil memegangi obeng yang menempel di mesin domfengnya Andre menjawab pertanyaan Arif itu.

"Sebenarnya kamu mau aku bantu Ndre. Inikan juga termasuk kewajibanku sebagai anak buah. Selain ikut melaut juga ikut membenahi bila ada kerusakan di peruhu ini. Eh malah kamu meringankannya. Ya sudah kalo begitu aku mau bersantai dulu di selsar tempat pelelangan. Lagian aku juga tidak ikut istriku mempingi Lastri ke sekolah. Aku sungkan Ndre disana banyak ibu. Yang bapak-bapak kan pada sibuk di laut kalau pagi begini."

Andre yang masih sibuk dengan perkakas di tangannya hanya membiarkan Arif yang berjalan menuju selasar pelelangan ikan. Di tempat itu Arif hanya duduk seorang diri dan matanya memandang luasnya laut.
***

Sendiri terbenam dalam lamunan, tiba-tiba Gimo salah satu kawan lama Arif menghampiri.

"Kau sedang apa Rif, kok sendirian?" Tanya Gimo pada Arif yang baru saja duduk di sebelahnya.

"Iya Gim. Aku lagi menikmati udara sejuk laut."

"Kau tak melaut?"

"Libur Gim, Andre sedang berbenah dengan mesin di perahunya."

"Kau sedang free dong sekarang."

"Iya Gim."

Sejenak peecakapan diantara mereka terhenti. Arif dan gimo sama-sama menikmati udara sejuk laut itu.

Hening sejenak membuat Gimo ingin mengajak main Arif kesuatu tempat, yaitu berkunjung kerumahnya. Sudah lama Arif tak main kesana. Arif yang hari ini mempunyai waktu luang dengan senang hati menerima ajakan itu.

Tibalah Arif di rumah Gimo. Mereka berdua yang kebetulan sama-sama libur melaut duduk dengan bersantai sambil bercakap-cakap. Tak ada hidangan istimewa di meja tamu. Hanya ada 2 cangkir kopi yanh menemani obrolan mereka.

"Rif, aku dengar-dengar kau sekarang sudah berhenti dari minum-minuman ya.?" Pertanyaan dari Gimo itu muncul setelah obrolan diantara mereka berhenti sejenak.

"Iya Gim, aku sudah berhenti minum-minuman sejak bergabung dalam perahunya Andre."

"Ohh kalau gitu kau sudah berhenti dari mimunan. Tapi masak kamu pengen mabuk kan sebenarnya?"

"Mabuk dengan apa Gim kalau tidak dengan minuman. Masak iya aku pakai ganja atau sabu. Harganya kan mahal. Aku tak mampu membelinya."

"Kalau kau masih pengen mabuk masih bisa kok, selain dengan minuman. Bukan pakai ganja dan sejenisnya yang harganya mahal."

"Terus mau pakai apa Gim?"

"Pakai jamur Rif, sekarang kan lagi trendi orang mabuk pakai jamur. Itu jamur dari kotoran sapi."

"Ahh kamu Gim. Aneh-aneh saja. Kalau nanti aku pulang mabuk istriku marah."

"Tenang saja Rif, soal aromanya tak berbau kok. Berbeda dengan minuman. Jadi mana mungkin istrimu tahu. Kalau kau sedang mabuk, kalo mabuk dengan minuman kan bisa terkenalo dari baunya."

Sejenak. Setelah Gimo memberikan penawaran. Arif yang penasaran dengan rasa mabuknya jamur kotoran sapi itu akhirnya tergoda. Tembok pertahanan yang sedang ia susun untuk tidak lagi mabuk. Akhirnya runtuh.

Arif dan Gimo yang semula duduk mengobrol di ruang tamu pun berdiri. Ia melangkah ke belakang rumah gimo. Disana tempat Gimo menyimpan jamur kotoran sapi itu. Arif yang masih penasaran. Ingin menyudahi rasa penasarannya itu. Mereka saling bersua mengkonsumsi jamur kotaran sapi.

Jamur kotaran sapi itu kini sudah masuk kedalam tubuh Arif, ia hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk berreaksi. Setelah jamur itu sudah berreaksi Arif yang masih galau dengan keputusan mabuknya ini. Akhirnya merenungi. Sembari tertuntuk layaknya orang berduka.

Arif tak menyadari bahwa jamur kotoran sapi jika sudah berreaksi maka itu tergantung tindakan awal pengguna. Dan Arif yang mengawali euforia mabuknya dengan bersedih dan merenung. Maka di sepanjang hari itu juga dirinya akan terlihat layaknya orang yang sedang merenungi nasib.

Senja mulai menyapa. Tak terasa mentari berpendar kala itu layaknya sebuah detik pada jarum jam yang begitu cepat. Arif yang sudah larut dalamnya mabuk jamur kotoran sapi masih saja menetap di rumah Gimo. Dirinya belum juga pulang lantaran belum sadarkan diri. Tentang istri dan anaknya seakan sejenak ia seakan mengesampingkan, yang di pikirkan hanya bagaimana mengembalikan uang pada Andre, bagaimana istrinya tidak marah jika ia dalam kondisi mabuk. Tetapi tidak ada sejengkal pikirannya untuk pulang kembali rumah.

Malam itu Arif Larut dalam lamunan yang terbilang buta arah. Entah sampaibkapan efek mabuk jamur kotoran sapi ini berakhir. Ia sendiri tak mengetahuinya. [.]

Jumat, 01 November 2019

Anak Pesisir

Bab 4
Izinkan Aku Memecahkan Masalah.


Fajar yang indah menjular, embun pagi hari dengan segala kesejukannya bermunculan. Burung pipit pun bernyayi riang. Pagi hari itu Andre terbangun dari tidurnya. Seperti aktifitas biasanya-Andre selaku juragan harus menghampiri rumah kawan-kawan untuk mengajaknya melaut. Biasanya sebelum ia pergi meninggalkan rumah. Tak lupa ia menyiapakan sarapan pagi untuk adiknya, juga untuk bekalnya selama ia berada di laut.

Semua kawan-kawan Andre pagi itu sangat bersemangat untuk pergi melaut kembali. Ke empat-empatnya hadir semua. Begitu juga dengan Arif, yang pagi itu ikut melaut kembali.

Andre selaku juragan di perahu itu. Mencoba untuk tidak menanyai Arif terlebih dulu. Ia harus berlaku profesional dalam bekerja, hal ini karena dirinya tidak ingin terjadinya perpecahan diantara orang satu bahtera itu.

Terlihat gelombang laut juga kembali tenang saat Andre dan kawannya melaut. Kondisi ini diharapkan hasil tangkapan ikan kembali melimpah seperti kemarin saat Andre melaut terakhir kali.

Jala dari perahu Andre pun dilemparkan ke laut. Perahu pun berputar mengiring ikan-ikan agar masuk ke dalam perangkap jalannya. Warna air laut yang jernih membuat  gerombolan ikan terlihat dari atas. Wajah riang kembali terpampang dari mereka. Saat melihat ikan-ikan yang masuk ke dalam perangkap jalanya begitu banyak. Hari ini dewi fortuna kembali berpihak pada perahu Andre. Hasil tangkapannya kembali melimpah.

Wajah riang kembali terpampang dari penghuni perahu Andre. Mereka mendarat dengan penuh semangat. Seperti biasa para pembali ikan yang sebagian besar juga pengepul menyambut dengan senang hati.

Semburat senja yang indah, angin nyiur serta bisik suara ombak di tepi pantai mengiringi kebahagiaan Andre dan kawan-kawanya. Uang yang di bawa pulang hasil tangkapan ikan juga tergolong lumayan banyak.

Sepanjang hari selama ia melaut dan mendarat, tak aja pembicaraan khusus antara Andre dengan Arif. Tetapi, Andre akan memilih waktu malam untuk membicarakan pesan Sundari kemarin. Saat nanti kawan-kawannya datang ke rumahnya untuk membagikan uang hasil tangakapan ikan hari ini.
***

Malam pun tiba. Rumah Andre masih sepi. Ia hanya berdua dengan adiknya. Tetapi keheningan itu tak bertahan lama. Sepuluh menit berselang ada seseorang yang mengetok pintu rumahnya. Terdengar itu suara Arif yang datang lebih awal dari yang lainnya.

"Oh iya Arif silakan masuk!." Andre mempersilakan Arif untuk masuk ke dalam rumahnya.

Tanpa menjawab sapaan Andre. Arif langsung duduk di ruang tamu rumah Andre.  Malam itu Arif datang seorang diri. Andre yang ingin mengajaknya bercakap empat mata. Memanfaat momen ketika dirinya hanya berdua dengan Arif.

"Rif, nanti malam setelah pembagian hasil penjualan ikan, jangan keburu pulang dulu ya! Ada suatu hal yang ingin aku sampaikan"

"Hal apa Ndre? Sangat penting kah itu?" Arif mulai bergumam

"Ya gak terlalu penting juga sih Rif. Hehe..." Sedikit gurauan Andre berikan agar Arif tak tegang.

"Ya kamu bisa aja ndre, iya nanti setelah pembagian uang, aku tinggal sejenak disini."

"Oke, baiklah." Sambil memberikan senyuman pada Arif yang tadi sempat bergumam.

Percakapam singkat itu berakhir sudah. Setelah kawan-kawan Andre yang lain mulai berdatangan.

Andre yang seperti biasa membuka sesi bincang dalam perkumpulan itu menampilkan wajah gembira. Uang yang akan di bagikan kini ada di genggamannya.

"Baik kawan-kawanku semua, hasil dari penjualan bisa dikata cukup memuaskan." Suara Andre mulai membuka dalam perkumpulan itu. Raut senyum yang beriring 4 lembar uang berwarna merah serta satu lembar berwarna biru di setiap sekat tumpukan uang itu.

Tak ada satu balasan atau protes apapun dari mereka meski selisih 50rb dari hasil kemarin. Tetapi mereka menerima dengan lapang dada. Mungkin selisih 50rb itu untuk perawatan perahu Andre. Karena bila ada kerusakan yang di perahu, Andre lah selaku pemilik perahu yang akan bertanggung jawab atas biaya kerusakan.

Usai membagikan uang, Andre selaku tuan rumah pun memberikan suguhan berupa makan malam untuk kawan-kawannya. Dan setelah makan malam kawan-kawan pun pamit untuk pulang. Tapi tidak dengan Arif yang memang sudah janjian dengan dengan Andre untuk berbincang empat mata.

Malam itu tiba waktu yang ditunggu Andre tiba. Saat ini ia hanya berdua dengan Arif. Dan dimulailah obrolan empat mata itu.

"Rif, dengar-dengar kabar, katanya kemarin kamu habis mbak. Sampai ketika kamu pulang istrimu Sundari sempat pergi keluar rumah sejenak." Suara Andre seperti tikaman belati yang menuju telinga Arif.

Tetapi sebelumnya untuk memecah ketegangan Andre menyuguhkan 1 bungkus rokok untuk dipakai berdua. Batang rokok yang di suguhkan kini pun sudah menyala di mulut Arif untuk dihisap. Begitupun dengan Andre. Mereka berdua lebih rileks dengan sebatang rokoknya masing-masing.

"Ahh... Iya Ndre. Kemarin aku jalan-jalan ketempat pelelangan ikan sendirian. Karena hari itu kita libur melaut. Aku di sana tak punya aktifitas lain. Lalu aku lihat warung toak itu ramai. Dan akhirnya aku mampir sejenak untuk mecicipi minuman setelah kian lama tak mengkonsumsinya." Batang rokok yang disuguhkan Andre masih menyala di mulut Arif hisap untuk mengurangi ketegangannya.

"Baiklah Rif, sial mabuk seperti itu memanglah itu hakmu. Sebenarnya aku juga tidak berhak untuk ikut campur. Tetapi berhubung ini sebuah amanah dari istrimu yang disampaikan Mbok Darmi, akhirnya aku mempertanyakan padamu." Wajah Andre terlihat masih tetap tenang. Karena ia tak ingin membuat patner kerjanya itu terbawa emosi.

"Iya Ndre. Kemarin aku memang khilaf. Kebiasaanku dulu terulang kembali. Padahal setelah aku bergabung ikut perahumu aku harap ada perubahan yang terjadi pada diri ini. Kau tau sendiri para juragan pemilik perahu di desa ini selain dirimu setelah mereka melaut dan membongkar hasil tangkapan tradisinya adalah mengajak anak buahnya untuk minum-minum lebih dulu sebelum pulang." Wajah Lesu mulai terpampang dari raut wajah Arif. Ia pun terus menerus menghisap rokoknya.

"Aduh Rif, lantas bagaimana dengan biaya sekolah Lastri anakmu itu. Kau kemarin kan pinjam uang katamu untuk biasa sekolah Lastri." Senyum dari wajah Andre kini mulai datar.

"Aku meminta maaf Ndre atas kejadian kemarin itu. Nanti sepulangnya dari sini aku akan meminta maaf pada Sundari. Bahwa uang yang aku pinjam sebagiannya untuk mabuk." Arif terlihat hanya berbicara lesu dan terus terusan menghisap batang rokoknya yang akan sampai pada ujungnya.

"Selaku juragan. Aku sangat menyayangkan kejadian itu. Sebenarnya aku tak ingin mengusiknya Rif. Begini saja apa perjanjianmu bila kau mengulanginya lagi? Kau akan mengembalikan uang itu secepatnya. Atau, keluar dari perahu ini? " Pembicaran Andre yang mulai lebih serius itu berimbang dengan raut wajahnya datar.

"Ahh... Kalau soal keluar kerja dari perahu ini sebaiknya jangan Ndre. Ku mohon... Sebab dulu Sundari cukup senang setelah aku bergabung bersamamu ia berharap aku berhenti mabuk-mabukan. Ia mengetahui dirimu adalah berbeda dengan orang-orang di desa pada umumnya. Dan hal itu sempay berhasil. Aku berhasil berhenti dari kecanduan mabuk, meski kemarin sempat terulang kembali. Sebaiknya perjanjiannya kalo aku kembali mabuk  uang yang aku pinjam dulu itu akan aku kembalikan saat itu juga. Saat kamu mengetahui aku dalam kondisi mabuk." Kepala Arif semakin tertunduk. Wajahnya juga semakin lesu. Rokok yang di pegangnya juga sudah sampai ujung. Ia pun mematikan rokoknya di asbak hadapannya.

"Aku rasa perjanjian itu cukup ringan Rif. Aku tunggu kamu sampai mengembalikan uang itu. Sebelumnya kamu jangan mabuk dulu, jika tidak ingin uangnya aku tagih saatbitu juga. Lantas bagaimana jika uang itu sudah kembali dan kamu masih mabuk lagi?" Andre yang tadi memegang rokok juga telah mamatikannya di lanjut sebuah pertanyaan untuk Arif agar ia benar-benar berubah.

Sejenak Arif pun menghela nafas. "Kalo soal itu lihat saja dulu setelah ini Ndre. Kalo dekat ini sebelum aku mengembalikan uangmu itu aku tidak mabuk. Mungkin kedepannya peluang untuk aku tidak mabuk masih terbuka. Saat aku sudah lupa bagimana rasanya mabuk." Arif kembali menghela nafas. Terlihat ia mulai menegang setalah rokok di tangannya telah dimatikan.

"Oke kita lihat kedepannya. Tapi, kalau kau masih mabuk kembali kau siap untuk keluar dari sini." Andre juga menghela nafasnya. Emosinya kini terbakar.

"Iya Ndre. Kalau itu permintaanmu baiklah. Aku mencoba menurutinya." Kembali tangan Arif memegang rokok untuk dinyalakan. Hal ini ia lakukan agar ketegangannya mencair.

"Kalau gitu baiklah. Terimakasih kau sudah bersedia untuk kebaikan kita selama melaut bersama-sama." Emosi Andre yang tadi sempat terbakar kini meleleh kembali, ia pun melemparkan senyum lagi kepada Arif.

"Tapi kuharap ada toleransi lagi Ndre nantinya. Aku takut mengulanginya lagi. Lagian ikut bergabung di perahumu bersama orang-orang yang tidak suka mabuk itu menyenangkan. Hasil pembagian uangnya pun lebih banyak. Dari pada juragan yang lainnya saat mereka mengaja anak buah perahunya mabuk kan memakai uang dari hasil penjualan ikan. Tentunya itu sangat mengurangi penghasilan mereka. Sundari juga cukup senang aku bergabung bersamamu. Makanya ia sampai melaporkan padamu saat aku mabuk kemarin." Ketakutan itu semakin tak tertahankan. Arif hanya pasrah sambil terus-terusan menghisap rokoknya.

"Itu dipikir bersama-sama nantinya Rif, asalkan kamu mau berubah pasti akan ada jalan kok. Ya sudah sekarang sudah larut malam. Istri dan anakmu menanti kepulanganmu. Jangan samakan denganku yang masih bujang ini."

"Ya sudah kalau begitu Ndre. Aku mau pamit pulang dulu. Makasih atas saran-sarannya."

Jam dinding di rumah Andre sudah menunjukan pukul 12 malam. Arif berdiri dari tempat duduknya dan berpamitan dengan Andre untuk pulang. Andre hanya mengiyakan saja.

Malam itu Arif pamit pergi dari rumah Andre. Harapan Andre setelah Arif pulang akan ada perubahan pada dirinya. Meskipun Sundari Kemarin tak sempat memberitahukan pada Mbok Darmi soal meminjam uangnya, Andre yang cerdas itu bisa menebak apa maksud Sundari kemarin menyampaikan hal itu pada Sundari. [.]

Kamis, 31 Oktober 2019

Anak Pesisir

Bab 3
Kenalkan Diriku


Kejadian kemarin saat Arif pulang dengan kondisi mabuk memang menjadi tamparan keras bagi rumah tangga Arif dan Sundari. Mereka memang sudah lama membangun maligai rumah tangga. Tetapi sifat masa lalu Arif semasa ia muda tetap saja melekat. Meskipun Lastri, anak mereka sudah berusia 13 tahun pasangan ini masih saja berusia muda. Maklum saja Arif menikahi Sundari saat itu masih berusia 20 tahun. Sedangkan Sundari berusia 18 tahun yang baru saja lulus dari bangku sekolah menengah atas.

Mereka menikah lantaran kondisi lingkungan di desa Arif dan Sundari tinggal, banyak remaja yang sudah pada menikah. Pendidikan bagi masyarakat di desa mereka memang tidak begitu dipentingkan alias dikesampingkan. Banyak anak tamat sekolah sampai smp saja. Bahkan banyak juga hanya sampai di bangku sekolah dasar. Begitu pun dengan Arif yang berpendidikan hanya sampai di bangku sekolah menengah pertama saja. Setelah diusia 15 tahun memutuskan untuk putus sekolah, Arif mulai bekerja layaknya orang-orang di desa dengan mencari ikan.

Perjalanan Arif selama 5 tahun usai putus sekolah dan sebelum ia menikah ini yang menyebabkan sikap Arif berubah pesat. Di usia yang bisa dikatakan masih belia dirinya sudah memegang banyak uang dari hasil kerjanya. Karena melihat para nelayan di desanya yang sering mabuk-mabukan usia melaut, bocah tamatan smp ini akhirnya terbawa oleh faktor lingkungan.

Hal ini cukup disayangkan, padahal masa kecil Arif ketika masih sekolah dikenal dengan pribadi pendiam, tidak banyak tingkah dan dikenal sebagai remaja yang taat terhadap agamanya. Hal ini dibuktikan dengan masuknya Arif di organisasi Remas  di salah satu Masjid desa pesisir itu.

Namun sikap Arif masa remaja berubah saat dirinya kelas 2 smp. Dimana kedua orang tuanya secara bersamaan memutuskan pergi ke Negeri Jiran demi mencari kehidupan yang lebih layak. Arif yang kala itu di titipkan ke pamannya, hal ini ya memicu Arif berubah seperti orang-orang di desa pada umumnya.

Sementara Sundari istrinya, jatuh cinta pada Arif sejak ia masih kecil. Saat Arif masih jadi anak pendiam, perubahan pada diri Arif tak meredupkan benih-benih cinta Sundari. Mereka adalah teman masa kecil juga teman sekaligus pendamping hidup.

Kondisi lingkungan di desa pesisir tempat tinggal mereka memang seperti itu. Masih kental dengan tradisi anak putus sekolah di usia muda, setelah putus sekolah mereka memilih bekerja menjadi nelayan. Dan di usia muda banyak anak yang baru memasuki kepala dua bahkan masih belasan tahun sudah menikah.

Kondisi ini yang melatar belakangi orang-orang di desa pesisir itu jadi suka mabuk-mabukan. Di tambah lagi kegiatan keagamaan di desa itu cukup minim. Tempat peribadatan seperti musala biasanya hanya ramai di waktu malam saja, itu pun yang memadati adalah anak-anak dan para remaja desa yang masih sekolah, siangnya mereka pasti tidak ikut salah jamaah di musala karena masih dalam waktu pembelajaran di sekolah. Sementara para orang dewasa siangnya pada sibuk dengan aktivisnya di laut. Di Masjid pun juga sama, tetapi kondisi Masjid desa pesisir itu bila hari jumat tiba terlihat ramai penuh sesak saat akan menggelar salat jumat. Hari jumat merupakan hari libur untuk para nelayan di desa.

Di hari jumat ini seakan menjadi nilai plus untuk desa itu. Selain kegiatan melaut para nelayan libur, warung-warung yang berjualan minuman keras juga ikut tutup bila hari jumat tiba. Meski hanya tutup sepanjang pagi hingga sore saja. Hal ini juga sudah menjadi tradisi secara turun temurun untuk masyarakat desa pesisir.
***

Meskipun kondisi di desa pesisir itu bisa dikata punya kebiasaan yang kurang baik. Tetapi hal ini sama sekali tidak memancing Andre untuk ikut terbawa arus kondisi desa.

Andre adalah anak yang ramah dengan tetangga rumah dan masyarakat desa. Selain itu ia juga adalah anak yang pintar saat masih sekolah. Terbukti dengan torehannya di sekolah cukup berkesan dengan sering menjadi jawara rangking satu di kelasnya.

Menjadi seorang nelayan memang bukan cita-cita Andre dari kecil. Meskipun kini ia menjadi juragan yang mengelola perahu miliknya sendiri untuk berlayar. Tetapi pilihan itu seakan menjadi harga mati untuk Andre. Perahu itu adalah warisan dari almarhum ayahnya pergi menyusul almarhum ibunya, meninggalkan Andre beserta adiknya yang masih duduk di bangku smp. Saat itu Andre baru saja lulus dari sekolah menengah atas.

Andre yang saat itu menjadi tulang punggung keluarga untuk adiknya. Terpaksa harus mengubur dalam-dalam mimipinya yang ingin melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Ia ingin menjadi sarjana karena melihat pendidikan terakhir di desanya terbanyak hanya berhenti di sekolah menengah saja. Untuk lulusan sarjana sangatlah minim, bahkan bisa terhitung dengan jari jemari.

Selain ingin menambah lulusan sarjana di desanya, Andre juga berniat merubah tatanan sdm di desanya. Bagaimana caranya masyarakat desannya yang setiap siang atau sore punya kebiasaan mabuk-mabukan itu sirna. Hal itu menjadi penghias mimpi indahnya di masa depan.

Mimpi Andre menjadi sarjana telah tenggelam, alternatif Andre untuk mewujudkan hal itu tentu dilimpahkan kepada adik semata wayangnya untuk mewujudkan mimpi membawa desanya kearah yang lebih baik. Hasil melaut Andre sering kali ia alihkan untuk kebutuhan adiknya bersekolah. Ia mengesamping kebutuhan sampingannya sendiri.

Kalau waktu libur melaut Andre juga sering mengajak adiknya untuk ikut berdiskusi dengan para aktifis yang sering mengkritisi kondisi sosial. Hal ini ia lakukan agar adiknya mengerti akan kondisi desanya. Seperti kemarin saat ia libur melaut dan mengajak adiknya ikut grup diskusi yang ada di pusat kota. Meski jaraknya lumayan jauh dari desa tetapi hal ini bagi Andre sangat penting untuk menambah ilmu pengetahuan. Hitung-hitung setalah gagal jadi mahasiswa setidaknya Andre punya kawan berkumpul para mahasiswa yang hakikatnya para mahasiswa itu berperan sebagai Agent Of Change And Agent Sosial Control.
***

"Nak Andre...." Terdengar suara Mbok Darmi berdiri di depan pintu.

Andre yang mengetahui kedatangan wanita berusia senja itu langsung menghampirinya.

"Ada apa Mbok? Silakan duduk dahulu Mbok!" Tangan Andre menunjuk arah dua buah kursi yang terpampang di teras rumahnya.

Mbok Darmi yang persilakan Andre untuk duduk di kursi akhirnya duduk di kursi. Disusul dengan Andre yang duduk setelahnya.

"Kemarin Sundari istri Arif datang kemari. Saat kamu tidak di rumah."

"Iya Mbok, Sundari ada perlu apa datang kemari?"

"Mbok kurang paham nak, apa yang sebenarnya terjadi dengan Sundari dan suaminya. Yang jelas kemarin ia menangis datang kemari. Ia bilang suaminya habis mabuk. Kemarin kan kamu libur melaut."

"Si Arif... Perasaan kemarin itu Arif baru saja pinjam uang Mbok, katanya mau dibuat biaya Lastri anaknya yang baru mau masuk smp."

"Mbok tidak paham nak, apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas kemarinsetelah magrib Sundari berkata seperti itu. Dan ia pesan juga untuk Mbok agar hal itu sampaikan pada Nak Andre."

"Ohh ya sudah kalo gitu Mbok, nanti si Arif biar Andre yang mengurusnya."

"Iya nak, cuma itu yang ingin Mbok sampaikan pada nak Andre. Mbok pamit dulu ya, mau pulang. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat nak Andre."

"Tidak mengapa kok Mbok. Terimaksih juga sudah menyampaikan pesan dari Sundari."

Mbok Darmi yang sudah kehabisan topik pembahasan dalam sesi bincangnya dengan Andre, akhirnya berdiri dari kursi dan perlahan berjalan menuju rumahnya yang memang bersebelahan dengan rumah Andre. Andre hanya menyambut dengan senyuman saat Mbok Darmi pamit kembali. Setelah Mbok Darmi kembali Andre juga masuk kedalam rumah untuk beristirahat.

Sesudahnya mengdengar kabar dari Mbok Darmi tentang Sundari yang kemarin datang kerumahnya.  Malam itu di atas ranjang. Kepala Andre dihujani beragam pertanyaan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Arif? [.]

Rabu, 30 Oktober 2019

Anak Pesisir

Bab 2
Aku dan Kawanku


Kemarin hasil tangkapan ikan di perahu Andre dan kawan-kawannya memang sangat melimpah, hasil itu membuat tubuh para nelayan muda itu mengalami kelelahan. Andre selaku juragan memutuskan untuk beristirahat sehari untuk memulihkan kembali tenaganya yang kemarin banyak terkuras. Kabar yang disampaikan Andre pada kawan-kawannya tentang libur berlayar dapat diterima dengan baik. Hitung-hitung menjadi waktu bersantai di rumah.

Waktu itu dimanfaatkan Andre merebahkan tubuhnya di atas ranjang lebih lama. Begitu pun dengan keempat kawannya juga memanfaatkan waktu libur berlayar sama seperti Andre.
***

Raja siang membakar membara di langit desa pesisir itu. Tiba-tiba Mbok Darmi salah seorang tetangga Andre melihat Arif yang sedang berjalan sendirian dengan tubuh sempoyongan dan mata memerah. Langkahnya terseok-seok. Mbok Darmi yang mengetahui Arif adalah salah satu anak buah Andre berlayar langsung mengintrogasinya.

"Habis dari mana dek Arif? Kok berjalan sendirian." Tanya Mbok Darmi saat berpapasan dengan Arif.

"Ndak habis dari mana-mana kok Mbok. Ini tadi habis jalan-jalan menghibur diri. Hari ini Andre kan sudah bilang kalau kegiatan melautnya libur dulu setelah kemarin perahu kami bongkar banyak ikan." Arif menata gaya bicaranya agar tidak terlihat bahwasannya tubuh sempoyongan, mata memerah dan langkah terseok-seok adalah efek dari minuman yang memabukan.

Andai saja Mbok Darmi mengetahui kalau Arif sedang dalam kondisi mabuk. Maka akan sangat berbahaya jika ia menyampaikan hal ini pada Andre yang semalam baru saja uangnya dipinjam dengan alasan untuk biaya anaknya masuk sekolah. Padahal uang tersebut sebagian digunakan Arif untuk mabuk-mabukan.

Mbok Darmi yang telah berusia senja itu setelah mendengar jawaban Arif yang nampak normal pun tidak lagi melanjutkan introgasinya. Arif pun kembali berjalan dengan langkah yang terlihat lebih pelan. Semua itu ia lakukan untuk mengatur kondisi tubuhnya agar terlihat tetap normal.

Setibanya di rumah. Arif yang masih dalam kondisi mabuk mendapati sebuah pertentangan dari istrinya. Bau minuman itu masih sangat melekat dari mulut Arif, apalagi saat ia berdekatan dengan istrinya. Kali ini jaraknya lebih dekat dan aromanya tercium. Berbeda saat dengan berpapasan dengan Mbok Darmi tadi yang berbicara menjaga jarak. Agar baunya tak teridentifikasi.

"Mas Arif...! Kamu ini mas... baru saja kemarin dapat uang lebih dari hasil tangkapan ikan, sekarang sudah mulai mabuk lagi. Bagaimana dengan biaya masuk sekolah anak kita mas? Padahal baru semalam kamu pinjam uang ke Andre juraganmu itu. Kalau saja Andre tahu bahwa uang yang Mas pinjam separuhnya adalah untuk mabuk-mabukan. Mungkin ia akan sangat marah mas." Terdengar sebuah pembicaraan yang cukup keras dari Sundari istri dari Arif yang merasa kesal dengan kelakuan suaminya.

"Ah tenang saja dik, mas pasti membayar hutang itu kok. Lagian Andre juga tidak bermasalah saat uangnya kupinjam." Arif mencoba memegang tangan istrinya yang terlihat sudah memasang emosi kekesalan.

"Bagaimana kalau Andre mengetahui hal ini mas? Bagaimana kalau dia meminta mas langsung mengembalikan uangnya sekarang? Lalu kemungkinan terburuk bagaimana kalau Andre memecat Mas Arif dari tempat kerja. Kamu ini kan lebih senior mas dibandingkan kawan-kawanmu dalam perahu itu." Nafas Sundari mulai terbata-bata dan melepaskan tangan Andre yang memegang tangannya.

"Dik, sudah aku bilang tenang dulu. Mas juga lelah. Lagian ini minuman selain untuk mabuk juga untuk jamu memulihkan stamina. Sayangnya mas tadi minum berlebihan, efeknya kini sampai mabuk." Sambil berbisik mesra, membujuk rayu istrinya agar ia menerima perbuatannya.

Namun Sundari tetap saja bersikukuh. Ia tak tahan menahan luapan air yang ingin keluar dari bola matanya. Akhirnya Sundari membalikan badan dari suami dan menuju pintu rumah. Arif yang dalam kondisi mabuk tak sempat mengejar istrinya yang perlahan berjalan keluar rumah dengan ekspresi mata semu merah menahan tangis.

Sundari berjalan keluar. Dan menuju rumah Andre selaku juragan suaminya. Di hari yang baru saja gelap itu juga, Sundari memutuskan berjalan sendirian menuju rumah Andre. Sedangkan suaminya membaringkan tubuh di atas ranjang untuk tidur.
***

Malam hari, mentari baru saja tenggelam di ufuk barat. Angin laut yang sepoi menyambut hangat kedatangan Sundari di rumah Andre.

Malam itu rumah Andre sedang terkunci karena penghuninya sedang keluar rumah. Kabar itu Sundari dapatkan dari tetangga depan rumah Andre yang melihat sore tadi Andre keluar rumah. Sundari yang masih memeluk wajah kesedihan hanya duduk berdiam diri kursi teras rumah Andre.

Tiba-tiba Mbok Darmi yang rumahnya di samping rumah Andre datang menghampiri Sundari yang termenung berdiam diri di teras rumah.

"Kau sedang apa nak, kenapa raut wajahmu bersedih?" Mbok Darmi yang baru datang langsung duduk di kursi sebelah sundari yang kosong.

"Tidak ada apa-apa Mbok, aku hanya ingin berbicara dengan Andre selaku juragan dari suamiku. Aku kesal dengan tingkahnya setelah sore tadi ia pulang dengan sempoyongan." Meskipun sedikir terpatah-patah Sundari akhirnya mencurahkan isi hatinya pada Mbok Darmi.

"Oalah... Iya nak, siang tadi Mbok juga lihat suamimu jalan sempoyongan di dekat tempat pelelangan ikan. Lalu mbok darmi tanyai, katanya lagi ingin menghibur diri. Berhubung tadi bicaranya terlihat lancar tak layaknya orang yang sedang mabuk, mbok biarkan saja ia berjalan."

"Iya mbok, Sore tadi Mas Arif pulang dengan kondisi mabuk. Berati siangnya ia habis minum di dekat tempat pelelangan ikan. Disana kan banyak warung berjualan toak untuk para nelayan. Lagian siang tadi ngapain Mas Arif kesana. Hari ini kan ia libur berlayar..."

Belum sempat selesai penjelasan Sundari, tiba-tiba air di pipinya mengucur. Padahal ia juga ingin menjelaskan sebuah hal, kalau semalam suaminya meminjam uang Andre separuhnya untuk mabuk-mabukan. Tetapi kata-kata itu dihentikan oleh luapan air mata yang tak mampu untuk ditahan.

"Sudahlah nak, sekarang hari sudah malam. Lagian Andre juga lagi tidak di rumah. Sebaiknya nak pulang saja kerumah. Soal keluhanmu tadi biar mbok sampaikan pada Andre kalau ia sudah pulang." Mbok Darmi mencoba menenangkan dan mendekap tubuh Sundari lalu mengelus elus pundaknya.

Sundari tetap termenung. Ia hanya berdiam diri dan terseguk-seguk karena menangis.

"Ayo nak, silakan pulang. Bersabarlah. Suamimu suatu saat pasti kan berbuah kok. Yakini saja. Dan doakan dia untuk berubah."

Bisikan lembut dari Mbok Darmi itu akhirnya dapat menenangkan Sundari. Perlahan Sundari mulai berdiri dari kursinya. Dan berpamitan pada Mbok Darmi untuk kembali pulang ke rumah.

Malam yang cerah. Bintang gumintang dan bulan purnama bertaburan di atap cakrawala. Malam ini adalah bulan purnama. Biasanya kalau bulan purnama begini ikan-ikan di laut pada bersembunyi. Andre selaku juragan memang sangat tepat memutuskan untuk libur berlayar. Sundari menitihkan langkah kembali pulang. Sembari berharap esok Mbok Darmi menyampaikan keluh kesahnya tadi pada Andre. Ia menginginkan perubahan untuk suaminya agar tidak selalu begitu.

Di tengah perjalanan Sundari juga mengingat sebuah hal untuk Lastri anaknya. Ia akan menunggu ibunya pulang. Jika malam begini dirinya belum juga pulang.

Anak Pesisir

Bab 1
Lautku


Gelombang laut nampak tenang sore ini. Itu tandanya hasil tangkapan ikan berpeluang akan lebih melimpah, jika dibandingkan kemarin di mana saat gelombang laut kurang bersahabat dan sukses mengombang ambingkan perahu kecil yang dinaiki Andre dan kawan-kawanya. Akhirnya hasil tangkapan ikan pun menurun dari biasanya. Akan tetapi mau bagaimana lagi ketika gelombang laut meningkat amplitudonya Andre hanya pasrah pada keadaan alam.

Sore itu perahu kecil andre penuh sesak oleh ikan-ikan dari laut. Setibanya di pelabuhan tempat pelelangan ikan, para pembeli ikan sudah menunggu. Wajah dari pembeli yang sebagian besar adalah pengepul ikan nampak sumringah, setelah melihat wajah Andre dan kawan-kawannya menampilkan wajah ceria penuh bahagia. Sore itu juga dewi fortuna sedang memihak pada perahu Andre, bertepatan dengan harga ikan yang sedang naik karena sepinya hasil tangkapan dari nelayan lainnya dan Andre membawa banyak ikan dari laut. Uang yang diterimanya pun bisa dikatakan tiga kali lipat dari kemarin.

Wajah Andre setelah bernegosiasi dengan para pembeli ikan nampak penuh semangat. uang yanh dibawa pulang pun lebih banyak. Begitu pun kawan-kawannya juga pulang dengan penuh semangat dan percaya diri. Meskipun mereka belum mengetahui pasti berapa bagian untuk mereka yang menjadi rekan Andre dalam menangkap ikan. Uang hasil penjualan itu masih dibawa oleh Andre selaku pemilik perahu.

Senja pun tenggelam di ufuk barat cakrawala. Bulan bintang bergantungan dengan indah. Andre telah tiba di rumah dan bersantai, sambil menghitung uang hasil penjualan yang seluruhnya masih dibawa. Malam ini Andre menunggu kawan-kawan melautnya datang untuk membagikan uang hasil tangkapan.

Tokk... Tokk... Terdengar bunyi ketukan pintu dari seorang kawan Andre.
"Silakan masuk." Andre pun membukakan pintu dan mempersilakannya masuk.

Ternyata ada 2 orang kawannya yang datang Ilham dan Arif yang datang bersamaan. Sembari menunggu 2 orang kawannya lagi, Ilham dan Arif duduk bersantai di rumah Andre.

Selang tak lama kemudian dua kawannya datang lagi secara bersamaan juga. Duduklah mereka dengan wajah semu merah muda di ruang tamu rumah Andre.

Melihat kawan-kawan sudah siap untuk menerima pembagian hasil penjualan ikan. Andre pun mengambil uang itu dan membagikan kepada mereka. Terlihat ada pembatas di antara 5 lembar uang warna merah dengan gambar presiden dan wakil presiden Indonesia yang pertama. Itu artinya satu orang dari mereka akan mendapat bagian 5 lembar.

"Baik man teman, karena tadi hasil tangkapan ikan di perahu kita lumayan melimpah, jadi bisa dilihat kan dalam tumpukan uang ini tiap pembatasnya ada 5 lembar, artinya kalian perorangan akan menerima 500 ribu perorangnya." Andre membuka pembahasan dalam perkumpulan itu.

Sementara empat kawanya tak ada yang bersuara, tetapi raut wajah bersemu merah itu sudah mewakili atas menyambung pembahasan dari Andre.

Andre yang tanpa berkata panjang lebar lagi langsung membagikan uang itu kepada kawannya. Kawan-kawannya pun menerima dengan senang hati. Seperti adat biasanya yang berlangsung di desa ini. Yaitu tiap kali usai membagikan uang hasil tangkapan. Sang juragan selaku tuan rumah memberikan hidangan makan malam setelah itu baru anak buahnya kembali kerumah masing-masing. Atau kalau tidak langsung pulang, pihak tuan rumah akan tetap membiarkannya dan tidak mengusirnya.

Malam itu seusai menerima bagian masing masing dan selesai makan malam bersama. Kawan Andre pun pamit satu per satu. Tetapi tidak semua dari mereka langsung pamit pulang. Masih tersisa Arif yang masih betah singgah di rumah Andre. Dan Andre pun tidak mengusirnya, justru malah mengajaknya membicarakan suatu hal hingga panjang lebar.

Tak terasa malam berlalu begitu saja dan kini telah memasuki waktu dini hari. Arif tak kunjung pamit pulang. Sebenarnya waktu ini adalah waktu yang di tunggu Arif. Sebenarnya ia ingin berbicara pada Andre selaku jugaran perahu tempatnya bekerja.

"Nree, kau masih punya banyak tabungan apa ndak." Tanya Arif dengan wajah serius.

"Ada apa emangnya Rif, ada perlu apa?" Sejebak Andre mengela napas setelah tadi juga ikut terbawa pertanyaan Arif seperti orang menegangkan.

"Tidak Ndre, sebenarnya aku ingin pinjam uangmu dulu. Buat biaya sekolah Lastri, anakku yang baru saja lulus SD dan mau melanjutkan ke SMP." Arif pun menurunkam volume pembicaraan. Sebab hal itu baginya cukup tidak lazim untuk dikata.

"Ada kok Rif, kamu butuh berapa? Kalo buat biaya sekolah putrimu itu. Dengan senang hati aku mau membantu Rif." Andre mencoba menenangkan Arif dengan menepuk pundaknya.

"Ohh ya sudah Ndre, Terimakasih. Aku cuma butuh uang 700 ribu kok. Buat daftar ulang sekolah Lastri, membeli seragam baru, dan lainnya. Na uangku ini besok rencannya mau tak pakai membayar hutangku pada warung sebelah rumahku" kepala Arif tertinduk selepas berkata itu.

"Iya Rif, aku tak mengapa. Silakan pinjam saja jika itu untuk keperluan anakmu bersekolah." Andre melemparkan senyum pada Arif yang wajahnya terlihat lesu.

Andre pun mengambil uang di laci lemarinya untuk diberikan pada Arif yang berniat meminjamnya.

Larut malam, suara malam ramai dengan suara jangkrik bercampur debur ombak di desa tepi pantai itu. Arif pulang dengan uang hasil pembagian juga pinjaman. Andre memang cukup baik orangnya tanpa mengetahui seluk-beluk Arif sebenarnya ia langsung saja meminjamkan uangnya dan percaya dengan alasan Arif begitu saja.