Senin, 30 September 2019

Puisimu

Puisimu.

Kembali rindu berulah di tempat yang sama
Kembali aku di buat tak berdaya
Ini rindu apa rasa pilu yang kerap datang ketika mengiatmu.

Kau sering melontarkan senyum
Dan menulis puisi di laman maya
Aku hanya pasrah. Pipi di paksa memerah
Andai kau tahu. Aku membalas senyummu
Meski tak kutahu : ---
Kau tersenyum untuk siapa;
Kau bersajak untuk siapa
Senyummu....
membawa kesepianku di kerumunan pelangi.

Jantung berdebar pesan darimu --
Adalah pemompanya
Nafasku sesak. Ada ketakutan --
Yang menghambatku menyatakan rindu.
Tapi, maaf. Jemariku yang nakal
Menyatakan ingkar pada ketakutan.

Kalau saja puisi tak mempu memeluk hatimu
Kalau saja mataku yang tak kenal lelah
Merasa bosan pada jarak.
Dengan cara apa rindu dirayakan

Semoga puisi di antara dada kita selalu bergema
Hingga lupa berapa halaman sudah tertulis.
Puisi adalah surat yang tersirat
Karena ku tahu.....
Rasa ini terlalu muskil untuk tersurat.

-----
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah



Minggu, 29 September 2019

Garis Waktu




Garis Waktu

Kali ini adalah tantangan pekan ke-3 dari grub ODOP (One Day One Post) tentang resensi buku yang pernah dibaca, dan pada tugas ini saya akan mengambil resensi dari buku salah satu penulis muda Indonesia yaitu Fiersa Besari. Nama Fiersa Besari yang pada kemarin sempat menggemparkan dunia kepenulisan di tanah air. Sosok yang semulanya adalah sesorang musisi dan berubah haluan menjadi penulis yang beraroma sendu dalam lautan aksaranya ini, baru saja di tahun menikah. Menikah untuk kedua kali, setelah melewati fase bertemankan dengan sepi selepas kekasih pergi.

Buku yang akan saya jadikan resensi adalah buku dari Bung Fiersa yang berjudul "Garis Waktu." Buku yang terbit di tahun 2016 ini juga sempat mengalihkan perhatian bagi pecinta novel, khususnya lovel bernuansa sebuah perjalanan. Perjalanan dari masa ke masa. Dan sempat terlebih dulu mengalami beberapa fase.

Garis waktu tentunya tidak hanya berisi tentang kisah cinta, tetapi catatan garis waktu ini juga berisi tentang sahabat, dan keluarga dari Bung Fiersa. Bagaimana caranya bangkit setelah terjatuh yang sebelumnya tertatih tatih.

"Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu seseorang yang mengubah hidupmu untuk selamanya. Kemudian, satu orang tersebut akan menjadi bagiab terbesar dalam agendamu. Dan hatimu takan memberikan pilihan apapun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus berkata bahwa resiko dari jatuh cinta adalah terjerembab di dasar nestapa."

Di atas adalah paragraf awal dalam buku garis waktu tertera demikian. Mungkin saja, seseorang yang memotivasi hidup Bung Fiersa dalam debutnya muncul ke permukaan dunia penulisan sepertinya ada dalam buku ini.

"Beberapa orang tinggal dalam hidupmu 
agar kau menghargai kenangan.
Beberapa orang tinggal dalam kenangan
agar kau mengharhai hidupmu."
Dan itu tertera dalam halaman akhir buku garis waktu. Sebuah perjalanan agar kita menghargai apa pun yang pernah berlalu lalang di kehidupan kita.

Dalam karya ini tak hanya berisi tentang kisah-kisah perjalanan dari seorang penulis, tetapi juga di lengkapi dengan audio lagu dari penulis yang berjudul "Garis Waktu."

Sabtu, 28 September 2019

Titik temu

Titik temu

Selamat sore. Senja menantikan senyum yang abu-abu agar lekas membiru di langit-langit hatiku. Jangan terlalu lama. Nanti semburat mentari hilang. Aku tak ingin penantian dengan girangnya tumbang. Ayo datanglah kemari.

senja waktu yang fana kau datang. Anganku terbang menyambut kehadiranmu.

