Rabu, 30 Oktober 2019

Anak Pesisir

Bab 2
Aku dan Kawanku


Kemarin hasil tangkapan ikan di perahu Andre dan kawan-kawannya memang sangat melimpah, hasil itu membuat tubuh para nelayan muda itu mengalami kelelahan. Andre selaku juragan memutuskan untuk beristirahat sehari untuk memulihkan kembali tenaganya yang kemarin banyak terkuras. Kabar yang disampaikan Andre pada kawan-kawannya tentang libur berlayar dapat diterima dengan baik. Hitung-hitung menjadi waktu bersantai di rumah.

Waktu itu dimanfaatkan Andre merebahkan tubuhnya di atas ranjang lebih lama. Begitu pun dengan keempat kawannya juga memanfaatkan waktu libur berlayar sama seperti Andre.
***

Raja siang membakar membara di langit desa pesisir itu. Tiba-tiba Mbok Darmi salah seorang tetangga Andre melihat Arif yang sedang berjalan sendirian dengan tubuh sempoyongan dan mata memerah. Langkahnya terseok-seok. Mbok Darmi yang mengetahui Arif adalah salah satu anak buah Andre berlayar langsung mengintrogasinya.

"Habis dari mana dek Arif? Kok berjalan sendirian." Tanya Mbok Darmi saat berpapasan dengan Arif.

"Ndak habis dari mana-mana kok Mbok. Ini tadi habis jalan-jalan menghibur diri. Hari ini Andre kan sudah bilang kalau kegiatan melautnya libur dulu setelah kemarin perahu kami bongkar banyak ikan." Arif menata gaya bicaranya agar tidak terlihat bahwasannya tubuh sempoyongan, mata memerah dan langkah terseok-seok adalah efek dari minuman yang memabukan.

Andai saja Mbok Darmi mengetahui kalau Arif sedang dalam kondisi mabuk. Maka akan sangat berbahaya jika ia menyampaikan hal ini pada Andre yang semalam baru saja uangnya dipinjam dengan alasan untuk biaya anaknya masuk sekolah. Padahal uang tersebut sebagian digunakan Arif untuk mabuk-mabukan.

Mbok Darmi yang telah berusia senja itu setelah mendengar jawaban Arif yang nampak normal pun tidak lagi melanjutkan introgasinya. Arif pun kembali berjalan dengan langkah yang terlihat lebih pelan. Semua itu ia lakukan untuk mengatur kondisi tubuhnya agar terlihat tetap normal.

Setibanya di rumah. Arif yang masih dalam kondisi mabuk mendapati sebuah pertentangan dari istrinya. Bau minuman itu masih sangat melekat dari mulut Arif, apalagi saat ia berdekatan dengan istrinya. Kali ini jaraknya lebih dekat dan aromanya tercium. Berbeda saat dengan berpapasan dengan Mbok Darmi tadi yang berbicara menjaga jarak. Agar baunya tak teridentifikasi.

"Mas Arif...! Kamu ini mas... baru saja kemarin dapat uang lebih dari hasil tangkapan ikan, sekarang sudah mulai mabuk lagi. Bagaimana dengan biaya masuk sekolah anak kita mas? Padahal baru semalam kamu pinjam uang ke Andre juraganmu itu. Kalau saja Andre tahu bahwa uang yang Mas pinjam separuhnya adalah untuk mabuk-mabukan. Mungkin ia akan sangat marah mas." Terdengar sebuah pembicaraan yang cukup keras dari Sundari istri dari Arif yang merasa kesal dengan kelakuan suaminya.

"Ah tenang saja dik, mas pasti membayar hutang itu kok. Lagian Andre juga tidak bermasalah saat uangnya kupinjam." Arif mencoba memegang tangan istrinya yang terlihat sudah memasang emosi kekesalan.

"Bagaimana kalau Andre mengetahui hal ini mas? Bagaimana kalau dia meminta mas langsung mengembalikan uangnya sekarang? Lalu kemungkinan terburuk bagaimana kalau Andre memecat Mas Arif dari tempat kerja. Kamu ini kan lebih senior mas dibandingkan kawan-kawanmu dalam perahu itu." Nafas Sundari mulai terbata-bata dan melepaskan tangan Andre yang memegang tangannya.

"Dik, sudah aku bilang tenang dulu. Mas juga lelah. Lagian ini minuman selain untuk mabuk juga untuk jamu memulihkan stamina. Sayangnya mas tadi minum berlebihan, efeknya kini sampai mabuk." Sambil berbisik mesra, membujuk rayu istrinya agar ia menerima perbuatannya.

Namun Sundari tetap saja bersikukuh. Ia tak tahan menahan luapan air yang ingin keluar dari bola matanya. Akhirnya Sundari membalikan badan dari suami dan menuju pintu rumah. Arif yang dalam kondisi mabuk tak sempat mengejar istrinya yang perlahan berjalan keluar rumah dengan ekspresi mata semu merah menahan tangis.

Sundari berjalan keluar. Dan menuju rumah Andre selaku juragan suaminya. Di hari yang baru saja gelap itu juga, Sundari memutuskan berjalan sendirian menuju rumah Andre. Sedangkan suaminya membaringkan tubuh di atas ranjang untuk tidur.
***

Malam hari, mentari baru saja tenggelam di ufuk barat. Angin laut yang sepoi menyambut hangat kedatangan Sundari di rumah Andre.

Malam itu rumah Andre sedang terkunci karena penghuninya sedang keluar rumah. Kabar itu Sundari dapatkan dari tetangga depan rumah Andre yang melihat sore tadi Andre keluar rumah. Sundari yang masih memeluk wajah kesedihan hanya duduk berdiam diri kursi teras rumah Andre.

Tiba-tiba Mbok Darmi yang rumahnya di samping rumah Andre datang menghampiri Sundari yang termenung berdiam diri di teras rumah.

"Kau sedang apa nak, kenapa raut wajahmu bersedih?" Mbok Darmi yang baru datang langsung duduk di kursi sebelah sundari yang kosong.

"Tidak ada apa-apa Mbok, aku hanya ingin berbicara dengan Andre selaku juragan dari suamiku. Aku kesal dengan tingkahnya setelah sore tadi ia pulang dengan sempoyongan." Meskipun sedikir terpatah-patah Sundari akhirnya mencurahkan isi hatinya pada Mbok Darmi.

"Oalah... Iya nak, siang tadi Mbok juga lihat suamimu jalan sempoyongan di dekat tempat pelelangan ikan. Lalu mbok darmi tanyai, katanya lagi ingin menghibur diri. Berhubung tadi bicaranya terlihat lancar tak layaknya orang yang sedang mabuk, mbok biarkan saja ia berjalan."

"Iya mbok, Sore tadi Mas Arif pulang dengan kondisi mabuk. Berati siangnya ia habis minum di dekat tempat pelelangan ikan. Disana kan banyak warung berjualan toak untuk para nelayan. Lagian siang tadi ngapain Mas Arif kesana. Hari ini kan ia libur berlayar..."

Belum sempat selesai penjelasan Sundari, tiba-tiba air di pipinya mengucur. Padahal ia juga ingin menjelaskan sebuah hal, kalau semalam suaminya meminjam uang Andre separuhnya untuk mabuk-mabukan. Tetapi kata-kata itu dihentikan oleh luapan air mata yang tak mampu untuk ditahan.

"Sudahlah nak, sekarang hari sudah malam. Lagian Andre juga lagi tidak di rumah. Sebaiknya nak pulang saja kerumah. Soal keluhanmu tadi biar mbok sampaikan pada Andre kalau ia sudah pulang." Mbok Darmi mencoba menenangkan dan mendekap tubuh Sundari lalu mengelus elus pundaknya.

Sundari tetap termenung. Ia hanya berdiam diri dan terseguk-seguk karena menangis.

"Ayo nak, silakan pulang. Bersabarlah. Suamimu suatu saat pasti kan berbuah kok. Yakini saja. Dan doakan dia untuk berubah."

Bisikan lembut dari Mbok Darmi itu akhirnya dapat menenangkan Sundari. Perlahan Sundari mulai berdiri dari kursinya. Dan berpamitan pada Mbok Darmi untuk kembali pulang ke rumah.

Malam yang cerah. Bintang gumintang dan bulan purnama bertaburan di atap cakrawala. Malam ini adalah bulan purnama. Biasanya kalau bulan purnama begini ikan-ikan di laut pada bersembunyi. Andre selaku juragan memang sangat tepat memutuskan untuk libur berlayar. Sundari menitihkan langkah kembali pulang. Sembari berharap esok Mbok Darmi menyampaikan keluh kesahnya tadi pada Andre. Ia menginginkan perubahan untuk suaminya agar tidak selalu begitu.

Di tengah perjalanan Sundari juga mengingat sebuah hal untuk Lastri anaknya. Ia akan menunggu ibunya pulang. Jika malam begini dirinya belum juga pulang.

5 komentar:

  1. Tulisannya keren kak, pesan moralnya dapet👍

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Efek kurang difilter. Dan terlalu keburu tak unggah kak. Jadinya banyak yang typo.

      Maaf ya...

      Hapus
  3. Semangat yak untuk menulisnya..
    Tetep harus belajar untuk mengembangkan bakatmu darl..

    BalasHapus