Bab 1
Tempat Mimpiku Tergantung
Malam hening memecah lamun, tatapan kosong melayang layak layang layang yang ditinggal pengendalinya dan diikat pada ranting pohon. Harapan pengikatnya adalah, agar layang-layang tetap tenang, berdiri tegak dengan benang membentuk angka satu yang lurus keatas. Tanpa tahu bagaimana kabar angin selepas itu, apakah tetap tenang saat pengedalinya pergi atau malah angin mengombang ambingkan layang layang yang sedang terbang. Begitu pula kondisi lamunku yang terpaku pada satu objek. Objek yang masih tak kunjung menemu titik terang. Aku berambisi menangkup itu dipelukan tanganku yang saat ini masih terhitung tak cukup kuat menggenggam ambisi itu.
Semakin tenggelam dalam lamunan. Entah sampai di menit berapa tepatnya, angin nyiur menusuk. Lewati mata yang sedang lelah berkelahi dengan tikam seribu misteri dari langit. Semakin buncah. Kondisi kusut di atas kepala akan bayang-bayang peharapan. Bercampur nyiur angin, yang suaranya gaduh menambah kusut penghuni isi kepala. Jari jemariku tetap saja liar menyebar di atas kertas menggoreskan mimpi-mimpi yang aku sendiri menganggapnya terlalu tinggi. Dan mustahil bila itu akan jadi nyata. Setidaknya ada harapan yang aku gadang di masa depan.
Begitulah kondisiku malam ini yang membaringkan diri di bawah pohon cemara yang rindang di tepi pantai. Ditemani buku diary yang senantiasa kubawa bila di tempat ini. Dengan raut menyeringai. Dengan imajinasi berjalan-jalan menyusuri setapak cakrawala. Ditambah angin malam dingin menembus pori-pori. Seperti malam-malam sebelumnya aku selalu merasa senang. Selalu merasa tenang. Menatap tenangnya lau. Menatap debur ombak yang perlahan menepi nuju bibir pantai.
Mataku semakin kosong matap megahnya cakrawala beserta pikirku yang berjalan mengelilingi setapak luasnya. Lengkap sudah aku yang berada di tepi pantai, tempat yang paling aku sukai. Tenggelam dalam jurangnya palung laut dan melayang mengitari cakrawala yang malam ini indah berhias bintang gemitang yang melimpah. Nampak cerah. Nampak indah.
Layaknya pelaut ulung yang gigih berlayar mengarungi samdura. Menerabas debur ombak. Dengan bermodalkan layar perbekalan sederhana. Survival di tengah laut. Layaknya mimpiku yang terlalu mengada ada itu.
Aku sering mengunjungi tempat ini. Baik siang ataupun malam. Sekedar melepas penat yang membenak dari kehidupan dunia yang kujalani. Namun, aku lebih nyaman dengan waktu malam. Waktu dimana sering aku gunakan berdialog mesra dengan semesta dan mencurah rasa melalui perantara pena. Sebab waktu malam dengan suasana sepi, lebih tenang. Dibanding waktu siang yang banyak orang berlalu lalang. Para nelayan biasanya yang meramaikan tempat favoritku itu. Mereka melakukan transaksi hasil tangkapan ikan dengan pengepul ikan kala siang, setelah semalaman berlayar di tengah laut. Perahu-perahu nelayan itu berangkat berlayar selapas kumandang suara adzan subuh. Oleh karena itu saat aku berada di tempat ini, menjelang dini hari berakhir aku harus memindahkan tubuhku di rumah singgahku. Tidak ada rasa merugi meski semalam suntuk menghabiskan waktu yang semestinya aku pakai untuk rebah di rumah, setelah lelah berkerja. Tak jarang juga di tempat ini kadang mataku terkatup. Pikirku menuju alam taman bunga yang bertabur.
Di tempat ini seperti tiada duanya bagiku. Entah mengapa aku yang punya hobi menulis. Saat menulis di tempat lain, imajinasiku seakan kesulitan keluar dari kandangnya. Berbeda dengan tempat ini yang memberikan berjuta ketenangan jiwa. Dari ketenangan itulah lahir berjuta aksara indah. Meski definisi aksara indah itu masih aku katakan dalam hati saja. Kutakan masih _amatir_ saat di hadapan kawan hidupku. Salah satu cara agar aku selalu merendah. Terlalu bodoh jika kusandingkan diriku dengan penulis yang punya nama besar. Aku bukan penulis sungguhan. Hanya sesorang yang hobi menulis. Lagi pula untuk melangit seperti itu sejatinya aku tak ingin. Keangkuhan itu akan mengantarkan terperosot ke lembah suram. Terkadang tak di sadari oleh mereka yang sedang naik daun.
Tempat Mimpiku Tergantung
Malam hening memecah lamun, tatapan kosong melayang layak layang layang yang ditinggal pengendalinya dan diikat pada ranting pohon. Harapan pengikatnya adalah, agar layang-layang tetap tenang, berdiri tegak dengan benang membentuk angka satu yang lurus keatas. Tanpa tahu bagaimana kabar angin selepas itu, apakah tetap tenang saat pengedalinya pergi atau malah angin mengombang ambingkan layang layang yang sedang terbang. Begitu pula kondisi lamunku yang terpaku pada satu objek. Objek yang masih tak kunjung menemu titik terang. Aku berambisi menangkup itu dipelukan tanganku yang saat ini masih terhitung tak cukup kuat menggenggam ambisi itu.
Semakin tenggelam dalam lamunan. Entah sampai di menit berapa tepatnya, angin nyiur menusuk. Lewati mata yang sedang lelah berkelahi dengan tikam seribu misteri dari langit. Semakin buncah. Kondisi kusut di atas kepala akan bayang-bayang peharapan. Bercampur nyiur angin, yang suaranya gaduh menambah kusut penghuni isi kepala. Jari jemariku tetap saja liar menyebar di atas kertas menggoreskan mimpi-mimpi yang aku sendiri menganggapnya terlalu tinggi. Dan mustahil bila itu akan jadi nyata. Setidaknya ada harapan yang aku gadang di masa depan.
Begitulah kondisiku malam ini yang membaringkan diri di bawah pohon cemara yang rindang di tepi pantai. Ditemani buku diary yang senantiasa kubawa bila di tempat ini. Dengan raut menyeringai. Dengan imajinasi berjalan-jalan menyusuri setapak cakrawala. Ditambah angin malam dingin menembus pori-pori. Seperti malam-malam sebelumnya aku selalu merasa senang. Selalu merasa tenang. Menatap tenangnya lau. Menatap debur ombak yang perlahan menepi nuju bibir pantai.
Mataku semakin kosong matap megahnya cakrawala beserta pikirku yang berjalan mengelilingi setapak luasnya. Lengkap sudah aku yang berada di tepi pantai, tempat yang paling aku sukai. Tenggelam dalam jurangnya palung laut dan melayang mengitari cakrawala yang malam ini indah berhias bintang gemitang yang melimpah. Nampak cerah. Nampak indah.
Layaknya pelaut ulung yang gigih berlayar mengarungi samdura. Menerabas debur ombak. Dengan bermodalkan layar perbekalan sederhana. Survival di tengah laut. Layaknya mimpiku yang terlalu mengada ada itu.
Aku sering mengunjungi tempat ini. Baik siang ataupun malam. Sekedar melepas penat yang membenak dari kehidupan dunia yang kujalani. Namun, aku lebih nyaman dengan waktu malam. Waktu dimana sering aku gunakan berdialog mesra dengan semesta dan mencurah rasa melalui perantara pena. Sebab waktu malam dengan suasana sepi, lebih tenang. Dibanding waktu siang yang banyak orang berlalu lalang. Para nelayan biasanya yang meramaikan tempat favoritku itu. Mereka melakukan transaksi hasil tangkapan ikan dengan pengepul ikan kala siang, setelah semalaman berlayar di tengah laut. Perahu-perahu nelayan itu berangkat berlayar selapas kumandang suara adzan subuh. Oleh karena itu saat aku berada di tempat ini, menjelang dini hari berakhir aku harus memindahkan tubuhku di rumah singgahku. Tidak ada rasa merugi meski semalam suntuk menghabiskan waktu yang semestinya aku pakai untuk rebah di rumah, setelah lelah berkerja. Tak jarang juga di tempat ini kadang mataku terkatup. Pikirku menuju alam taman bunga yang bertabur.
Di tempat ini seperti tiada duanya bagiku. Entah mengapa aku yang punya hobi menulis. Saat menulis di tempat lain, imajinasiku seakan kesulitan keluar dari kandangnya. Berbeda dengan tempat ini yang memberikan berjuta ketenangan jiwa. Dari ketenangan itulah lahir berjuta aksara indah. Meski definisi aksara indah itu masih aku katakan dalam hati saja. Kutakan masih _amatir_ saat di hadapan kawan hidupku. Salah satu cara agar aku selalu merendah. Terlalu bodoh jika kusandingkan diriku dengan penulis yang punya nama besar. Aku bukan penulis sungguhan. Hanya sesorang yang hobi menulis. Lagi pula untuk melangit seperti itu sejatinya aku tak ingin. Keangkuhan itu akan mengantarkan terperosot ke lembah suram. Terkadang tak di sadari oleh mereka yang sedang naik daun.
Tempat yang membawa mood menulis wah ada kenangan khusus kayanya
BalasHapusDebur ombak yang memecah keheningan malam yg menemani 😄
BalasHapusIya kak sama selvi juga ada waktu-waktu tertentu untuk nyari tempat untuk nulis hihi. Tulisannya sangat mudah dipahami dan apik menjabarkan ide pokok. Keren. Selvi tunggu postingan selanjutnya ya kak hhi
BalasHapusTempat kenangan pastinya
BalasHapus👍
Adakalanya butuh menepi.. Keren kak..
BalasHapusKeren. Tapi msh ada typo;)
BalasHapusMaklum gugup kak, hehehe
Hapuspemulis sungguhan berawal dari amatir..
BalasHapussemangat kak.. diskripsinya bagus,
Makasih kak,
HapusKakak pecandu senja kah?
Jangan lama-lama di gantung, Kakak
BalasHapusSunyi, sepi dan sendiri 😢
BalasHapusKenangan yg tak terlupakan ya kakak
BalasHapusKeren kak lanjutkan :))
BalasHapusKeren mantap
BalasHapusSemangat kak
BalasHapusBagus...
BalasHapuswah cantik sekali pemilihan katanya :)
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusJadi ikut hanyut terbawa suasana
BalasHapusKeren kak!
lanjutkan gik....
BalasHapus