Sabtu, 28 September 2019

Titik temu

Titik temu

Selamat sore. Senja menantikan senyum yang abu-abu agar lekas membiru di langit-langit hatiku. Jangan terlalu lama. Nanti semburat mentari hilang. Aku tak ingin penantian dengan girangnya tumbang. Ayo datanglah kemari.

senja waktu yang fana kau datang. Anganku terbang menyambut kehadiranmu.

Waktu malam kau masih asik bertamu di ruang hatiku. Seakan tanpa pengusik dengan bebasnya kecepatanmu melaju menerabas ruas dadaku. Asal kau tahu pertahananku terbelah oleh tingkahmu. Kau pencipta keramian di tengah kesunyian.

malam yang gelap buatku semakin terlelap. Kau bintang gumintangku malam ini.

Malam yang semakin tenggelam masih enggan bagi anganku meninggalkan bayang-bayang ini. Tapi mau bagaimana lagi. Sudah saatnya bunga-bunga bertabur menghiasi gemerlap matamu yang akan terpejam.

tidurlah, malam terlalu larut. Pagi masih terlalu dini. Masih ada harapan di hari esok.

Pagi yang buta dering ponselku terlalu cupu untuk kutunggu. Kuharap disana bersamaan dengan getar dari relungmu yang kau bungkus bersama pesan dari layar ponsel. Yang berisi residu rindu. Padahal ini awal bertemu. Entahlah rindu terlalu kuat untuk ditahan.

bangunlah kekasih. Burung bercikau merdu pagi ini. Lebih merdu lagi ponsel berbunyi ucapan darimu yang menambah sahdu.

Selamat pagi. Sinar dingin fajar menjalar menyapa rona pipiku. Pahamkan. Engkau adalah sosok sama yang dirindukan senja dan dirindukan fajar. Sampai raja siang datang membakar berkas cintamu masih saja mengembun di sukmaku. Sampai senja datang kembali takan berubah. Malam pun sama. Rasa masih enggan berbenah.

selamat merayak siklus rindu. Semoga sepasang matamu menjadi bait terindah untuk puisiku

-----
Tuban, 2019
Yogi Riyansyah

7 komentar: