Jumat, 01 November 2019

Anak Pesisir

Bab 4
Izinkan Aku Memecahkan Masalah.


Fajar yang indah menjular, embun pagi hari dengan segala kesejukannya bermunculan. Burung pipit pun bernyayi riang. Pagi hari itu Andre terbangun dari tidurnya. Seperti aktifitas biasanya-Andre selaku juragan harus menghampiri rumah kawan-kawan untuk mengajaknya melaut. Biasanya sebelum ia pergi meninggalkan rumah. Tak lupa ia menyiapakan sarapan pagi untuk adiknya, juga untuk bekalnya selama ia berada di laut.

Semua kawan-kawan Andre pagi itu sangat bersemangat untuk pergi melaut kembali. Ke empat-empatnya hadir semua. Begitu juga dengan Arif, yang pagi itu ikut melaut kembali.

Andre selaku juragan di perahu itu. Mencoba untuk tidak menanyai Arif terlebih dulu. Ia harus berlaku profesional dalam bekerja, hal ini karena dirinya tidak ingin terjadinya perpecahan diantara orang satu bahtera itu.

Terlihat gelombang laut juga kembali tenang saat Andre dan kawannya melaut. Kondisi ini diharapkan hasil tangkapan ikan kembali melimpah seperti kemarin saat Andre melaut terakhir kali.

Jala dari perahu Andre pun dilemparkan ke laut. Perahu pun berputar mengiring ikan-ikan agar masuk ke dalam perangkap jalannya. Warna air laut yang jernih membuat  gerombolan ikan terlihat dari atas. Wajah riang kembali terpampang dari mereka. Saat melihat ikan-ikan yang masuk ke dalam perangkap jalanya begitu banyak. Hari ini dewi fortuna kembali berpihak pada perahu Andre. Hasil tangkapannya kembali melimpah.

Wajah riang kembali terpampang dari penghuni perahu Andre. Mereka mendarat dengan penuh semangat. Seperti biasa para pembali ikan yang sebagian besar juga pengepul menyambut dengan senang hati.

Semburat senja yang indah, angin nyiur serta bisik suara ombak di tepi pantai mengiringi kebahagiaan Andre dan kawan-kawanya. Uang yang di bawa pulang hasil tangkapan ikan juga tergolong lumayan banyak.

Sepanjang hari selama ia melaut dan mendarat, tak aja pembicaraan khusus antara Andre dengan Arif. Tetapi, Andre akan memilih waktu malam untuk membicarakan pesan Sundari kemarin. Saat nanti kawan-kawannya datang ke rumahnya untuk membagikan uang hasil tangakapan ikan hari ini.
***

Malam pun tiba. Rumah Andre masih sepi. Ia hanya berdua dengan adiknya. Tetapi keheningan itu tak bertahan lama. Sepuluh menit berselang ada seseorang yang mengetok pintu rumahnya. Terdengar itu suara Arif yang datang lebih awal dari yang lainnya.

"Oh iya Arif silakan masuk!." Andre mempersilakan Arif untuk masuk ke dalam rumahnya.

Tanpa menjawab sapaan Andre. Arif langsung duduk di ruang tamu rumah Andre.  Malam itu Arif datang seorang diri. Andre yang ingin mengajaknya bercakap empat mata. Memanfaat momen ketika dirinya hanya berdua dengan Arif.

"Rif, nanti malam setelah pembagian hasil penjualan ikan, jangan keburu pulang dulu ya! Ada suatu hal yang ingin aku sampaikan"

"Hal apa Ndre? Sangat penting kah itu?" Arif mulai bergumam

"Ya gak terlalu penting juga sih Rif. Hehe..." Sedikit gurauan Andre berikan agar Arif tak tegang.

"Ya kamu bisa aja ndre, iya nanti setelah pembagian uang, aku tinggal sejenak disini."

"Oke, baiklah." Sambil memberikan senyuman pada Arif yang tadi sempat bergumam.

Percakapam singkat itu berakhir sudah. Setelah kawan-kawan Andre yang lain mulai berdatangan.

Andre yang seperti biasa membuka sesi bincang dalam perkumpulan itu menampilkan wajah gembira. Uang yang akan di bagikan kini ada di genggamannya.

"Baik kawan-kawanku semua, hasil dari penjualan bisa dikata cukup memuaskan." Suara Andre mulai membuka dalam perkumpulan itu. Raut senyum yang beriring 4 lembar uang berwarna merah serta satu lembar berwarna biru di setiap sekat tumpukan uang itu.

Tak ada satu balasan atau protes apapun dari mereka meski selisih 50rb dari hasil kemarin. Tetapi mereka menerima dengan lapang dada. Mungkin selisih 50rb itu untuk perawatan perahu Andre. Karena bila ada kerusakan yang di perahu, Andre lah selaku pemilik perahu yang akan bertanggung jawab atas biaya kerusakan.

Usai membagikan uang, Andre selaku tuan rumah pun memberikan suguhan berupa makan malam untuk kawan-kawannya. Dan setelah makan malam kawan-kawan pun pamit untuk pulang. Tapi tidak dengan Arif yang memang sudah janjian dengan dengan Andre untuk berbincang empat mata.

Malam itu tiba waktu yang ditunggu Andre tiba. Saat ini ia hanya berdua dengan Arif. Dan dimulailah obrolan empat mata itu.

"Rif, dengar-dengar kabar, katanya kemarin kamu habis mbak. Sampai ketika kamu pulang istrimu Sundari sempat pergi keluar rumah sejenak." Suara Andre seperti tikaman belati yang menuju telinga Arif.

Tetapi sebelumnya untuk memecah ketegangan Andre menyuguhkan 1 bungkus rokok untuk dipakai berdua. Batang rokok yang di suguhkan kini pun sudah menyala di mulut Arif untuk dihisap. Begitupun dengan Andre. Mereka berdua lebih rileks dengan sebatang rokoknya masing-masing.

"Ahh... Iya Ndre. Kemarin aku jalan-jalan ketempat pelelangan ikan sendirian. Karena hari itu kita libur melaut. Aku di sana tak punya aktifitas lain. Lalu aku lihat warung toak itu ramai. Dan akhirnya aku mampir sejenak untuk mecicipi minuman setelah kian lama tak mengkonsumsinya." Batang rokok yang disuguhkan Andre masih menyala di mulut Arif hisap untuk mengurangi ketegangannya.

"Baiklah Rif, sial mabuk seperti itu memanglah itu hakmu. Sebenarnya aku juga tidak berhak untuk ikut campur. Tetapi berhubung ini sebuah amanah dari istrimu yang disampaikan Mbok Darmi, akhirnya aku mempertanyakan padamu." Wajah Andre terlihat masih tetap tenang. Karena ia tak ingin membuat patner kerjanya itu terbawa emosi.

"Iya Ndre. Kemarin aku memang khilaf. Kebiasaanku dulu terulang kembali. Padahal setelah aku bergabung ikut perahumu aku harap ada perubahan yang terjadi pada diri ini. Kau tau sendiri para juragan pemilik perahu di desa ini selain dirimu setelah mereka melaut dan membongkar hasil tangkapan tradisinya adalah mengajak anak buahnya untuk minum-minum lebih dulu sebelum pulang." Wajah Lesu mulai terpampang dari raut wajah Arif. Ia pun terus menerus menghisap rokoknya.

"Aduh Rif, lantas bagaimana dengan biaya sekolah Lastri anakmu itu. Kau kemarin kan pinjam uang katamu untuk biasa sekolah Lastri." Senyum dari wajah Andre kini mulai datar.

"Aku meminta maaf Ndre atas kejadian kemarin itu. Nanti sepulangnya dari sini aku akan meminta maaf pada Sundari. Bahwa uang yang aku pinjam sebagiannya untuk mabuk." Arif terlihat hanya berbicara lesu dan terus terusan menghisap batang rokoknya yang akan sampai pada ujungnya.

"Selaku juragan. Aku sangat menyayangkan kejadian itu. Sebenarnya aku tak ingin mengusiknya Rif. Begini saja apa perjanjianmu bila kau mengulanginya lagi? Kau akan mengembalikan uang itu secepatnya. Atau, keluar dari perahu ini? " Pembicaran Andre yang mulai lebih serius itu berimbang dengan raut wajahnya datar.

