Minggu, 03 November 2019

Anak Pesisir

Bab 5
Renunganku

Malam terlalu larut. Sementara pagi masih terlalu dini untuk diakui. Arif menapaki jalanan desa setalah dari rumah Andre untuk pulang dengan rimbun tanda tanya. Ia khawatir istrinya masih ramah, ia khawatir Andre memecat dirinya dari perahu tempatnya berlayar. Yang lebih ditakuti lagi ia takut rumah tangga yang telah lama tertata jadi berantakan. Bagaimana dengan uang pinjaman kemarin itu? Tetapi pertanyaannya terakhir itu ia tak begitu mempermasalahkannya. "Ah tenang hari ini kan hasilnya lumayan. Lumayan juga lah untuk mengembalikan uang kemaren yang telah di buatnya mabuk." Begitulah kata dalam hati Arif yang dihantui dengan segala ketakutan.

Ia mengetuk pintu rumahnya. Tak ada suara jawaban dari dalam rumah dan rumahnya pun tak terkunci. Arif langsung membuka pintu dan masuk. Terlihat Sundari dan Anaknya sudah tertidur lelap. Arif tidur di samping istrinya sambil mengecup keningnya dan mengelus dahi istrinya sambil berkata dalam hati: semoga semuanya baik-baik saja untuk kedepannya.

Malam yang larut itu dimanfaatkan Arif memejamkan matanya sejenak meski sebentar lagi bila fajar tiba Andre akan datang untuk mengajaknya melaut kembali.
***

Burung pipit terdengar berkicau riang. Fajar mulai nampak jelas dari ufuk timur cakrawala. Arif sudah mulai terbangun dari tidurnya. Tetapi suara Andre tidak muncul untuk mengajaknya melaut.

"Mengapa Andre tidak datang kemari untuk ngajak melaut?" Tanya Arif pada Sundari yang hendak masak menyiapkan sarapan pagi.

"Aku tak tau Mas, dari tadi Andre belum datang kemari."

"Masak iya hari ini ia libur melaut? Padahal aku lagi butuh uang untuk membayar kelakuanku kemarin."

"Aku tak paham Mas. Mas Arif habis mimpi apa kok bilang gitu?"

"Ahh kamu bisa saja. Padahal kamu sendiri yang melaporkan ke Andre  kemaren waktu aku mabuk"

Arif berusaha mengajak bergurau istrinya di pagi yang cerah itu. Setelah dari kejadian kemarin istrinya membisu karena geram dengan tingkahnya.

"Oh iya mas, hari ini Lastri awal masuk sekolah smp. Bagaimana uangnya untuk daftar ulang? Kan kemarin jatah uang itu sebagian Mas Arif pakai untuk berfoya-foya." Sundari mendekati Arif yang kini sedang duduk di atas tempat tidurnya.

"Soal itu biar tutupi dulu dengan uang hasil kemarin, Dik. Kemarin Mas dapat bagian 450. Kan lumayan bisa dipakai untuk biaya masuk sekolah Lastri"

"Terus besoknya uang buat belanja mana mas? Tabungan kita kan sudah habis." Dahi Sundari mulai mengerut.

"Gampang soal itu. Soal besok dipikir besok. Lagian kalo kita tidak punya uang kan bisa hutang ke warung tetangga dulu. Bukannya kita juga sering berhutang dulu kalo belanja kesana." Senyum Arif terpampang. Senyum untuk menenangkan.

"Baiklah mas, aku manut saja. Ayo Mas Arif kamu tidak mau ikut mengantarkan Lastri hari awal masuk sekolah?"

"Tidak dik, Mas tunggu di rumah saja. Di sekolah itu kan yang banyak ibu" untuk mengantar anaknya. Mas malu dik bila datang kesana."

"Tapi Mas Arif kalau di rumah saja, jangan mengulangi tingkah kemarin ya!"

"Tidak dik, tenang saja. Sambil menunggu Andre, mungkin hari ini tidak melaut karena alat peralatan di perahunya yang rusak. Sebab kemarin hasil pembagiannya dikurangi 50 ribu perorangnya. Padahal hasil tangkapan ikan sama seperti dua hari yang lalu. Tetapi jika benar ada alat yang rusak kenapa tidak bilang ya semalam. Atau barangkali nanti datang kesini untuk mengajak kerja bakti membenahi alat yang rusak.

Sundari yang telah usai masak mempersiapkan sarapan. Akhirnya menunggu Lastri yang sedang mandi untuk diantarkan di hari pertama masuk sekolah. Dan untuk mengurusi pendaftarannya masuk sekolah.

Setelah Sundari dan anaknya pergi ke sekolah. Tinggallah Arif seorang diri di rumah. Arif menunggu kabar dari Andre selaku juragannya, namun tak nampak jua.

Bosan dengan aktifitas kosongnya akhirnya Arif memutuskan pergi ke rumah Andre untuk menanyai kabar melautnya hari ini. Keluarnya ia dari rumah dan menuju rumah Andre.

Setibanya di kediaman Andre. Rumahnya nampak kosong, seperti tak ada orang sama sekali. Ia menanyai tetangga Andre untuk mengetahui kemana keberadaan Andre sekarang. Jawaban dari tetangga mengatakan hari ini ia libur melaut untuk membenahi sedikit kendala di mesin domfeng perahunya.

Setelah mengetahui informasi itu. Akhirnya Arif pergi ke tempat parkir perahu yang kebetulan di sekitar pelelangan ikan. Di sana ia melihat Andre sedang membenahi mesin perahunya berduaan dengan Jarwo salah seorang kawan melautnya. Arif pun menghampiri yang menanyai sebuah hal "kau hari ini libur melaut, karena ada kendala di mesin ya. Kenapa tidak memberitahuku. Kalau tahu kan mungkin bisa kubantu."

"Ah tidak usah Rif, ini cuma masalah kecil kok, sebentar lagi juga rampung. Lagian hari ini. Hari pertama Lastri masuk sekolah. Kau tak ikut mendampingi di hari awal putrimu masuk sekolah?" Sambil memegangi obeng yang menempel di mesin domfengnya Andre menjawab pertanyaan Arif itu.

"Sebenarnya kamu mau aku bantu Ndre. Inikan juga termasuk kewajibanku sebagai anak buah. Selain ikut melaut juga ikut membenahi bila ada kerusakan di peruhu ini. Eh malah kamu meringankannya. Ya sudah kalo begitu aku mau bersantai dulu di selsar tempat pelelangan. Lagian aku juga tidak ikut istriku mempingi Lastri ke sekolah. Aku sungkan Ndre disana banyak ibu. Yang bapak-bapak kan pada sibuk di laut kalau pagi begini."

Andre yang masih sibuk dengan perkakas di tangannya hanya membiarkan Arif yang berjalan menuju selasar pelelangan ikan. Di tempat itu Arif hanya duduk seorang diri dan matanya memandang luasnya laut.
***

Sendiri terbenam dalam lamunan, tiba-tiba Gimo salah satu kawan lama Arif menghampiri.

"Kau sedang apa Rif, kok sendirian?" Tanya Gimo pada Arif yang baru saja duduk di sebelahnya.

"Iya Gim. Aku lagi menikmati udara sejuk laut."

"Kau tak melaut?"

"Libur Gim, Andre sedang berbenah dengan mesin di perahunya."

"Kau sedang free dong sekarang."

"Iya Gim."

Sejenak peecakapan diantara mereka terhenti. Arif dan gimo sama-sama menikmati udara sejuk laut itu.

Hening sejenak membuat Gimo ingin mengajak main Arif kesuatu tempat, yaitu berkunjung kerumahnya. Sudah lama Arif tak main kesana. Arif yang hari ini mempunyai waktu luang dengan senang hati menerima ajakan itu.

Tibalah Arif di rumah Gimo. Mereka berdua yang kebetulan sama-sama libur melaut duduk dengan bersantai sambil bercakap-cakap. Tak ada hidangan istimewa di meja tamu. Hanya ada 2 cangkir kopi yanh menemani obrolan mereka.

"Rif, aku dengar-dengar kau sekarang sudah berhenti dari minum-minuman ya.?" Pertanyaan dari Gimo itu muncul setelah obrolan diantara mereka berhenti sejenak.

"Iya Gim, aku sudah berhenti minum-minuman sejak bergabung dalam perahunya Andre."

"Ohh kalau gitu kau sudah berhenti dari mimunan. Tapi masak kamu pengen mabuk kan sebenarnya?"

"Mabuk dengan apa Gim kalau tidak dengan minuman. Masak iya aku pakai ganja atau sabu. Harganya kan mahal. Aku tak mampu membelinya."

"Kalau kau masih pengen mabuk masih bisa kok, selain dengan minuman. Bukan pakai ganja dan sejenisnya yang harganya mahal."

"Terus mau pakai apa Gim?"

"Pakai jamur Rif, sekarang kan lagi trendi orang mabuk pakai jamur. Itu jamur dari kotoran sapi."

"Ahh kamu Gim. Aneh-aneh saja. Kalau nanti aku pulang mabuk istriku marah."

"Tenang saja Rif, soal aromanya tak berbau kok. Berbeda dengan minuman. Jadi mana mungkin istrimu tahu. Kalau kau sedang mabuk, kalo mabuk dengan minuman kan bisa terkenalo dari baunya."

Sejenak. Setelah Gimo memberikan penawaran. Arif yang penasaran dengan rasa mabuknya jamur kotoran sapi itu akhirnya tergoda. Tembok pertahanan yang sedang ia susun untuk tidak lagi mabuk. Akhirnya runtuh.

Arif dan Gimo yang semula duduk mengobrol di ruang tamu pun berdiri. Ia melangkah ke belakang rumah gimo. Disana tempat Gimo menyimpan jamur kotoran sapi itu. Arif yang masih penasaran. Ingin menyudahi rasa penasarannya itu. Mereka saling bersua mengkonsumsi jamur kotaran sapi.

Jamur kotaran sapi itu kini sudah masuk kedalam tubuh Arif, ia hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk berreaksi. Setelah jamur itu sudah berreaksi Arif yang masih galau dengan keputusan mabuknya ini. Akhirnya merenungi. Sembari tertuntuk layaknya orang berduka.

Arif tak menyadari bahwa jamur kotoran sapi jika sudah berreaksi maka itu tergantung tindakan awal pengguna. Dan Arif yang mengawali euforia mabuknya dengan bersedih dan merenung. Maka di sepanjang hari itu juga dirinya akan terlihat layaknya orang yang sedang merenungi nasib.

Senja mulai menyapa. Tak terasa mentari berpendar kala itu layaknya sebuah detik pada jarum jam yang begitu cepat. Arif yang sudah larut dalamnya mabuk jamur kotoran sapi masih saja menetap di rumah Gimo. Dirinya belum juga pulang lantaran belum sadarkan diri. Tentang istri dan anaknya seakan sejenak ia seakan mengesampingkan, yang di pikirkan hanya bagaimana mengembalikan uang pada Andre, bagaimana istrinya tidak marah jika ia dalam kondisi mabuk. Tetapi tidak ada sejengkal pikirannya untuk pulang kembali rumah.

Malam itu Arif Larut dalam lamunan yang terbilang buta arah. Entah sampaibkapan efek mabuk jamur kotoran sapi ini berakhir. Ia sendiri tak mengetahuinya. [.]

2 komentar: