Kamis, 24 Oktober 2019

Gerimis Indah Di Stasiun Kereta


Sial! Hari itu menjadi hari tersial bagiku.

Hari dimana aku harus memberikan kenyaman sebagai tuan rumah untuk menjamu tamu yang datang dari kota berbeda. Dimana di hari itu dompetku sedang dilanda kanker (kantong kering).

Saat aku sedang asiknya berkencan dengan seseorang. Membeli ini itu. Sebuah jajannan di pasar. Untuk ia bawa pulang, dijadikan oleh-oleh. Maklum saja, yang ia cari adalah makanan khas di daerah sini, dan disana tidak ada. Itu adalah salah satu alasan yang mengobsesi dirinya untuk membeli.

Tibalah waktu dia selesai belanja. Dan kami harus segera bergegas menuju stasiun menyesuaikan jadwal keberangkatan kereta yang akan membawanya pulang. Saat itu adalah saat dompetku sudah benar-benar terkuras.

Terbanglah lamunan dalam benakku sepanjang perjalanan mengantar perempuan itu menuju stasiun. Bagaimana tidak!, Aku sudah tidak punya uang sama sekali, aku juga belum mengajaknya makan siang, sebelum prempuan itu pamit pergi. Selain itu hal-hal negatif mulai bertebaran menghiasi pikirku. Bagaimana nanti di saat perjalanan pulang banku bocor atau perutku harus menahan hawa lapar yang, seharian kan hanya makan sarapan nasi di pagi hari saja. Aku pun hanya bisa banyak berdoa dan menguatkan mentalku. Semoga hal negatif itu tidak terjadi padaku.

Setiba di stasiun kereta. Kami sejenak duduk bersanding di ruang tunggu. Karena kami tiba lebih cepat sekitar dua jam dari jadwal keberangkatan kereta dan kita menunggu kereta tiba.

Krikk.... Krikk.... Kami berdua hanya duduk saja dan saling berdiam diri. Aku yang kedinginan tertimpa guyuran hujan saat dijalan. Akhirnya tak tau harus bagaimana untuk menghidupkan suasana ditengah grimis kecil-kecil yang jatuh menghiasi cakrawala stasiun kereta.

Aku yang membawa tas kecil berisi dua buku kumpulan cerpen dari rumah. Akhirnya aku buka saja buku itu dan membacanya di sisi prempuan itu. Judul  buku yang aku baca Ada Hantu Di Hatimu. buku kumcer bertema horor, seseram dag dig dug perasaanku yang sedang dilanda terlena keanggunan rupa, gigil tubuhku sedikit sakit dan panik.

Perempuan itu tetap saja berdiam diri. Sambil sesekali molehkan arah pandangnya menujuku. Aku abaikan dia karena asik menikmati bacaan cerpen. Aku yang berhasil menangkap senyummu, berpura-pura jadi cowok sok cuek yang kutu buku. Padahal aku nggak kutu-kutu buku amat sih. Kuanggap Itu adalah cara cowok menarik perhatian.

Sejanak aku yang membiarkannya duduk di sampingku. Aku memberikan satu bukuku lagi yang sudah hampir tamat aku baca. Dalam buku kumpulan cerpen yang satunya itu ada cerita  yang cocok untuk kami yang sedang duduk menunggu kereta di stasiun. Cerpen berjudul Kereta Yang Mengabaikan Stasiun. Aku menyarankan prempuan itu untuk membacanya dan memahami isi dalam cerita.

Perempuan itu mulai membaca buku, aku di samping yang juga membaca buku, sesekali aku menghentikannya dan menatap wajah perempuan itu. Terkagum aku terpesona, wajah yang indah. Kata yang meloncat keluar dari bilik hatiku. Kutunggu saja sampai dia selesai membaca kemudian mengajaknya berbincang dan memberikan sedikit gombalan.

"Kau sudah selesai membaca?" Tanyaku di samping prempuan itu setelah buku yang berikan telah ditutupnya.

"Sudah. Ceritanya menjengkelkan. Aku tak suka dengan drama ini" Jawab dari prempuan itu.

Buku itu memang sangat cocok dengan kondisi aku dan perempuan itu yang sedang asiknya bersanding di ruang tunggu stasiun. Tentang kereta yang mengabaikan stasiun yang menyebabkan dua pasang sejoli harus berpisah lantaran kondisi prempuan harus kembali ke kota awal. Dan stasiun menjadi tempat perpisahan hubungan mereka. Sang cowok menunggu di stasiun. Tetapi kereta yang membawa pasangannya tak kunjung kembali.

Selepas dengan drama singkat tadi antara aku dan perempuan itu dengan buku. Tiba-tiba kami saling berdiam diri meresapi pertemuan. Dan tak terasa jarum jam seakan berputar cepat. Panggilan di stasiun yang mengarah pada tujuan wanita tersebut telah datang.

"Aku pamit dulu ya, aku harus kembali ke kotaku. Dan terimakasih sudah meluangkan waktu untuk menemaniku" perempuan tersebut mulai berdiri mengangkat tas dan bersiap menuju gerbong kereta.

"Iya sama-sama. Terimaksih juga sudah berkunjung ke kota ini. Dan jangan lupa katakan terimaksih pada semesta yang telah mempertemukan kita lengkap dengan suguhan dramanya." Sedikit senyum tak luput ku lemparkan pada pandangan perempuan itu.

Perempuan itu sama sekali tak menjawab kata-kata terakhirku tadi. Tetapi ia memberikan sepotong senyumnya yang sudah mewakili semua. Hari ini semesta bekerja sangat mesra. Perempuan itu membalikan tubuh dan berjalan kedalam sambil melambaikan tangan tanda perpisahan.

Aku akhirnya harus kembali pulanh ke rumah beriring dengan rasa suka dan duka. Tentang kemesraan semesta di hari ini. Dan isiden isi dompetku yang mengering. Hanya doa yang aku tujukan pada semesta agar hingga pulang hal tak kuinginkan tadi tidak terjadi. Terimaksih semesta atas suguhannya.

- - - - -
Tuban, 24 Oktober 2019
Yogi Riyansyah

1 komentar: