Eurifaessa
Di pandang mentari pagi; Menendang mataku
Di paksa terbuka. Sebelum mengerlip; —
Aku masih asik! Nikmati alam; serasa malam.
Embun pagi yang melambai; Terberai begitu santun
Setekun udara. Yang berhimpun; —
membentuk debus angin; Berhembus di angan.
Kau tiba! Rongga muka mengecup dengan mesra
Meletup membentuk lingkar ujar; —
Cinta kita di hari tua; semoga tuba tak pernah tiba.
Mentari senja kini depan mata; masih adakah cinta?
Di tengah sinar temaram bergelut; —
Senda; yang tak ingin menjadi sendu.
Kita: sepasang rindu yang setia menyusuri waktu.
Bersama waktu terus melaju. Menuju; —
Haribaa'an hangat. Yang melekat seluruh badan.
Semoga itu selalu ku ingat;
tentangmu; tentang kisah kita.
---
Tuban,2019
Yogi Riyansyah
Kereennnn
BalasHapusAyo ajari aku
BalasHapusKemaren sampian bikin puisi hujan ya uabstrak banget gitu kok mbak
HapusMantullππ
BalasHapusTunggu Duryudana-nya, ya
Bukannya sampian to kak. Yang mau buat tentang Duryudana. π
Hapusasikk diksi dan penggunaan titi mangsanya. Kalau udah diguyur intonasi, pecah deh.
BalasHapusMakasih kakak
HapusGimana bisa nulis kya gitu ππ
BalasHapusNulis tinggal nulis kak. Apanya yang susah?? π
Hapus