Waktu malam kau masih asik bertamu di ruang hatiku. Seakan tanpa pengusik dengan bebasnya kecepatanmu melaju menerabas ruas dadaku. Asal kau tahu pertahananku terbelah oleh tingkahmu. Kau pencipta keramian di tengah kesunyian.

malam yang gelap buatku semakin terlelap. Kau bintang gumintangku malam ini.

Malam yang semakin tenggelam masih enggan bagi anganku meninggalkan bayang-bayang ini. Tapi mau bagaimana lagi. Sudah saatnya bunga-bunga bertabur menghiasi gemerlap matamu yang akan terpejam.

tidurlah, malam terlalu larut. Pagi masih terlalu dini. Masih ada harapan di hari esok.

Pagi yang buta dering ponselku terlalu cupu untuk kutunggu. Kuharap disana bersamaan dengan getar dari relungmu yang kau bungkus bersama pesan dari layar ponsel. Yang berisi residu rindu. Padahal ini awal bertemu. Entahlah rindu terlalu kuat untuk ditahan.

bangunlah kekasih. Burung bercikau merdu pagi ini. Lebih merdu lagi ponsel berbunyi ucapan darimu yang menambah sahdu.

Selamat pagi. Sinar dingin fajar menjalar menyapa rona pipiku. Pahamkan. Engkau adalah sosok sama yang dirindukan senja dan dirindukan fajar. Sampai raja siang datang membakar berkas cintamu masih saja mengembun di sukmaku. Sampai senja datang kembali takan berubah. Malam pun sama. Rasa masih enggan berbenah.

selamat merayak siklus rindu. Semoga sepasang matamu menjadi bait terindah untuk puisiku

-----
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah

Jumat, 27 September 2019

Hikayat Mencintaimu

Hikayat Mencintaimu

1.
Gemerci satu-persatu yang basah di dadamu
Mengalir sungai-sungai dengan luasnya
Rasaku menjelma bak prahu
mengarungi dan berjuang menuntaskan menuju muara

Andai kau punya rasa sedalam palung laut
Aku rela menjadi penyelam
yang menjelajah indahmu di kedalaman

Andai kumpulan rindumu setinggi gunung
Aku rela jadi pendaki yang kelalahan
Untuk menjangkau puncakmu

2.
Aku mencintaimu di antara dua malam :
Betapa indahnya kala langit cerah
Berhias bintang dan kunang-kunang --
Jika semua pergi malamku berselimut sepi

Tetaplah di sisi, kekasih....
Satu hari takan lengkap
Jika tak ada siang malam

Fajar butuh senja untuk berucap di rona hari
Ketika malam hadir. Gelap sudah cakrawala
Setidaknya kau adalah lentara antara pelitaku

3.
Entah bagaimana definisi mencintaimu
Yang kurasa selalu bahagia
Bila membayangkan dirimu

Panas adalah romantisme
Sebab di saat itu aku melupakanmu
Sesudahnya aku mengingatmu kembali

---
Tuban, 22 Juli 2019
yogi riyansyah

Kamis, 26 September 2019

Sepasang Fajar

Sepasang Fajar

I.
Di hari yang akan baru sepasang fajar berjalan mesra, memadu cinta dari berjuta rasa. Mereka berjalan jauh, hingga lupa waktu, senja sebentar lagi akan memisahkan sepasang fajar.

Di hari yang baru aku temukan seorang fajar berjalan sendirian, diantara lebatnya hutan, di tengah dinginnya malam, seorang fajar yang terpisah dari kekasihnya. yang semula sepasang jadi sepenggal,

mulanya entah sudah berapa batu tumpukan rasa sepasang fajar tersusun menjadi pondasi yang mendasari hubungan mereka, hingga menjadi sepasang fajar.

II.
Seorang fajar meratapi sinarnya yang mulai memudar, sembari bertanya mengapa sinar mesraku memudar,? mengapa aku terpisah dari kekasihku?

Sekian lama, lamban laun sepasang fajar akhirnya dipertemukan kembali, bukan bermuwajahah, melainkan prarasa yang mendasari pertemuan rasa sama dari sepasang fajar.

Sepasang fajar sebenarnya rindu bersama lagi. Apa boleh buat, waktu berpisah terlalu, lama. Senja yang ganas itu memisahkan bentang jauh mereka. Hingga tak dapat di pertemukan kembali.

III.
Di hari yang baru untuk kesekian kali, tangisan sang fajar makin menjadi. Wajar saja kekasihku tak mau kembali, sebab sinar kami sudah tak dingin lagi. Suhu tubuh kami sama-sama meninggi. Kemana rayap-rayap yang biasanya menikmatiku. Ternyata rayap-rayap itu juga ikut menangis, sebab siang kini juga ikut kejam, siang kini mulai memantulkan sinar-sinar bening tempus pandang dari ketinggian yang tak semestinya, mengalahkan gundukan rasa sepasang fajar yang dulu. Senja dan malam apa lagi? Mereka mencuri aroma sejuk dari bumi tempat sepasang fajar merayakan cinta dengan kekasihnya dulu.

sepasang fajar yang hidup di antara rimbun kejahatan hari hanya pasra dan menunggu, semoga waktu berjalan dengan lambat.

-----
Tuban, 26 September 2019
Yogi Riyansyah

Selasa, 24 September 2019

Diaryku

Diaryku

Diariku
Persembahan kalbu
Puisi-puisi cupu

Tulisanku
Gaya bahasa lugu
Dari untaian rindu

Dan Kamu
Ladang inspirasi
Aspirasi puisi

Senyummu
Bahasa tanpa kata

Dan, tawamu
Kode impian masa depan
.
Yogi Riyansyah

Minggu, 22 September 2019

Tugas kuliah 2

***
Tak terasa masa mentari menemani hari tiba di pucuk penghabisan. Warna jingga di langit mulai menyapa, sebuah pertanda waktu untuk kembali ke rumah singgah, untuk sekedar rebah atau beristirah walau sejenak. Setelahnya aku lebih suka menghabiskan waktu malam bermesra dengan buku diary kesayangan.

Tiba di rumah singgah, aku coba pejamkan mata sejenak. Kebiasan berulang yang lakukan setiap harinya.

Tugas kuliah? Tugas yang baru diberikan oleh dosen tadi sedikit mengganjal. Biasanya jam segini jasadku sudah berada di tempat fovorit, mana lagi kalau bukan tempat teduh tepi pantai itu. Tapi, apa boleh buat kewajiban di bangku kuliah memaksa waktuku dimakan olehnya.

Aku otak otak keyboard laptop untuk menyusun ppt, bahan untuk presentasi minggu depan. Harusnya bisa juga sih, aku lakukan besok-besok. Tapi, setelah kupikir ulang rasanya sangat menjadi beban. Untuk aktivitas malamku.

Setelah tugas kuliah selesai aku pun bergegas seperti biasanya, dengan buku diary dan tepi pantai.

Aku mulai goresan kali ini dari dengan puisi. Sebuah hal yang sangat monoton. Bagaimana tidak hampir tiap kali aku menulis, tulisanku adalah puisi. Entah apa temanya entah apa tujuannya.

Tugas Kuliah

Tugas kuliah

Larut dalam lamunan bersencar di atas gulungan ombak kata kata yang telah terrangkai dan tersusun sedemikan rupa dalam buku diary.  para teman-teman di kelas duduk manis sembari menyiapkan laptop di atas meja mereka masing-masing, gambaran wajah bu mega salah satu dosen di kelas yang terkenal tegas dan galak. Hari ada tugas dan harus dipresentasikan di depan audiens teman-teman kelas.

"Odi, tugasmu sudah selesaikah? Hari ini jadwalmu presentasi di awal" suara dari Doni salah satu teman sekelas mendadak mengejutkanku.

Bagaimana tidak ini adalah jadwalku, tapi aku belum sama sekali mengejarkan tugas, apalagi mata kuliah bertema hitung menghitung memang bagiku cukup membosankan, aku lebih suka bermain dengan kata-kata daripada angka-angka.

"Aku belum mengerjakan sama sekali don" semburat mimik cemberut berselimut ketakutan akhirnya buncah juga di wajahku.

"Wah... Bagaimana kamu Od, nanti Bu Mega bisa marah besar dan nilaimu bisa saja dapat C loh"

"Aku juga panik ini don, aku juga sangat khawatir akan hal itu" ketakutan di wajahku semakin menjadi.

Tiba Bu Mega duduk di kursi dosen kelas kami, namaku di panggil untuk maju kedepan memaparkan hasil tugas yang harusnya sudah aku kerjakan.

Wajahku lengkap susah bersemu abu-abu. Jawaban apa yg seharusnya aku utarakan untuk menepis semua ini?

"Odi, ayo jadwalmu sekarang maju presentasi" suara Bu Mega layaknya petir yang dag dig dug der menyambar

"Saya, belum mengerjakan bu. Semalam listrik di rumah padam hingga pagi, laptop saya batrenya habis, dan paginya saya harus mengais rupiah" entah mengapa kata-kata ini seakan melesat deras keluar dari mulut tanpa ada pemandunya.
Hening sejenak.....
"Ya sudah odi. Setelah ini kalau ada waktu silakan di kerjakan. Khusus kamu saya toleransi" jawaban Bu Mega beriringan dengan senyum ramah.
Ada yang aneh, tak seperti biasanya...
Tapi ah ya sudahlah.. mungkin aku cukup menikmati drama yang disuguhkan semesta

Sabtu, 21 September 2019

Buku Diary

Bab 2
Buku diary

Tak terasa detik jam berputar mengelilingi angka-angka begitu saja. Tak terasa sudah tiga halaman buku diari kesayanganku rimbun akan ocehan yang tumbuh dari benakku. Meski hari ini aku menulis kelanjutan ceritaku kemarin. Sebuah tulisan yang masih berantakan. Pukul tiga dini hari tiba. Aku harus kembali ke rumah sebelum para neyalan menyerbu pantai untuk mengais rupiah. Seditaknya masih ada waktu sekitar satu jam untuk di gunakan istirahat membaringkan diri. Menutup mata sejenak. Sebelum adzan subuh berkumandang.

Matahari pancarkan senyum setengah malu-malu. Embun nempel di rerumputan bergoyang indah. Angin sejuk berhembus mengelilingi mereka yang akan memulai kesibukan. Mata beliak dini mentatap petunjuk waktu yang menempel di dinding rumah. Pukul tujuh pagi. Ini adalah waktu untuk mengisi energi sebelum mengawali kehidupan hari ini.

Tidak jauh memang jarak rumah dari kampus. Tempat yang aku jadikan menimba ilmu. Melanjutkan pendidikan. Atau, menjadi tempat yang akan jadi batu loncatan untuk memberi imbuhan nama gelar di belakang nama asliku. Jadwalku dibangku kuliah di hari senin sampai kamis. Untuk waktu tepatnya pukul setengah delapan sampai jam satu siang. Setelah itu aku harus menuju kafe tempatku bekerja dan mengais uang jajan disana.

***

Setiba di kampus, seperti biasanya. Tidak ada yang istimewah. Semuanya nampak biasa saja.

Tujuh jam berlalu melesat tak terasa. Dosen di kampus telah menyudahi pembelajaran hari ini. Masih ada waktu beristirahat sekitar satu jam sebelum aku harus menuju Kafe Angkringan tempat mencari sampingan uang jajan. Waktu istirahat ini biasanya aku manfaatkan mengisi perut di kantin kampus.

Aku harus pergi sekarang menuju Kafe Angkringan. 

Ada kejanggalan yang aku sendiri tak bisa menebaknya. Kiranya apa. Aku sudah tiba di tempat kerjaku kini. Melayani pelanggan dan mengantarkannya adalah kewajibanku disini.