"Ahh... Kalau soal keluar kerja dari perahu ini sebaiknya jangan Ndre. Ku mohon... Sebab dulu Sundari cukup senang setelah aku bergabung bersamamu ia berharap aku berhenti mabuk-mabukan. Ia mengetahui dirimu adalah berbeda dengan orang-orang di desa pada umumnya. Dan hal itu sempay berhasil. Aku berhasil berhenti dari kecanduan mabuk, meski kemarin sempat terulang kembali. Sebaiknya perjanjiannya kalo aku kembali mabuk  uang yang aku pinjam dulu itu akan aku kembalikan saat itu juga. Saat kamu mengetahui aku dalam kondisi mabuk." Kepala Arif semakin tertunduk. Wajahnya juga semakin lesu. Rokok yang di pegangnya juga sudah sampai ujung. Ia pun mematikan rokoknya di asbak hadapannya.

"Aku rasa perjanjian itu cukup ringan Rif. Aku tunggu kamu sampai mengembalikan uang itu. Sebelumnya kamu jangan mabuk dulu, jika tidak ingin uangnya aku tagih saatbitu juga. Lantas bagaimana jika uang itu sudah kembali dan kamu masih mabuk lagi?" Andre yang tadi memegang rokok juga telah mamatikannya di lanjut sebuah pertanyaan untuk Arif agar ia benar-benar berubah.

Sejenak Arif pun menghela nafas. "Kalo soal itu lihat saja dulu setelah ini Ndre. Kalo dekat ini sebelum aku mengembalikan uangmu itu aku tidak mabuk. Mungkin kedepannya peluang untuk aku tidak mabuk masih terbuka. Saat aku sudah lupa bagimana rasanya mabuk." Arif kembali menghela nafas. Terlihat ia mulai menegang setalah rokok di tangannya telah dimatikan.

"Oke kita lihat kedepannya. Tapi, kalau kau masih mabuk kembali kau siap untuk keluar dari sini." Andre juga menghela nafasnya. Emosinya kini terbakar.

"Iya Ndre. Kalau itu permintaanmu baiklah. Aku mencoba menurutinya." Kembali tangan Arif memegang rokok untuk dinyalakan. Hal ini ia lakukan agar ketegangannya mencair.

"Kalau gitu baiklah. Terimakasih kau sudah bersedia untuk kebaikan kita selama melaut bersama-sama." Emosi Andre yang tadi sempat terbakar kini meleleh kembali, ia pun melemparkan senyum lagi kepada Arif.

"Tapi kuharap ada toleransi lagi Ndre nantinya. Aku takut mengulanginya lagi. Lagian ikut bergabung di perahumu bersama orang-orang yang tidak suka mabuk itu menyenangkan. Hasil pembagian uangnya pun lebih banyak. Dari pada juragan yang lainnya saat mereka mengaja anak buah perahunya mabuk kan memakai uang dari hasil penjualan ikan. Tentunya itu sangat mengurangi penghasilan mereka. Sundari juga cukup senang aku bergabung bersamamu. Makanya ia sampai melaporkan padamu saat aku mabuk kemarin." Ketakutan itu semakin tak tertahankan. Arif hanya pasrah sambil terus-terusan menghisap rokoknya.

"Itu dipikir bersama-sama nantinya Rif, asalkan kamu mau berubah pasti akan ada jalan kok. Ya sudah sekarang sudah larut malam. Istri dan anakmu menanti kepulanganmu. Jangan samakan denganku yang masih bujang ini."

"Ya sudah kalau begitu Ndre. Aku mau pamit pulang dulu. Makasih atas saran-sarannya."

Jam dinding di rumah Andre sudah menunjukan pukul 12 malam. Arif berdiri dari tempat duduknya dan berpamitan dengan Andre untuk pulang. Andre hanya mengiyakan saja.

Malam itu Arif pamit pergi dari rumah Andre. Harapan Andre setelah Arif pulang akan ada perubahan pada dirinya. Meskipun Sundari Kemarin tak sempat memberitahukan pada Mbok Darmi soal meminjam uangnya, Andre yang cerdas itu bisa menebak apa maksud Sundari kemarin menyampaikan hal itu pada Sundari. [.]

2 komentar:

  1. Semangat!

    Ada beberapa kalimat ambigu, seperti 'Batang rokok yang di suguhkan kini pun sudah menyala mulut Arif untuk dihisap' tetapi masih tertangkap maksudnya.

    BalasHapus