Minggu, 13 Oktober 2019

Memandangmu 2 (dengan secangkir kopi)

Memandangmu 2 (dengan secangkir kopi)

--- . ---
Memandangmu, kusiapkan secangkir kopi.
Kopi yang berwarna hitam. Berwajah kelam
Berharap pekat senyummu tiba melekat --

Semakin mantap ini rasa kopi
Saat senyum khusyukmu mulai masuk
Mendekat. Merapat dalam cangikir yang erat.

Menambah rasa hikmat saat disemat.
Menambah rasa nikmat saat diaduk.
Sebelum aku menegguk.
--- . ---
Memandangmu, kusiapkan secangkir kopi.
Yang berasal dari petikan kenangan.
Yang di tumbuk dengan ceruk kerinduan.
Yang di rebus dengan airmata tangis masalalu.
Agar lebih sahdu saat diseduh.
--- . ---
Memandangmu, kusiapkan secangkir kopi.

Sebuah kopi yang bernama sepi
Sebuah kopi yang hanya sendiri.

Tanpa gula yang aku sengaja —
Berharap apabila senyummu tiba
Senyummu singgah di dalamnya

Agar lebih dinamis —
saat ditambah aroma manis senyummu.
--- . ---
Memandangmu, kusiapkan secangkir kopi.

Kopi yang akan diserahkan lidah
Kopi yang akan dititipkan mata
Kopi yang akan merasuk ke kepala.

Agar dada merasa tengadah;

Saat rasa pahit mulai melilit lidah
Saat hitam mulai dipandang mata.
Saat kelam mulai hadir di kepala.

Agar dada dapat menyingkap tabir:

Ada manis di balik pahit
Ada putih di tengah hitam
Ada cerah menyatu dengan kelam.
--- . ---

Sambil memandang senyummu;
Ditemani secangkir kopi; yang airnya—
Perlahan mulai menepi mendekati sepi.

***

Sayang! Kopiku sudah habis.
Kini kau masuk dalam baris.
Desir syair yang ku ukir.

---
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah

2 komentar:

  1. Kopi tanpa gula terasa pahit
    Aku tanpamu terasa sakit
    😂😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Yang manis itu berati tulisanmu kak 😁😁😁

      Hapus