Bab 2
Buku diary
Tak terasa detik jam berputar mengelilingi angka-angka begitu saja. Tak terasa sudah tiga halaman buku diari kesayanganku rimbun akan ocehan yang tumbuh dari benakku. Meski hari ini aku menulis kelanjutan ceritaku kemarin. Sebuah tulisan yang masih berantakan. Pukul tiga dini hari tiba. Aku harus kembali ke rumah sebelum para neyalan menyerbu pantai untuk mengais rupiah. Seditaknya masih ada waktu sekitar satu jam untuk di gunakan istirahat membaringkan diri. Menutup mata sejenak. Sebelum adzan subuh berkumandang.
Matahari pancarkan senyum setengah malu-malu. Embun nempel di rerumputan bergoyang indah. Angin sejuk berhembus mengelilingi mereka yang akan memulai kesibukan. Mata beliak dini mentatap petunjuk waktu yang menempel di dinding rumah. Pukul tujuh pagi. Ini adalah waktu untuk mengisi energi sebelum mengawali kehidupan hari ini.
Tidak jauh memang jarak rumah dari kampus. Tempat yang aku jadikan menimba ilmu. Melanjutkan pendidikan. Atau, menjadi tempat yang akan jadi batu loncatan untuk memberi imbuhan nama gelar di belakang nama asliku. Jadwalku dibangku kuliah di hari senin sampai kamis. Untuk waktu tepatnya pukul setengah delapan sampai jam satu siang. Setelah itu aku harus menuju kafe tempatku bekerja dan mengais uang jajan disana.
Buku diary
Tak terasa detik jam berputar mengelilingi angka-angka begitu saja. Tak terasa sudah tiga halaman buku diari kesayanganku rimbun akan ocehan yang tumbuh dari benakku. Meski hari ini aku menulis kelanjutan ceritaku kemarin. Sebuah tulisan yang masih berantakan. Pukul tiga dini hari tiba. Aku harus kembali ke rumah sebelum para neyalan menyerbu pantai untuk mengais rupiah. Seditaknya masih ada waktu sekitar satu jam untuk di gunakan istirahat membaringkan diri. Menutup mata sejenak. Sebelum adzan subuh berkumandang.
Matahari pancarkan senyum setengah malu-malu. Embun nempel di rerumputan bergoyang indah. Angin sejuk berhembus mengelilingi mereka yang akan memulai kesibukan. Mata beliak dini mentatap petunjuk waktu yang menempel di dinding rumah. Pukul tujuh pagi. Ini adalah waktu untuk mengisi energi sebelum mengawali kehidupan hari ini.
Tidak jauh memang jarak rumah dari kampus. Tempat yang aku jadikan menimba ilmu. Melanjutkan pendidikan. Atau, menjadi tempat yang akan jadi batu loncatan untuk memberi imbuhan nama gelar di belakang nama asliku. Jadwalku dibangku kuliah di hari senin sampai kamis. Untuk waktu tepatnya pukul setengah delapan sampai jam satu siang. Setelah itu aku harus menuju kafe tempatku bekerja dan mengais uang jajan disana.
***
Setiba di kampus, seperti biasanya. Tidak ada yang istimewah. Semuanya nampak biasa saja.
Tujuh jam berlalu melesat tak terasa. Dosen di kampus telah menyudahi pembelajaran hari ini. Masih ada waktu beristirahat sekitar satu jam sebelum aku harus menuju Kafe Angkringan tempat mencari sampingan uang jajan. Waktu istirahat ini biasanya aku manfaatkan mengisi perut di kantin kampus.
Aku harus pergi sekarang menuju Kafe Angkringan.
Ada kejanggalan yang aku sendiri tak bisa menebaknya. Kiranya apa. Aku sudah tiba di tempat kerjaku kini. Melayani pelanggan dan mengantarkannya adalah kewajibanku disini.
Tiba-tiba entah darimana datangnya. Seakan ada petuah yang mengingatkanku pada diary kesayanganku. Aku ingin menulis sesuatu. Yang tiba tiba dihujani inspirasi untuk melanjutkan tulisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar