Minggu, 06 Oktober 2019

Jaka Tarub Datang Lagi dan Gagal Mencuri selendang

Jaka Tarub Datang Lagi dan Gagal Mencuri selendang


JAKA TARUB, siapa yang tak kenal dengan kisah Jaka Tarub, yang hidup pada masa jaman dinasti mataram , yang mencuri selendang Nawangwulan, seorang bidadari dari khayangan yang mandi di sungai bersama 7 temannya. Hal ini menyebabkan Nawangwulan dikutuk dari khayangan. Dan tidak dapat kembali lagi. Alhasil Nawangwulan diperistri oleh Jaka Tarub.

Kisah ini akan menceritakan seorang Jaka Tarub pemuda dari suku jawa yang ingin mengulangi kisah mencuri selendang untuk kedua kalinya. Namun usaha dari Jaka Tarub menemui jalan buntu.

Kehidupan Jaka Tarub memandu cinta dengan Nawangwulan berjalan sangat mesra kehidupan mereka dikaruniai orang 3 anak laki-laki. Raut wajah Nawangwulan masih terjaga kecantikannya meskipun sudah menjadi ibu rumah tangga dengan 3 orang anaknya. Jaka Tarub sebagai seorang ayah pun giat bekerja sehari-harinya untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Dalam kisah ini Jaka Tarub pun di kenal sebagai pribadi penyayang dalam keluarganya.

Nawangwulan yang pernah menjadi bunga desa saat diperistri pertama kali oleh Jaka Tarub memang banyak menyita perhatian warga desa ketika itu. Bagaimana tidak Nawangwulan adalah bidadari dari khayangan. Bahkan sampai dirinya sudah beranak 3 masih banyak pria di desa yang bereneka usia mulai dari pemuda hingga paruh baya menaruh harapan pada Nawangwulan. Alasan mereka semua sama. Terpesona karena kecantikan Nawangwulan. Namun hal ini tak menggoyahkan sedikitpun ikrar kesetiaan Nawangwulan pada Jaka Tarub.

Kehidupan Nawangwulan setalah menikah lalu melahirkan anak lebih sering menghabiskan waktu dengan suami dan buah hatinya.

Nawangwulan juga sering mengabaikan setiap lelaki yang pernah datang dan bilang mencintainya dan mengingkan Nawangwulan dijadikan istrinya. Mereka datang bertamu rumah saat Jaka Tarub sedang bekerja mencari nafkah. Hal ini ia abaikan karena Nawangwulan menghargai Jaka Tarub sebagai suaminya. Tak ingin menghianati saat Jaka Tarub sedang bekerja untuk dirinya.

Begitu pun dengan Jaka Tarub yang mulanya masih menjaga kesetiaanya kepada Nawangwulan. Namun, semua itu berbubah setalah Jaka Tarub mengalami masa puber keduanya. Jaka Tarub yang mulanya tidak tertarik melihat wanita mana pun kesetiaannya mulai goyah dan ingin menikah lagi dengan wanita lain.

Tetapi dalam  pemikiran panjang Jaka Tarub, dirinya masih memilah wanita yang kecantikannya melebihi Nawangwulan atau setidaknya setara dengan kecantikan Nawangwulan. Hal tersebut sepertinya teramat mustahil bagi Jaka Tarub untuk mendapatkan wanita lain yang kecantikannya melebihi Nawangwulan atau setidaknya setara.

Demi menuruti ambisi Jaka Tarub yang ingin menikah lagi. Akhirnya Jaka melanjutkan kebiasaanya dulu yang sering bertapa dan mermeditasi. Tetapi kegiatan seperti itu. Sering kali dilakukan pada malam hari saat beristirahat. Sebab saat pagi atau siang Jaka Tarub harus bekerja.

Kegiatan pertapaan Jaka Tarub mendapat cukup banyak halang rintang. Sebab pertapannya terlihat berlebihan dari hari-hari sebelumnya. Hal itu memancing tanda tanya dari keluarga kecil Jaka Tarub. Termasuk istri Jaka Tarub yang mulai curiga.

Tiba saat keluarga kecil tersebut berkumpul di ruang tamu dan terjadi pembicaraan ringan.

"Ada perlu apa mas, kok meditasinya tak ssperti biasanya?" Tanya Nawangwulan saat duduk bersantai di ruang tamu dengan keluarga.

"Tidak ada apa-apa, hanya saja aku ingin mengulang masa-masa dulu, seperti sebelum menikah. Buah hasil dari pertapaanku adalah mendapatkan istri canti seperti dirimu."  Sembari meminum teh hangat di depannya.

Selain dari istri Jaka Tarub, pertanyaan curiga juga muncul dari putra sulung Jaka Tarub.

"Iya, ayah kok tumben meditasinya kok sekarang setiap hari?" Pertanyaan lugu muncul dari putra sulungnya.

Jawaban sang ayah juga sama seperti jawabannya pada istrinya
"Tidak apa-apa nak, cuma ayah hanya ingin mengasah kemampuan ayah yang seperti dulu." Sambil melemparkan senyum kepada anaknya.

Belum tambah lagi. Putra bungsunya yang masih kecil juga sering menangis saat tengah malam. Saat Jaka Tarub sedang bertapa.
***

Di bulan pertama dan bulan kedua pertapaan Jaka Tarub seperti pohon yang besar dan tak berbuah. Namun hasil dari pertapaannya mulai nampak pada bulan ke tiga.

Sinyal-sinyal kecil yang datang dari khayangan tempat asal Nawangwulan berhasil ditangkap oleh Jaka Tarub dalam pertapaannya. Sinyal kecil ini serupa dengan apa yang ia dapati saat pertama kali berjumpa dengan Nawangwulan.

Sinyal kecil itu adalah sebuah kabar dari khayangan. Bawasannya adik dari Nawangwulan yaitu Nawanglintang akan datang ke bumi, untuk menjenguk mbaknya.

Tentu saja Jaka Tarub ingin memanfaatkan momentum ini. Dengan siapa Nawanglintang akan datang? Apa seperti kedatangan Nawangwulan dahulu yang bertujuh dengan teman-temannya atau Nawanglintang datang seorang diri. Sayang, semesta sepertinya tak memberi jawaban atas pertanyaan itu.

Kabar sejuk dari khayangan juga diberitahukan pada Nawangwulan melalui mimpinya.
***

Tiba saat yang ditunggu-tunggu Jaka Tarub, adik dari Nawangwulan telah tiba di bumi. Daratan pertama yang dipijaki di depan rumah dari Nawangwulan. Nawanglintang pun mengetuk pintu rumah tanda kedatangan seorang tamu. Nawangwulan yang membukakan pintu pertama langsung terkejut melihat kedatangan Nawanglintang ke rumahnya. Alhasil mereka saling melepas rindu dan berpelukan hingga cukup lama.

Jaka Tarub yang sore itu masih belum pulang dari tempat kerjanya, belum mengetahui secara langsung bagaimana pesona kecantikan Nawanglintang.

Tiba di waktu senja. Ada wajah yang bersemu merah, mata melongoh, bibir bergetar dan jantung berdegub lebih kencang. Saat Jaka Tarub yang baru pulang dari tempat kerjanya melihat secara langsung kecantikan Nawanglintang.

"Kau siapa?" Tanya singkat Jaka Tarub sambil bergetar.

"Ohh ini. Kenalin mas, ini adikku Nawanglintang dari khayangan yang datang kemari untuk menjengukku." Tersenyum bahagia dengan hati yang lantang istri Jaka Tarub menjawab.

"Haa... Dari khayangan? Kok bisa, apa ini tak salah, dik?" Semakin gemetar saja Jaka Tarub menghadapi situasi ini.

"Tidak mas, iya benar ini adikku. Semalam lewat mimpi aku dapat kabar dari khayangan tentang kedatangan adikku. Dan ternyata benar, Nawanglintang tiba kemari. Sambil memeluk Tubuh Nawanglintang

Jaka Tarub pun masuk ke dalam rumah untuk merebahkan tubuhnya. Sementara Nawanglintang malah ketakutakan melihat kedatangan Jaka Tarub. Ia Takut seperti mbaknya yang tidak bisa kembali ke khayangan akibat lelaki.

Malam hari tiba. Langit berbintang serta rembulan bersinar terang menghiasi atap rumah mereka. Malam Nawangwulan tidak tidur dengan Jaka Tarub, melainkan menemani kehadiran sang adik tidur di kamar lain. Sementara Jaka Tarub yang malam itu tak bisa tidur menguping pembicaraan Nawangwulan dengan sang adik.

"Adik, besok ayo aku ajak jalan-jalan, mumpung kamu masih berada disini."

"Jalan-jalan kemana mbak?"

Kebantaran sungai, sekalian mandi disana ya nanti. Aku ingin mengenang masa-masa saat datang kemari dengan teman-teman dari khayangan."

"Tapi mbak...."

Nawangwulan langsung memotong pembicaraan sang adik.

"Ah, tak mengapa kok. Tenang saja. Dan ada mbak disini. Lagian besok kamu kan sudah kembali ke khayangan. Nanti sampaikan salam pada raja, bawasanya mbak disini hidup bahagia"

"Iya dah mbak, baiklah."
***

Pagi yang sejuk. Embun pagi menyapa mereka yang sedang berjalan menuju sungai, tempat nawang wulan kehilangan selendangnya dulu. Tak lupa slendang Nawangwulan dan Nawanglintang juga ikut dibawa kesungai. Mereka berdua mencuci pakaian dan slendang.

Jaka Tarub yang mengetahui hal ini. Langsung menyiapkan strategi demi menginginkan kehadiran adik iparnya agar menetap tinggal di bumi. Siasat pun di siapkan oleh Jaka Tarub. Selepas mengetahui kepergian mereka berdua. Jaka Tarub menyiapkan penutup wajah untuk menyembunyikan identitasnya.

Mereka berdua sedang asik mencuci pakaian dan slendangnya di sungai. Kondisi sekitar sungai saat ini berbeda dengan dulu yang masih sepi dari penduduk. Buktinya saja. Mereka tak hanya berdua, tetapi ada orang lain sekitar bantaran sungai yang ikut mandi dan mencuci pakaian di sungai.

Selesai mencuci pakaian. Mereka berdua menyiapkan diri untuk mandi. Dengan cara sama yang di lakukan Nawangwulan dulu saat pertama kali datang. Pakaian kotor dan selendangnya yang habis di cuci diletakan di atas bongkahan batu di pinggiran sungai setelah itu mereka berdua mandi agak jauh, tepatnya di bagian tengah sungai.

Melihat pakaian dan slendang mereka berdua yang tergeletak. Jaka Tarub mulai mengintai dari balik pohon jati. Kali ini ada dua selendang yang berwujud sama persis. Berbeda dengan dulu saat Nawangwulan dengan tujuh temannya. Selendangnya beraneka warna.

Mereka berdua telah meninggalkan batu dan berada di tengah sungai. Arah pandang mereka berdua juga sudah menyingkuri batu tempat selendang di letakan. Itu tandanya misi Jaka Tarub untuk mencuri selendang kali dua siap untuk dilakukan.

Langkah demi langkah secara pelan-pelan dilangkahkan oleh Jaka Tarub, lengkap dengan penampilan penutup wajah menghiasi wajah Jaka Tarub.

Setibanya di bongkahan batu besar. Jaka Tarub sedikit kebingungan. Kenapa selangnya sama persis? Mana milik Nawanglintang. Jaka Tarub tak punya banyak waktu, takut mereka berbalik badan. Tanpa berpikir panjang lebar Jaka Tarub menggunakan teknik pilihan *sira siru* layaknya permainan anak kecil di suku jawa untuk memilih salah satu selendang. Setelah mendapati salah satu selendang. Jaka Tarub langsung melarikan diri. Usahanya seakan mulus tanpa rintangan untuk mencuri selendang bidadari yang kedua kalinya.

Nawangwulan dan Nawanglintang yang telah  selesai mandi. Melihat salah satu selendang itu hilang. Nawanglintang gugup tak karuan. Pasalnya ia takut tidak dapat kembali ke khayangan. Namun Nawangwulan sebagai saudara tua mampu mencairkan suasana.

"Tenang saja. Selendang kita kan sama adik, kau juga bisa pakai punyaku untuk kembali. Kalau punyaku hilang ya suadah. Biarin aja. Lagian aku sudah tidak lagi kembali ke khayangan." Nasihat Nawangwulan dengan santainya.

"Mbak nggak papa to kehilangan selendangnya lagi?" Sambil mengatur nafas, setelah nafas Nawanglintang tadi sempat tersegal.

"Sudah tidak papa adik, yang penting kamu bisa kembali dulu ke khayangan." Nawangwulan Sembari memberi senyum untuk adiknya.

"Hemm. Iya deh mbak kalo gitu." Nawanglintang menundukan kepala tanda mengiyakan.

"Ya sudah ayo kembali ke rumah. Setelah ini kamu kan persiapan untuk kembali ke khayangan. Jangan lupa pesanan mbak kemarin sampaikan pada raja khayangan ya."

Mereka berjalan bersama kembali untuk pulang ke rumah. Setidaknya keputusan Nawangwulan tadi menenangkan hati sang adik.

Sampailah mereka di rumah. Nawanglintang mulai mempersiapkan berpamitan dengan keluarga Nawangwulan di bumi. Sementara Jaka Tarub yang telah berhasil mencuri salah satu selendang dari mereka sedang tertidur puas. Karena Nawanglintang hendak berpamitan meninggalkan bumi. Jaka Tarub pun dibangunkan oleh istrinya.

Terkejutlah Jaka Tarub mengetahui hal ini. "Bagaimana bisa kembali, selendangnya kan aku curi satu?" Hati Jaka Tarub di hujanni pertanyaannya sendiri.

Pamitlah Nawanglintang untuk kembali ke khayangan. Tepat di halaman rumah Tubuh Nawanglintang yang membawa selendang di pundaknya perlahan naik ke atas. Jaka Tarub dengan keluarga kecilnya dari bawah melambaikan tangan tanda salam perpisahan. Naiklah Nawanglintang dan perlahan menghilang tak terjamah mata.

Nawangwulan langsung kembali masuk  kerumahnya. Kali ini Jaka Tarub sedang libur bekerja. Nawangwulan melanjutkan aktivitas seperti biasanya sebagai ibu rumah tangga. Kali ini pekerjaan Nawangwulan adalah merapikan baju yang telah usaindi cuci untuk diletakan di dalam lemari.

"Astaga.. apa ini? Ahh Mas Jaka rupanya tadi sampian to yang mencuri selendang." Nawangwulan terkejut.

Jaka Tarub yang mendengar hal itu mulai ketakutan. Takut mengetahui apa maksud pertapaannya selama ini untuk apa.

"Ah Mas Jaka bisa saja... Ciyee yang mau flasback mengenang jaman dulu ya. Sayangnya aku sudah tak lagi kembali ke khanyangan. Jadi aku sudah lebih bahagia hidup bersama sampian dan anak anak, mas." Nawangwulan terkekeh melihat tingkah suaminya itu.

Sementara degub ketakutan Jaka Tarub berubah menjadi canda tawa dengan istrinya. Hal ini juga membuat Jaka Tarub sadar. Bawasannya tidak akan ada habisnya jika hidup kita menuruti nafsu semata.

Sekian....
****

Hanya cerita Fiktif untuk memenuhi tantangan odop 7.

(Yogi Riyansyah)

4 komentar: