Rabu, 02 Oktober 2019

Kesendirian 2


Salah satu puisi menye-menye ini berada di halaman tengah buku harianku. Aku tulis saat awal menjajaki usia berkepala dua. Saat yang indah. Betapa dengan mudahnya rindu datang bertamu. Tapi sangat sulit membalasnya dengan bertemu.

Catatan awal di buku harianku aku awali saat aku mejalani hubungan jarak jauh dengan *ndree.  Ia menjadi sosok perantara mengenalkanku pada indahnya suasana hati yang terhiasi cinta. Cinta yang antara dua hati yang sama sama jatuh pada satu satu rasa yang sama. Akhirnya cinta kami menemui keselarasan. Meski halang rintang menghadang di tengah sebuah kisah.

Aku mencoba mempertahankan sekuat mungkin aku bisa, meski takdir di tengah kisah kami tergolong takdir yang sulit di terima nurani. Namun, semesta telah menyiapkan takdir berikutnya yang lebih indah. Takdir yang memaksaku harus menumpahkan senyum yang penuh kebahagiaan atas mubram yang telah di tetapkan. Itu adalah hari yang sangat bahagia dalam hidupku. Sampai akhirnya kado takdir semesta dengan segala misterinya mengantarkanku pada ranah yang pahit setelah melewati manis. Mengalami kehilangan setelah pertemuan dan kebersamaan.

Kali ini aku tak ingin menghujat semesta dengan takdir yang datang padaku. Aku mencoba bersikap lebih dewasa menghadapi dilema ini. Mencoba menerima apa adanya, meski pahit melilih hati dengan kesendirian di kemudian hari.

"*Ndree... Mengapa kau meninggalkanku. Padahal dulu kita berjanji untuk hidup berdua selamanya." Itu kata terakhirku untuk mengharap *ndree kembali lagi menemani hariku. Namun apalah daya. *Ndree hanya diam seribu bahasa tak berkata apa-apa. Keputusan yang sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat. Menyeretku pada kenyataan menjalani kehidupan tanpanya. Sama persis seperti dulu saat kami belum saling mengenal.

Perlahan air mataku tumpah membasahi pipi. Tapi *ndree tetap saja hanya berdiam diri. Balasan senyum ia berikan atas linangan air mataku. Akupun melepaskan dengan menanggalkan sumpah serapah kepada semesta. "Aku akan kuat menjalani takdir dalam drama semesta." Perkataan ini yang menguatkan langkahku sekarang menjalani kehidupan tanpa *ndree.

Memang sudah seharusnya aku tak bersedih mengahadapi kehilangan kali ini. Mengingat nama yang telah disemat orang tuaku adalah Gavin. Yang berarti elang putih. Elang yang diharapkan aku bisa terbang tinggi dalam pencapaian hidup. Dan putih yang berati suci atau bersih. Jika digabungkan berati pengharapan orang tuaku atas namaku adalah agar aku mampu terbang menggapai pencapain yang tinggi dalam hidupku dengan cara yang bersih. Namun semua pengharapan itu di usiaku saat ini seakan belum menemukan titik terang. Sampai akhirnya aku merasakan rasanya kehilangan yang menuntut aku harus tegar menghadapi. Mungkin ini bisa aku artikan sebuah pencapaian. Dengan tetap menjadi elang ya terbang tinggi, tampil dengan gagahnya meski terbang tanpa ditemani seorang kekasih. Tetap saja elang masih nampak gagah, meski sendiri. Dan putih bersih kali ini aku artikan dengan sikap ikhlas menerima kenyataan. Tanpa adanya hujatan yang aku lontarkan pada takdir semesta. Dengan begitu tetap menjadi Gavin, sebuah elang putih yang terbang tinggi, dengan kerendahan hati.

*
terimakasih kekasih, 
yang telah memperindah hariku
dengan mentap senyum manismu
yang telah memperindah langkahku
Dengan hadirmu di baris belakang

yang telah memberikan waktumu 
mendidik kerinduanku. Dengan jarak
mengajari untuk tabah
Atas segala derai takdir yang singgah.
*

5 komentar:

  1. Sedikit over gak sih kalau ini di angkat dari keresahan pribadi? Selebihnya nice writing 👌

    BalasHapus
  2. Awalnya gk ngrti maksud ceritanya
    Rupanya sad ending

    BalasHapus
  3. 👍 meski agak gak mudeng nih, tp feel nya dapat 😊🙏

    BalasHapus