Kamis, 26 September 2019

Sepasang Fajar

Sepasang Fajar

I.
Di hari yang akan baru sepasang fajar berjalan mesra, memadu cinta dari berjuta rasa. Mereka berjalan jauh, hingga lupa waktu, senja sebentar lagi akan memisahkan sepasang fajar.

Di hari yang baru aku temukan seorang fajar berjalan sendirian, diantara lebatnya hutan, di tengah dinginnya malam, seorang fajar yang terpisah dari kekasihnya. yang semula sepasang jadi sepenggal,

mulanya entah sudah berapa batu tumpukan rasa sepasang fajar tersusun menjadi pondasi yang mendasari hubungan mereka, hingga menjadi sepasang fajar.

II.
Seorang fajar meratapi sinarnya yang mulai memudar, sembari bertanya mengapa sinar mesraku memudar,? mengapa aku terpisah dari kekasihku?

Sekian lama, lamban laun sepasang fajar akhirnya dipertemukan kembali, bukan bermuwajahah, melainkan prarasa yang mendasari pertemuan rasa sama dari sepasang fajar.

Sepasang fajar sebenarnya rindu bersama lagi. Apa boleh buat, waktu berpisah terlalu, lama. Senja yang ganas itu memisahkan bentang jauh mereka. Hingga tak dapat di pertemukan kembali.

III.
Di hari yang baru untuk kesekian kali, tangisan sang fajar makin menjadi. Wajar saja kekasihku tak mau kembali, sebab sinar kami sudah tak dingin lagi. Suhu tubuh kami sama-sama meninggi. Kemana rayap-rayap yang biasanya menikmatiku. Ternyata rayap-rayap itu juga ikut menangis, sebab siang kini juga ikut kejam, siang kini mulai memantulkan sinar-sinar bening tempus pandang dari ketinggian yang tak semestinya, mengalahkan gundukan rasa sepasang fajar yang dulu. Senja dan malam apa lagi? Mereka mencuri aroma sejuk dari bumi tempat sepasang fajar merayakan cinta dengan kekasihnya dulu.

sepasang fajar yang hidup di antara rimbun kejahatan hari hanya pasra dan menunggu, semoga waktu berjalan dengan lambat.

-----
Tuban, 26 September 2019
Yogi Riyansyah

8 komentar: