Selasa, 01 Oktober 2019

Kesendirian

Kesendirian

Angin berhembus melewati tubuh. Debur ombak bergelombang dengan tenangnya menuju pantai menabraki bebatuan karang. Bagaiamana bisa seorang pelaut setelah sekian lama meninggalkan daratan akhirnya rumah adalah tempat merayakan penghabisan masa pelayaran terakhir dalam hidupnya. Menjadi tempat indah menghabiskan senja bersama kekasih. Setelah sekian lama berpisah.

Begitu juga aku yang terengah-engah menikmati suguhan panorama semesta yang begitu sejuk menghuni kelopak mata. Menatapi wajah laut dengan alunan halusnya dan wajah mentari yang kini menua di ufuk barat. Sebentar lagi mentari akan tenggelam meninggalkan hari yang cerah. Untuk bergantian dengan yang memberi keindahan kala gelap menyergap atap cakrawala.

Waktu ini adalah waktu senja yang fana. Teramat fana yang sedang kunikmati seorang diri. Dengan sisa penghabisan usia. Dengan segala perenungan dan penghayatan. Untuk apa bertemu. Bila pertemuan mempunyai pasangan perpisahan. Kita di buat bahagia oleh semesta dengan pertemuan. Dengan mudahnya menjatuhkan senyum di awal pertemuan entah alasan apa yang pantas mewakili kala senyum itu terus-terusan menghuni, yang jelas semua pertemuan yang melahirkan rasa nyaman—semuanya begitu indah. Setelah melewati fase pertemuan dan memulai perjalanan sebuah kisah. Kembali kita hanyut dalam drama semesta—Dibuat jatuh bangun mengejar sesuatu dan mempertahankan agar tak begitu saja kehilangan. Di tengah perjalanan itu lagi-lagi bahagia menyusup di dalam sebuah kisah dengan segala hikmahnya. Tapi mengapa semua kisah yang berhubungan dengan pertemuan pasti akan bertemu dengan kehilangan. Semuanya sama. Tetap saja harus digarap oleh waktu dibuat tak berdaya kala perpisahan menjadi harga mati untuk sebuah kisah. Semua cerita tetap saja hampir sama untuk dunia yang fana ini.

Dunia ini berputar. Embun pagi yang sejuk akan menguap di siang hari. Sebagian mereka yang berada di lapangan di buat merasa mengeluh sejenak dengan terik raja siang yang membakar. Namun keluhan akan berganti kesejukan saat senja telah tiba. Dan akan jadi waktu beristirah melepas diri dari hiruk pipuk dunia dengan segala aktivitas penatanya kala rembulan dan bintang gumintang pentas di atas langit malam.

Ya. Dunia ini memang berputar. Kita hanya berputar-putar saja menjalani peran dalam drama semesta, dan ujungnya akan kembali lagi pada titik semula kita berasal. Seperti nuansa musim panas yang sedang kunikmati kini. Hujan beberapa hari, bahkan beberapa bulan terakhir tak kunjung turun. Air laut perlahan menguap menuju langit membentuk gumpalan. Gumpalan yang belum cukup kuat untuk turun sehingga harus dihadang sinar sang surya. Padahal sinar sang surya kini sedang membakar air laut yang membuat air laut menguap dan membentuk gumpalan menuju langit. Sampai gumpalan itu kuat akhirnya hujan akan turun pada musim hujan nanti.

Aku menikmati nuansa musim panas kali ini dengan berada di pinggir pantai ditemani buku harianku, untuk mencurah sebuah perenungan dari perjalanan atau lebih tepatnya siklus perputaran. Perjalanan dari angka nol menuju angka seratus namun setelah mencapai puncak tujuan. Tak selamanya berada di puncak dan Perjalanan harus berjalan mengalami penurunan dari angka seratus sampai kembali pada angka nol. Kalimat bertema perjalanan ini sedang menghujani pikiranku. Lalu aku menyalurkan dari pikiran menuju jemari untuk menari menggandeng pena di atas kertas.

Sebelumnya jemariku biasa menari di saat musim hujan tiba. Musim yang menjatuhkan butir air dari langit ke tanah. Juga menjatuhkan rasa rindu di hatiku. Tak jarang saat musim hujan tiba seakan menjadi serangan bagi nuraniku yang selalu merindukan kekasih. Tak jarang juga aku membenci datangnya musim hujan. Padahal tak semestinya aku menghujat semesta seperti. Bukankah hujan turuh itu membawa berkah?

---
Hujan, kau sangat kejam.
Kau turunkan ricikan mengkoyak suasana hati
Banjir sudah rasa ini. Entah untuk kali keberapa
Kau juga menjadi alarm
Tanda datangnya rindu untuk bertamu
Mengapa?
Mengapa rasa ini dengan mudahnya
Muncul
Dengan mudahnya merasa rindu
Tapi, Betapa susahnya merangkai temu.
---

6 komentar:

  1. Dalam maknanya plus keren pilihan katanya

    BalasHapus
  2. Sangat Menarik Untuk Disimak... Mungkin sedikit saran, untuk setiap paragrafnya jangan terlalu gemuk, agar yang baca tidak cepat jenuh membaca tulisannya mas Yogi...

    Tapi, keseluruhan cerita sudah bisa sampai ke yang baca...

    Semangat Mas

    BalasHapus
  3. 👍suka berpuisi y mas ..
    "Menabraki" lebih enakan "menghantam". 😁💪

    BalasHapus
  4. Pemilihan katanya bagus sudah.
    Mungkin kata saya terlalu banyak diksi tapi tetep ok kok.
    Semangat kawan!

    BalasHapus