Tiba-tiba entah darimana datangnya. Seakan ada petuah yang mengingatkanku pada diary kesayanganku. Aku ingin menulis sesuatu. Yang tiba tiba dihujani inspirasi untuk melanjutkan tulisan.

Anak Ikan di Langit

Anak Ikan di Langit

1.
di batas yang tak jelas. Manifesto bergemuruh riuh. Serut sautan dalam gelas meluber arungi samudra.

begitu kemudi itu pergi tinggalkan bibir pantai. Ikan ikan akanan tumpu dinaiki nuju hembusan angin di atas daun.

2.
Perahu yang berisi lemari tentang lukisan anak ikan. Yang lahir dari susunan batu batu. Entah dari mana. Dari gunung atau dari kampung. Dari desa atau dari kota.

Lukisan anak ikan di rangkai menjadi bukit bukit.
Berharap seluruh anak ikan menghuni langit.

3.
Aku memang tak punya sesuatu yang mewah untuk kulansir berdialog dengan sang surya.

Hanya anak ikan.

Entah ia bisa bertahan lama. Atau mati
sebelum aku memberitakannya.

---
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah

Jumat, 20 September 2019

Mengapa Puisi

Mengapa puisi?

Aku lebih suka puisi. Mengapa?
Sebab puisi karya tulis abstraksi.
Sebab puisi kiasan bernilai misteri.
Setiap kata adalah rahasia.
Setiap kalimat adalah tipu muslihat,
tempat besembunyi bagi penulisnya.

Puisi punya gaya bahasa yang indah.
Bahasa langit-langit, dan melayang-layang.
Terkadang cerah -- berseri
Terkadang juga mendera dera.

Puisi adalah manifesto aksara
Luapan kata hati secara samar
Asal muasalnya pun beraneka ragam
Ada yang dari pemikiran kritis
(Kritik sosial, kritik lingkungan, dan lain-lain)
Ada yang dari kondisi suasana hati
(Jatuh cinta, bersedih atau yang lainnya)

Tak mudah memahami puisi
Sebab sutradaranya bertopeng tebal
Ada banyak kabut-kabut
-- yang berlalu lalang di halai-helai baitnya
Lihat saja bagaimana si penulis yang murung
Tapi, malah menulis puisi jatuh hati
Bagaimana penulis yang biasa-biasa saja
Tampil dalam aksaranya seakan ada apa apanya.

Pembaca seakan berbunga ketika menikmati
Seakan hanyut dalam lautan aksara
Yang indah nan sahdu
Tapi belum tentu itu ekspektasi dari penulis
Puisi memang menjadi media
Bagi penyair membolak-balik keadaan

Tapi, tak semulus itu bagi pecinta puisi
Karena tulisannya yang tak jelas
Al hasil, apa yang dimaksud pun
sering gagal paham bahakan salah paham
Setiap sudut sering kali berbeda tafsir.

Dan, yang lebih menyudutkan lagi bagi penulis puisi
Dimana karya ini adalah karya yang samar
Penjualannya di pasaran pun
tak semarak buku cerita (cerpen, novel, dll)
Atau pun buku literatur lainnya
Tetapi, salah satu penyair kondang dari indonesia pernah berpesan.
"Puisi adalah karya yang indah, asal tak mengharapkannya laku di pasaran"


--- 19 September 2019 (yrs)

Kamis, 19 September 2019

Tempat Mimpiku Tergantung

Bab 1
Tempat Mimpiku Tergantung

Malam hening memecah lamun, tatapan kosong melayang layak layang layang yang ditinggal pengendalinya dan diikat pada ranting pohon. Harapan pengikatnya adalah, agar layang-layang tetap tenang, berdiri tegak dengan benang membentuk angka satu yang lurus keatas. Tanpa tahu bagaimana kabar angin selepas itu, apakah tetap tenang saat pengedalinya pergi atau malah angin mengombang ambingkan layang layang yang sedang terbang. Begitu pula kondisi lamunku yang terpaku pada satu objek. Objek yang masih tak kunjung menemu titik terang. Aku berambisi menangkup itu dipelukan tanganku yang saat ini masih terhitung tak cukup kuat menggenggam ambisi itu.

Semakin tenggelam dalam lamunan. Entah sampai di menit berapa tepatnya, angin nyiur menusuk. Lewati mata yang sedang lelah berkelahi dengan tikam seribu misteri dari langit. Semakin buncah. Kondisi kusut di atas kepala akan bayang-bayang peharapan. Bercampur nyiur angin, yang suaranya gaduh menambah kusut penghuni isi kepala. Jari jemariku tetap saja liar menyebar di atas kertas menggoreskan mimpi-mimpi yang  aku sendiri menganggapnya terlalu tinggi. Dan mustahil bila itu akan jadi nyata. Setidaknya ada harapan yang aku gadang di masa depan.

Begitulah kondisiku malam ini yang membaringkan diri di bawah pohon cemara yang rindang di tepi pantai. Ditemani buku diary yang senantiasa kubawa bila di tempat ini. Dengan raut menyeringai. Dengan imajinasi berjalan-jalan menyusuri setapak cakrawala. Ditambah angin malam dingin menembus pori-pori. Seperti malam-malam sebelumnya aku selalu merasa senang. Selalu merasa tenang. Menatap tenangnya lau. Menatap debur ombak yang perlahan menepi nuju bibir pantai.

Mataku semakin kosong matap megahnya cakrawala beserta pikirku yang berjalan mengelilingi setapak luasnya. Lengkap sudah aku yang berada di tepi pantai, tempat yang paling aku sukai. Tenggelam dalam jurangnya palung laut dan melayang mengitari cakrawala yang malam ini indah berhias bintang gemitang yang melimpah. Nampak cerah. Nampak indah.

Layaknya pelaut ulung yang gigih berlayar mengarungi samdura. Menerabas debur ombak. Dengan bermodalkan layar perbekalan sederhana. Survival di tengah laut. Layaknya mimpiku yang terlalu mengada ada itu.

Aku sering mengunjungi tempat ini. Baik siang ataupun malam. Sekedar melepas penat yang membenak dari kehidupan dunia yang kujalani. Namun, aku lebih nyaman dengan waktu malam. Waktu dimana sering aku gunakan berdialog mesra dengan semesta dan mencurah rasa melalui perantara pena. Sebab waktu malam dengan suasana sepi, lebih tenang. Dibanding waktu siang yang banyak orang berlalu lalang. Para nelayan biasanya yang meramaikan tempat favoritku itu. Mereka melakukan transaksi hasil tangkapan ikan dengan pengepul ikan kala siang, setelah semalaman berlayar di tengah laut. Perahu-perahu nelayan itu berangkat berlayar selapas kumandang suara adzan subuh. Oleh karena itu saat aku berada di tempat ini, menjelang dini hari berakhir aku harus memindahkan tubuhku di rumah singgahku. Tidak ada rasa merugi meski semalam suntuk menghabiskan waktu yang semestinya aku pakai untuk rebah di rumah, setelah lelah berkerja. Tak jarang juga di tempat ini kadang mataku terkatup. Pikirku menuju alam taman bunga yang bertabur.

Di tempat ini seperti tiada duanya bagiku. Entah mengapa aku yang punya hobi menulis. Saat menulis di tempat lain, imajinasiku seakan kesulitan keluar dari kandangnya. Berbeda dengan tempat ini yang memberikan berjuta ketenangan jiwa. Dari ketenangan itulah lahir berjuta aksara indah. Meski definisi aksara indah itu masih aku katakan dalam hati saja. Kutakan masih _amatir_ saat di hadapan kawan hidupku. Salah satu cara agar aku selalu merendah. Terlalu bodoh jika kusandingkan diriku dengan penulis yang punya nama besar. Aku bukan penulis sungguhan. Hanya sesorang yang hobi menulis. Lagi pula untuk melangit seperti itu sejatinya aku tak ingin. Keangkuhan itu akan mengantarkan terperosot ke lembah suram. Terkadang tak di sadari oleh mereka yang sedang naik daun.

Rabu, 18 September 2019

Dari kopi senja

Dari Kopi Senja

Ada yang lebih pahit dari kopi senja
-- yaitu kepergianmu (kekasih)

Ada yang lebih hitam dari kopi senja
-- yaitu kisah kita (kekasih)

Ada yang lebih pekat dari kopi senja
-- yaitu kesepianku (kekasih)

Ada yang lebih nikmat rasa kopi senja
-- yaitu aroma senyummu (kekasih)

Ku senduh rindu yang ampasnya
--- sisa kenangan antara kita.

--- (YRS)

Minggu, 15 September 2019

Keindahan Sampah

Keindahan Sampah

Sampah?...
Siapa yang tak mengenal kata satu ini.
Kata yang tergolong gelap dan punya keserasian dengan kata kumuh. Layaknya pasangan yang mesra, atau serasa kembar siam ketika mendengar "sampah" dan "kumuh" melebur menjadi hal menjijikan.

Berdasarkan jenisnya sampah dikelompokan menjadi dua :
Ada sampah basah dan ada sampah kering.
Sampah basah biasanya adalah sampah sisa makanan sehari hari. Bungkus plastik makanan ringan-- contohnya.
Dan sampah kering biasanya adalah golongan sampah dedaunan. Daun yang gugur dari rumah rantingnya-- contohnya

Sebagian besar orang berpendapat bahwa sampah dan kumuh adalah hal sepasang. Tapi sebagian orang juga berpendapat tak semua sampah terlihat kumuh, tak semua sampah itu menjijikan.

Ada juga sampah yang berbau harum, ada juga sampah yang indah dipandang apabila hanya untuk memanjakan retina, yang membentuk baris-baris lurus dan ada yang melengkung di tengah jalan. Yaitu sampah mobil di jalanan. Bagaimana pemandangan jalanan saat macet? Indah di pandang dari angel yang bagus tapi cukup memelahkan bagi pemeran yang tampil di dalamnya.

Ada yang lebih menjijikan lagi dari berbagai jenis sampah yaitu sampah masyarakat. Tapi, sampah masyarakat adalah warna bagi keindahan bermasyarakat.

---
15 September 2019 (YRS)

Musim Serasa Kau

Musim Serasa Kau

1.
Kau serasa musim panas 
-- yang dirindukan hujan.
Kau ukir berribu kenangan. --
Ada suka bercampur duka. 
Ada duka bercampur luka.

Musim panas, daun-daun berguguran
Ranting-ranting berjatuhan
Tanah haus meraung-raung
Aku.... rela memeluk tabah
Demi rindu akanan temu.

2.
Hujan lembab lembut jatuhmu
Mengundang sejuta rindu
-- yang tersusun tersimpan rapi

Muara kelabu mendarat ke tanah
Aku lebih suka lelehan air 
-- yang mendarat di pipimu
-- yang memerahkan matamu

---
Menangislah putri...
Lelehan air matamu akanan telaga
Dan aku rela menjadi penyelam
--- yang menyusuri lingkup hatimu di kedalaman.

---
Tuban, 15 September 2019
Yogi Riyansyah

Sabtu, 14 September 2019

Separuh Hati

Aku tinggalkan separuh hatiku di kotamu. Dan separuhnya lagi aku bawa pulang. Ketika aku sampai di rumah separuh hatiku merindukan separuhnya lagi. Hari-hari berikutnya seakan menjadi hari penuh rindu.
.
Separuh hatiku yang tertinggal buatku tak tenang. Aku harus mendatangi lagi kotamu. Menjemput separuh hatiku agar bersatu dengan separuhnya lagi yang masih di rumah. Untuk menyempurnakan agar utuh kembali.
.
Betapa bahagianya kesempurnaan hati yang telah penuh kala terhiasi manik senyummu. Senyum yang menambah kesempurnaan hatiku. Tambah sempurnanya lagi. Kau berikan juga separuh hatimu.
.
Separuh hatimu saja sudah membuat hatiku teramat sempurna. Apalagi kau berikan sepenuhnya hatimu itu. Kekasih.
.
Entahlah biar takdir yang mengurus sisa kelanjutan misteri dari separuh hatiku yang tertinggal di kotamu.

Percakapan Bulan Bintang

Percakapan Bulan Bintang

Dingin yang kelam wajah langit malam
Bulan dan bintang larut bercakak
Ada yang tetap setia menggantung
Ada yang menunggu awan berabu hilang
Dan, ada yang salah sangka :
   Dikira cerah ternyata
   sudah lebih dulu memerah

Raya cakrawal nira mengalir dengan nirmalanya
Lalu lalang awan mengerjap sembunyikan bulan-bintang
Wajah mana yang lebih cerah. Kekasih...

Yang pernah hilang lalu datang
Yang baru datang pun merasa nyaman
Mengira semula baik-baik saja
Aku tak tahu. Bagaimana teriak bulan-bintang
Tak pernah ada sepatah kata
Bahkan tak pernah tahu di antaranya

     Selamat malam bulan
     Selamatmalam bintang
Semoga saat kau dipertemukan bercakap ramah
Galaksi akan terhias lebih indah
Tapi, mengundang pilu setelahnya.

---
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah

Kamis, 12 September 2019

Asal Usul Merindu Kotamu

Asal Usul Merindu Kotamu

Waktu pagi aku siapkan langkah berserta angannya
Bergegas memeras rindu yang menggumpal
Magis cita-cita akan bersenandung di bumi pandhalungan

Gegap gempita menghujani seribu tanda tanya
Dari muncul fajar sampai datang senja
Kaulah rindu yang cita-citakan mataku
Tiada lelah—Tiada resah. Aku menunggu

Di peralihan hari—rindu berujung temu
Terminal Tawang Alun diam membisu 
menyaksikan lelehan rindu 
yang menyublim di aula senyummu
Aku terbungkam kata-kata disekap diam
Manik manis senyummu mewaliki semua

Andai aku malam. Kau lah rembulan
Cahayamu menyinari gelapku yang lama terlelap
Andai aku langit kau lah bintang gumitangnya
Parasmu menghiasi kekosongan dengan isi

Rindu ini serasa sempurna :
bergema di belantara semesta di antara rasa
Serasa kilat waktu kita saling bersua
Mengundang rindu di lain waktu.

---
Tuban, 9 Juli 2019
Yogi Riyansyah

Cinta Rahasia

Cinta Rahasia

Setapak jalan, bekal nuju senyummu
Pijar lampu lampu teman kesunyian
Aroma sabit bibirmu tercium rabun retina

Senja perlahan hilang. Tinggalkan hari
Aroma senyummu belum terdekap
Jalan panjang berliku

Beliakmu samar kusut terpampang
Rindu sampailah di pucuk ilalang

Awan hitam... 
Awan hitam ternyata hanya lewat
Rindu masih lengket dan pekat
Tidak berubah, tidak berbenah

Ini malamku...
Bukankah ini juga malammu....

Dimana pelita hatiku?
Senyummu semu
Aku tak ingin lagi meramunya

---
Tuban, 12 September 2019
Yogi Riyansyah

Selasa, 10 September 2019

Dear, Nathan

Dear, Nathan

Langitku kelabu ketika itu
Malamku sunyi saat itu
Siangku kering waktu itu
Kekosongan menghampiri
Menghimpit setiap sudut

Angin sepoi dari barat
Datang mendekat dan mendekap
Yang semula abu-abu, membiru
Yang semula sunyi, jadi ramai
Yang semula kering, kau yang basahi
Kau adalah awan bagi langitku
Bintang bagi malamku
Dan matahari bagi hariku

Musim semi yang berseri-seri
-- dikungkung mendung
Langit biru kembali buram
Malam berbintang kembali gelap
Dan siang yang indah, tak lagi merona
Kering keronta merubah cuaca
Kau cerah dimana, Nathan?

Semua kesedihan berangsur hilang
Cerahku kembali; dengan kekosongan
Kau telah indah di bumi yang lain
Aku bersandar di belahan baru.

----
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah